April 18, 2026

Rapat Perdana FSBSI Tanimbar: Langkah Awal Membela Hak Buruh, Bangun Gerakan dari Hati

 Oleh : joko

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 4 Juni 2025 — Matahari mulai terbenam, malam bersambut di Kampung Babar Atas, Saumlaki, namun semangat puluhan calon pengurus Forum Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FSBSI) Kabupaten Kepulauan Tanimbar justru memuncak.

Bertempat di halaman usaha air galon Aidol, tepat di depan STM Saumlaki, mereka berkumpul dalam rapat perdana yang digelar sejak pukul 18.00 WIT hingga malam hari, menyatukan harapan dan gagasan demi perjuangan nasib buruh di wilayah kepulauan yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota.

Dipandu langsung oleh Koordinator FSBSI Tanimbar, Paulus Atakebele, rapat ini disambut sebagai tonggak awal membangun kekuatan buruh di Tanimbar.

Dalam pembukaannya, Paulus menekankan bahwa pertemuan rutin dan kerja bersama adalah fondasi yang tidak boleh diabaikan.

“Tanpa rapat perdana ini, kita tidak bisa melangkah. Tapi begitu kita mulai terlihat bergerak, saya yakin, orang-orang akan mulai berdatangan dan bergabung,” ujarnya optimis.

Dari Semangat Kolektif Menuju Struktur Kuat

Rapat yang bersifat terbuka ini menjadi ajang curah pendapat dari para tokoh inisiator dan calon pengurus.

Hendrik Refwalu, selaku Majelis Koordinator, menggarisbawahi bahwa legitimasi gerakan ini hanya bisa dicapai jika dibangun atas dasar kemauan dan kerja keras.

“Ini bukan hanya soal organisasi, tapi tentang masa depan buruh dan kemajuan daerah,” tegasnya.

Johanis Kopong, Wakil Majelis Koordinator, menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta.

Ia mengajak semua yang hadir untuk bekerja dengan hati yang tulus dan ikhlas demi membela hak-hak buruh yang selama ini masih banyak terabaikan.

Gagasan strategis pun mengemuka dari Yan Watumlawar, salah satu koordinator, yang menekankan pentingnya struktur dan pembagian peran.

“Setiap kita harus memahami mandat, siapa memberi dan siapa menerima. Agar saat kita action, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Dan tentu saja, kita butuh anggaran operasional yang disesuaikan per bidang,” jelasnya.

Menata Langkah, Membangun Legalitas

Paulus Atakebele kembali menegaskan bahwa pembiayaan awal akan digerakkan melalui iuran anggota, dan langkah berikutnya adalah mengagendakan pertemuan resmi dengan Bupati Kepulauan Tanimbar guna memperkuat legalitas organisasi serta pembahasan potensi dukungan anggaran daerah.

“Kita juga akan susun syarat-syarat untuk mendapatkan mandat dari pengurus provinsi. Ini penting agar kita tidak berjalan tanpa payung hukum,” ucapnya.

Dukungan juga mengalir dari Hendrik Batlajery, yang menyoroti pentingnya peran FSBSI dalam koordinasi dengan unsur Forkopimda. Ia mendorong agar rapat segera ditindaklanjuti dengan audiensi resmi bersama Pemda.

Pengalaman Buruh Menjadi Inspirasi Perjuangan

Rapat ini turut menjadi ruang berbagi pengalaman. Vinsensia Lepan Tuan, perempuan buruh asal Tanimbar yang pernah bekerja di luar daerah, mengaku bahwa keberadaan serikat buruh sangat membantunya.

“Di luar sana, serikat buruh benar-benar jadi sandaran. Saya percaya FSBSI di Tanimbar bisa menjadi hal serupa,” tuturnya.

Sementara itu, Zadrak Bazar menyampaikan kisah menyentuh: ia pernah di-PHK tanpa pemberitahuan.

“Saya harap FSBSI bisa hadir membela hak-hak kami yang selama ini dikesampingkan. Jangan sampai nasib saya terulang lagi pada buruh lain,” katanya dengan suara bergetar.

Dua Pokok Keputusan dan Komitmen Lanjutan

Rapat perdana ini menghasilkan dua keputusan penting:

  1. Pembentukan struktur kepengurusan FSBSI Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dengan syarat memilih pengurus yang loyal, kompeten, dan berkomitmen.
  2. Rapat lanjutan dijadwalkan pada Senin, 9 Juni 2025, dan setiap peserta diwajibkan mengajak minimal tiga orang baru untuk memperluas struktur dan basis organisasi.

Rapat juga menyepakati bahwa setelah struktur terbentuk, pengurus tingkat atas dari FSBSI Provinsi Maluku diharapkan segera menurunkan SK kepengurusan serta menjadwalkan proses pelantikan resmi.

“Atas nama tim kerja, saya sampaikan terima kasih. Ini adalah awal dari gerakan besar yang akan membela mereka yang selama ini tidak bersuara. Mari kita jaga nyala api ini,” tutup Paulus Atakebele dengan penuh keyakinan.