Puisi Masihkah
yusuf achmad
Saat ditanya pentingkah, jawabnya aku kelompok terbuang.
Tak seperti si ekonomi, si politik, si atletik dan teman-temanya.
Mereka gerombolan boneka bagi kekuasaan. Ketika budaya
hilang baju bermarwah, gerombolan itu hilang akalnya.
Mereka berjalan, berbicara bahkan makan menutup wajah.
Mulut mereka menganga tak hirau sampah, lalat bernanah
singgah. Ah! Tembus ke dalam makanan mereka seolah lezat
dan berkelas. Bahkan super busuk adalah karma aroma baunya.
Menghilangkan baju kebesaran kepantasan Nusantara. Puisi
tak hirau seperti tak hirau mereka padanya. Pikirnya, mata dan
rasa tak berbaju apalagi berkepala. Mereka seolah tak malu
mengedepankan harta melulu.
Lalu puisi berjalan terus, meski tidak banyak pengiring
menemani. Pengiring tetap itu-itu saja. Di antara mereka
pengiring tua, sedikit sekali yang masih belia. Meski begitu puisi
tetap beraksi, beratraksi, berorasi, berpuisi.
Mempuisikan diri sendiri di antara keramaian semakin sepi. Puisi
senior atau tua bertanya masihkah. Masihkah ada yang peduli
pada puisi? Masihkah ada yang mau mendengar suara hati?
Masihkah ada yang mau melihat dunia dengan imaji?
Masihkah ada yang mau merasakan hidup dengan makna?
Surabaya Juni 2023