Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Jeritan di Tanah Kubangan Air Mata”
Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina: "Jeritan di Tanah Kubangan Air Mata". Sumber gambar: © Starcom Indonesia, Book Cover Collection No. 30_20122025
/1/
Masuklah Perahan
Puisi: Leni Marlina
_
Sebelum kami menamai apa pun,
bumi sudah lebih dulu terluka.
Retaknya kecil,
nyaris sopan,
seperti tidak ingin merepotkan.
Kami datang
bukan sebagai saksi terlatih,
hanya tubuh belajar menunduk
agar suara rendah
tak terinjak.
Angin tidak memberi pendapat.
hanya lewat,
membawa bau tanah basah, keringat,
juga sisa doa.
Di sini,
kata bukan alat menaklukkan.
Ia bejana rapuh menampung
siapapuncterlalu lama disisihkan.
Kami menulis
dengan tangan gemetar,
sebab semua baris
menuntut tanggung jawab:
siapa diselamatkan,
siapa kembali dilupakan.
Jika pembuka ini terasa sunyi,
itulah suara
yang belum diberi giliran.
Jika terasa berat,
itulah hidup
yang menolak diringankan.
Masuklah perlahan.
Puisi ini bukan undangan,
melainkan pengingat:
mampu mendengar
lebih berani menyuarakan kemanusiaan.
–
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/3/
Jeritan di Tanah Kubangan Air Mata
Puisi: Leni Marlina
–
Tanah ini tak lagi memanggil.
Ia menyimpan suaranya
di bawah lapisan kerja dan janji.
Pagi datang dengan bau besi lembap,
keringat tertinggal di pori-pori bumi,
belum sempat naik
menjadi doa.
Api bekerja pelan, tak sampai pulang.
Ia mengunyah batu,
mengubahnya menjadi cahaya, tak menghangatkan.
Asap berjalan seperti usia,
menetap di tenggorokan hari.
Di tanah kubangan air mata,
malam berdenyut dari telapak tangan.
Layar kecil memantulkan wajah yang belajar bertahan tanpa banyak kata.
Waktu rebah di kasur sempit,
menghitung nama-nama
yang terpinggirkan.
Dinding menyimpan suhu tubuh,
mengelupas perlahan,
mencatat tanpa tinta
berapa kali ngeri dan sepi
ditukar dengan kebutuhan.
Sungai menelan dirinya sendiri.
Ia membawa rasa logam hingga ke laut,
yang mulai lupa bagaimana asin seharusnya.
Ikan berenang dengan ingatan kabur,
sementara dapur menunggu dengan wajan kosong dan dingin.
Di tanah kubangan air mata,
hutan membungkuk seperti punggung tua.
Akar-akar memungut kisah
yang tertimbun ketakutan.
Anak-anak tumbuh lebih cepat dari pertanyaan mereka.
Usia terjebak dan merana di antara janji dan jeda.
Malam tidak menakut-nakuti.
Ia hanya menunjukkan cara diam
agar hari esok masih mungkin.
Tanah kubangan air mata ini,
mereka namai masa depan.
Bangunan berdiri rapi,
kaca memantulkan langit,
trotoar tersusun tenang.
Tapi lihatlah di sela-selanya,
kelelahan tinggal
tanpa alamat.
Udara terasa baru,
namun aroma lama:
sejarah mengulang diri
dengan pakaian berbeda.
Penyakit datang
tanpa suara langkah,
menetap di darah, di rahim,
di tubuh yang tak disebut
dalam perencanaan.
Mereka membaca angka
dengan tangan besi.
Angka berjalan lurus.
Ia tak mencium bau luka,
tak meraba dingin tulang,
tak mendengar.
Puisi ini tak menuntut.
Ia hanya berdiri
sebagai indera tambahan:
untuk mendengar tanah
yang masih bernapas,
untuk melihat tubuh dan akal: bertahan dan mengingat.
Sejarah bergerak lambat,
namun setia.
Ia menyimpan rapi
nama-nama
yang pernah dijadikan ongkos
atas nama masa depan.
–
Padang, Sumatera Barat, NKRI, 2025
/3/
Kewarasan yang Belum Menyerah
Puisi: Leni Marlina
_
Kota ini mengedipkan mata
seperti orang tua lelah menjelaskan kebenaran.
Trotoar menelan desah langkah,
menyimpan bekas sepatu
sebagai arsip rahasia.
Lampu lalu lintas menggantungkan warna
dengan keyakinan menipis.
Merah, kuning, hijau:
semua terasa seragam
di hadapan tergesa.
Di balik baliho kemajuan,
pohon-pohon berdiri
seperti tulang punggung
yang disangga paksa.
Akar diputus perlahan,
agar tanah tak sempat berteriak,
agar roboh tampak alamiah
di grafik presentasi.
Tembok menghafal rahasia retak.
Ia menahan runtuh
dengan lapisan cat
dan senyum palsu.
Pertanyaan dilipat
seperti kain kotor,
disembunyikan
di lemari ketertiban.
Belas kasih duduk kaku
di ruang berpendingin,
menghafal waktu tampil
di hadapan kamera.
Kami berjalan perlahan.
Mata tetap terbuka.
Kewarasan kami
bukan kilat,
melainkan bara
yang menolak bungkam.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/4/
Tak Meminta Matahari
Puisi: Leni Marlina
_
Kami berdoa
seperti gunung bernapas
di bawah kabut.
Tak meminta matahari,
hanya setia
pada dingin yang menguji.
Angin menjadi saksi paling jujur.
Ia menyentuh kulit,
mengangkat debu dosa,
lalu pergi tanpa catatan.
Nama Tuhan kami sebut
seperti sungai menyebut laut: berulang,
tanpa kepastian tiba,
tanpa kecewa.
Langit merendah.
Bintang-bintang mengendap
seperti pikiran bening
di dasar dada.
Kami sujud
seperti tanah menerima hujan: terbuka,
tak menimbang,
tak menawar.
Di sana, iman tumbuh
sebagai kesediaan
tetap lembut di dunia
yang gemar menggenggam kekerasan.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/5/
Catatan dari Tanah Basah
Puisi: Leni Marlina
_
Tanah bernapas
melalui retakan kecil.
Ia menyimpan jeritan
dalam lumpur sunyi.
Akar-akar pernah menulis doa di tubuh bumi.
Mereka mengikat air,
menyulam sabar,
menjaga ingatan musim.
Kini doa itu dicabut
bersama dagingnya.
Bukit membungkuk
seperti punggung renta.
Ia memikul papan nama proyek dingin
dan tak mau mendengar.
Kami menyebut banjir
sebagai kejadian.
Air menyebutnya pengembalian.
Sungai berjalan pelan,
menggendong sisa dapur,
air mata, janji yang bocor.
Ia tak marah, hanya patuh
pada ruang kosong.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/6/
Luka Tetap Terlihat
Puisi: Leni Marlina
_
Bahasa punya kulit.
Ia bisa memar
oleh sentuhan serakah.
Kami menulis
seperti menyingkap jendela
rumah tua.
Debu beterbangan,
bau ingatan naik tanpa izin.
Kata-kata berdiri telanjang,
saling menatap,
tak semuanya berani berbaris.
Kalimat kami biarkan pincang.
Luka tetap terlihat.
Keindahan tak kami poles
hingga lupa asalnya.
Puisi menolak lampu sorot.
Ia memilih cahaya sore,
jatuh miring,
jujur pada bayang.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/7/
Di Bawah Atap Berbau Keringat
Puisi: Leni Marlina
_
Kami hidup
di sela antrean panjang,
di bawah atap rendah
berbau keringat
dan harap basi.
Kursi ruang tunggu
menjadi saksi paling sabar.
Ia menampung tubuh letih,
menyimpan cerita
tanpa mikrofon.
Pintu kantor mendengar
ketukan gemetar.
Ia membuka diri
tanpa ingatan,
menutup hati
tanpa rasa bersalah.
Kami belajar tertib
tanpa membatu.
Kami menunggu
tanpa menutup mata.
Kemanusiaan bertahan
di tempat rendah,
di suara pelan
yang enggan pergi.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/8/
Suara yang Manusiawi
Puisi: Leni Marlina
_
Kami berbicara dari tanah
yang menyimpan panas kaki dan dingin malam.
Dinding rumah menelan batuk anak-anak,
panci kosong berdenting lirih,
doa menguap di sela nasi.
Jalanan menghafal berat tubuh
lebih teliti
daripada lembar statistik.
Kami meminta luka
tetap bernama,
tak dikaburkan angka,
tak diperkecil istilah.
Pohon mengenali telapak.
Tanah mengingat jatuh.
Malam membuka ruang
bagi langkah tertinggal.
Suara ini pelan, namun ia hidup.
Ia menolak manusia
menjadi angka,
menuntut aksi manusiawi mendengarkan nurani.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/9/
Kehilangan dan Kenangan
Puisi: Leni Marlina
_
Kami menyimpan kehilangan
seperti lembah menyimpan kabut: diam, dingin, setia.
Waktu duduk di batu,
mengamati kami tanpa saran.
Kenangan tumbuh
seperti lumut di dinding basah.
Dikerok terlalu bersih,
ia kembali lebih pekat.
Kami menemani duka
seperti malam menemani bumi: tanpa janji pagi,
tanpa ancaman gelap.
Diam bernapas.
Makna disusun ulang
di ruang sunyi agar hidup
tetap layak dipercaya.
_
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—
/10/
Kewarasan yang Bertahan
Puisi: Leni Marlina
_
Kami tidak sedang mencari kesimpulan.
Hidup terlalu luas
untuk diringkas
menjadi satu kalimat menang.
Kami berdiri
di antara suara yang patah,
di tanah yang masih basah
oleh ingatan.
Di sana, kami belajar
bahwa bertahan
bukan berarti kebal.
Kami menyentuh luka
tanpa tergesa menyembuhkan.
Menamai secukupnya,
agar sakit
tetap manusiawi.
Alam berbicara tanpa mikrofon.
Doa berjalan
tanpa daftar tuntutan.
Kota menua
tanpa sempat jujur.
Dan kami masih belajar
mendengar
tanpa ingin menguasai.
Jika kewarasan ini bertahan,
ia bukan karena kuat,
melainkan karena
tidak mematikan empati
demi merasa aman.
Kami memilih tetap sadar
di dunia yang tergoda
untuk lupa.
Tetap lembut
di tengah bahasa keras.
Tetap manusia
saat segalanya ingin disederhanakan.
Puisi ini tidak meminta diingat.
Cukup dipakai sebagai cara berjalan:
pelan,
bernapas,
dan tidak meninggalkan
yang tertinggal,
tidak mendiamkan mereka
yang kehilangan suara.
–
Padang, Sumbar, NKRI, 2025
—

Tentang Penyair: Leni Marlina
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan berdomisili di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Karya-karya terbarunya meliputi buku kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024–2025), yang memadukan pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan teks sastra dan jurnalistik.
Atas dedikasinya di bidang literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), ACC International Literary Prize 2025 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre, serta penghargaan dari komunitas sastra internasional “The Rhythm of Vietnam” (2025).
Pada tahun 2025, Leni ditunjuk sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) sekaligus ASEAN Director for ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia juga dipercaya sebagai National Director (Indonesia) oleh Capital Writers International Foundation untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari–Februari 2026 di India.
(Informasi: www.panoramafestival.org)