May 10, 2026

“Saat Daun Gugur Bersuara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni daun bergururan

Illustration for "When the Leaves Fall and Speak": A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Image Source: Starcom Indonesia Artworks No. 925-80 (Assisted by AI).

“Saat Daun Gugur Bersuara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

/1/

Saat Daun Gugur Bersuara

Puisi Leni Marlina

Aku jatuh.
Tapi aku bukan hanya daun.
Aku adalah petikan ayat yang lepas dari mushaf,
menyelinap ke dalam angin yang lupa cara menghafal.
Namun aku tidak meratap.
Aku tahu, inilah jalanku pulang.

Aku jatuh.
Tapi aku bukan hanya daun.
Aku adalah sajak tua yang tak terbaca,
membusuk dalam halaman waktu,
ditinggalkan oleh mata yang tak lagi ingin mengingat.
Aku tak mengutuk.
Aku tahu, bahkan yang dilupakan tetap bermakna.

Aku jatuh.
Tapi aku bukan hanya daun.
Aku adalah tubuh yang lupa jalan pulang,
tenggelam dalam lelah,
melayang dalam pasrah,
menguning dalam resah,
dan akhirnya rebah.
Aku tak takut.
Aku tahu,
tanah yang menyambutku
bukanlah akhir,
melainkan awal bagi sesuatu yang lebih besar dariku.

Canberra, Australia, 2012

/2/

Daun yang Gugur

Puisi Leni Marlina

Daun itu jatuh,
satu,
satu lagi,
satu lagi—
dan aku mendengar suaranya.

Ia jatuh,
bukan karena kehendak,
tapi karena pohon lupa cara menahannya.
Tubuh yang tak lagi memohon,
mata yang kehilangan cahayanya,
tangan yang kehilangan genggaman.

Daun itu jatuh,
satu,
satu lagi,
satu lagi—
dan aku merasakan tubuhku di dalamnya.

Lihat,
daun itu bukan hanya daun—
ia adalah aku,
kau,
setiap tubuh yang menua dalam diam,
menguning dalam penantian yang tak pernah kita siapkan.

Daun itu jatuh,
satu,
satu lagi,
satu lagi—
dan aku melihat waktu menggulung dirinya sendiri.

Waktu bukan jam di dinding,
waktu adalah urat yang mengering,
tulang yang melengkung,
napas yang semakin pendek.
Waktu adalah daun yang jatuh—
satu,
satu lagi,
satu lagi,
hingga kita lupa berapa yang tersisa.

Dan saat daun terakhir melayang,
ia berbisik:
“Kau pun akan jatuh.”
Angin menyahut:
“Ya, kau pun akan jatuh.”
Tanah menyambut:
“Aku telah menunggumu.”

Lalu sunyi,
lalu gugur,
lalu pulang.

Canberra, Australia, 2012

/3/

Manusia dan Daun yang Jatuh

Puisi Leni Marlina

Lihat mereka,
berdiri di bawah pohon,
mengira hijau itu abadi,
mengira dahan takkan melepas.
Tapi aku tahu,
tidak ada yang abadi selain perjalanan.

Lihat mereka,
tertawa di bawah bayangannya,
mengira cahaya tak pernah mengering,
mengira waktu tak punya gigi.
Tapi aku sadar,
setiap kali fajar membawa bayang-bayang,
setiap kali senja menghapus jejak.

Lihat mereka,
yang akhirnya meraba wajahnya sendiri,
mendapati retakan halus di kulitnya,
mendengar gemeretak kecil di tulangnya,
melihat dirinya gugur satu per satu—
tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal
pada hijau yang dulu mereka puja.

Aku tak gentar.
Aku memilih untuk menerima,
untuk menggugurkan diriku sendiri
dengan kepala tegak,
sebab bagiku jika tiba waktunya,
jatuh bukanlah kehancuran,
jatuh adalah kembali pulang ke asal,
melakukan perjalanan makna.

Canberra, Australia, 2012

/4/

Kita Dedaunan yang Berjatuhan

Puisi Leni Marlina

Ranting-ranting ini menggigil di ujung musim,
seperti tangan-tangan yang kehilangan genggaman.
Dulu, mereka memeluk angin,
sekarang, mereka hanya mengingat bagaimana rasanya.
Tapi aku tidak bersedih.
Aku memilih untuk melonggarkan genggamanku,
sebab angin datang dan pergi,
dan aku tidak harus selalu menahannya.

Dahan-dahan ini mengerang dalam hujan,
seperti tubuh-tubuh yang lupa cara berdiri.
Dulu, mereka menyangga langit,
sekarang, mereka menunggu saatnya patah.
Tapi aku tidak menyesali.
Aku memilih untuk tunduk pada waktu,
karena langit tidak butuh sandaran,
dan aku tidak perlu menyangga yang tak bisa kupegang selamanya.

Dan kita,
kita adalah pohon yang semakin sepi,
dedaunan kita berjatuhan,
hingga yang tersisa hanya batang kering
yang menunggu giliran
untuk menjadi tanah.

Kita tidak menghindar.
Kita memilih untuk menjadi tanah,
sebab dari tanah,
hidup selalu menemukan caranya kembali.

Canberra, Australia, 2012

————

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani program Master of Writing and Literature di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)