Refleksi Iman Pastor Pius Heljanan, MSC di Tanimbar Selatan: Aturan Bukan untuk Membelenggu Kasih
Oleh: joko
Pesan Kasih dari Mimbar Lauran: Jangan Hakimi, Hargai Sesama, Kasih Harus Lebih Utama daripada Aturan
Suara Pastoral dari Desa Lauran, Meneladani Yesus dalam Hidup Bersama, Kasih dan Kemanusiaan di Atas Segala Aturan
Suara Pastoral dari Desa Lauran
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Sabtu pagi, 6 September 2025 — Suasana hening di Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, seketika dipenuhi kehangatan ketika Pastor Pius Heljanan, MSC, menyampaikan refleksi rohaninya. Melalui homili sederhana namun sarat makna, ia mengingatkan umat untuk menempatkan kasih dan kemanusiaan di atas sekadar aturan.
Kasih dan Kemanusiaan di Atas Segala Aturan
Mengambil inspirasi dari Injil Lukas 6:1–5, Pastor Pius mengajak umat untuk merefleksikan pertanyaan Yesus: “Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Menurutnya, sering kali manusia cenderung cepat menghakimi sesama hanya karena aturan atau hukum yang berlaku, tanpa melihat sisi kemanusiaannya.
“Saudaraku, jangan kita terjebak dalam aturan yang membatasi perbuatan kasih. Ingat, bagi Yesus, kemanusiaan dan kasih lebih utama daripada sekadar menaati aturan yang menindas atau membelenggu manusia,” ujar Pastor Pius dengan suara tenang namun penuh penekanan.
Meneladani Yesus dalam Hidup Bersama
Pastor Pius mencontohkan bagaimana kaum Farisi dahulu menyalahkan para murid Yesus hanya karena memetik gandum pada hari Sabat. “Mereka melihat aturan, tapi tidak melihat urgensinya. Yesus hadir untuk menegaskan hal yang paling utama dalam hidup bersama, yaitu menghargai kehidupan, kemanusiaan, dan kasih di atas segalanya,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa aturan semestinya menjadi penuntun menuju kebaikan, bukan belenggu yang menghalangi perbuatan kasih. Pesan itu, menurutnya, relevan untuk semua orang, bukan hanya dalam kehidupan beriman, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Kasih yang Menghidupkan
Dengan gaya tutur pastoral yang lembut, Pastor Pius menutup renungannya dengan ajakan: “Hargailah sesama dengan perbuatan kasih tanpa menghakimi. Biarlah aturan menjadi jalan menuju kebenaran, bukan alat untuk menghakimi dan menindas.”
Pesan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi umat yang hadir. Di tengah tantangan hidup dan godaan untuk saling menilai, umat diajak kembali meneguhkan iman dengan mengedepankan kasih yang menghidupkan.