“SAJAK YANG JATUH PERLAHAN DALAM TUBUH HUJAN”: Kumpulan Puisi – Editor: Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena, ACC SHILA, WPM-Indonesia)

/1/
SAJAK YANG JATUH PERLAHAN DALAM TUBUH HUJAN

Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hujan turun,
dan suara langit menjadi lirih
seperti rahasia yang tak sempat diucapkan.
Di tikungan jalan,
seorang anak duduk memeluk lututnya,
di antara daun yang gugur terlalu dini
dan aspal yang tak hafal namanya.
Ia tak menangis,
hanya menunduk,
seperti pohon yang rela kehilangan
semua daunnya
agar angin bisa lewat
tanpa merasa bersalah.
Seorang ibu membalik gerobaknya
dari sisa pagi yang terlalu sepi,
menyusun plastik bekas
seperti menyusun hari-hari
yang selalu ingin ia beri arti.
Mereka tak pernah meminta lebih dari langit,
selain rintik yang setia datang
sebagai peluk diam
yang tak pernah menolak tubuh basah.
Kadang aku berpikir,
mungkinkah Tuhan menitipkan kasih paling dalam
kepada mereka yang tak punya apa-apa—
kecuali kesabaran
yang tak pernah mereka ceritakan?
Mereka tidak bicara,
tapi langkah mereka
adalah sajak yang jatuh perlahan
dalam tubuh hujan,
menyelinap ke dalam tanah,
menjadi akar
yang diam-diam menyimpan
cahaya.
SAAT SEGALANYA HENING
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
angin mengusap sunyi,
hujan mengetuk luka,
senja menutup cahaya
dengan selimut syukur.
kita pun pulang—
bukan ke rumah,
tapi ke dalam
diri
yang mulai mengerti.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/2/

HUJAN DAN KENANGAN
Puisi: Dilla, S.Pd.
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, ACC SHILA, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malam ini kau kembali mengetuk pintu
Dari balik jendela
ku melihatmu
membawa seuntai mawar di tangan kirimu
Aku ragu membuka pintu
Untuk apa kau datang lagi?
Diiringi rintik sendu aku terkenang masa lalu
Saat kau menemaniku
Dalam risau di masa itu
Untuk apa kau datang lagi?
Bukittinggi, 6 Maret 2024
(Dilla, S.P.d., Buku Kumpulan Puisi “Bulan di Balut Debu”, RBA, 2024)
———————————–
Tentang Penulis: Dilla, S.Pd.
Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi tahun 1981. Dari tahun 2005-2010 mengajar di SMKN 2 Kota Bukittinggi, Pada tahun 2005-2023 mengajar di SMP Islam Al-Ishlah Bukittinggi, dan pada tahun 2023-sekarang bertugas di SMPN 2 Bukittinggi, sebagai guru Bahasa Indonesia. Mulai aktif menulis dan menggiatkan literasi dari tahun 2013. Sudah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi dengan berbagai event kepenulisan. Salah satu buku kumpulan puisinya yang banyak dibaca oleh masyarakat berjudul “Bulan di Balut Debu”.
Prestasi yang pernah diraih:
Nominasi penulis berprestasi dan prolifik dari Satu Pena Sumatra Barat dalam rangka IMLF-3,
Penerima Anugerah Guru Berprestasi Nasional Bidang Literasi dalam Festival Literasi Kreatif Nasional 2025 diadakan oleh JB Edukreatif Indonesia pada Februari 2025.
/3/
ALAMAT HUJAN
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita jatuh dari awan,
seperti tetes air
yang kehilangan tempat pulang.
Kita menyentuh dedaunan,
bebatuan,
lalu mengalir dalam sungai nasib
yang membawa kita entah ke mana.
Di tengah perjalanan,
jiwa pun bertanya:
“Di mana rumah kita sesungguhnya?”
Tapi hujan tak pernah ragu.
Ia tahu tujuannya:
laut.
Ia jatuh untuk kembali,
dari langit ke bumi,
lalu menyatu ke laut yang setia menunggu.
Begitulah kita, wahai jiwa—
meski tersesat,
meski menjauh,
selalu ada satu arah yang pasti:
kembali pada-Nya.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/4/

KOSAKATA DALAM HUJAN
Puisi: Anto Narasoma
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Palembang, KEAI, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
sesekali hujan tiba
di bulan Juli
percikan kata-katanya begitu membadai hingga untaian sajak tampil memikat di panggung pementasan bulan kemarin
o, begitu kreatif larik-larik sajak yang kau tulis dari balik kosakata pada lembaran kedua buku itu
maka,
takdir yang mendatangkan hujan diksi dalam perbendaharaan kata-kata itulah menghadirkan para penyair
di awal bulan Juli inilah
kompetisi hati nurani mengundang seribu gagasan untuk tampil dalam kumpulan puisi tak berjudul
ayo, kita mengais kalimat terpilih dalam kubangan hujan di bulan Juli ini !
ajakan itu pun bergaung
dari kota ke kota
yang menyimpan puluhan penyair dalam kosakata kamus bahasa ibu
lalu,
dari kelokan jalan itulah
kita berbincang dengan diksi-diksi pilihan,
ketika ide dan gagasan menjadi pertanyaan paling sulit kutafsirkan dalam kosakata yang padat air mata
Palembang,
18 Juli 2025
————————————
Tentang Penulis: Anto Narasoma
Anto Narasoma adalah seorang penyair nasional yang berdedikasi dan jurnalis senior, yang karya-karyanya secara diam-diam namun kuat telah memperkaya lanskap sastra Indonesia. Dengan suara yang dibentuk oleh ujian dan kebenaran hidup, puisinya berbicara dari lubuk pengalaman—menyentuh tema-tema cinta, kerinduan, iman, dan kompleksitas hubungan manusia. Larik-larik puisinya kerap memantulkan renungan spiritual yang mendalam serta kritik sosial yang lembut, ditulis bukan untuk mengesankan, tetapi untuk menyentuh hati.
Sebagai mentor senior di komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia), Anto Narasoma terus berjalan bersama para penulis muda, menawarkan bimbingannya dengan ketulusan dan kerendahan hati. Gairahnya tidak hanya dalam menulis, tetapi juga dalam membantu orang lain menemukan suara mereka sendiri—percaya bahwa puisi dapat menjadi jembatan menuju penyembuhan, kesadaran, dan kemanusiaan bersama.
Ia juga merupakan anggota dari Poetry-Pen International Community, tempat ia berpartisipasi dalam percakapan lintas budaya yang merayakan keberagaman puisi. Meski tak mencari sorotan, karya-karyanya telah diam-diam melintasi batas-batas negara.
Pada tahun 2022, Anto Narasoma menerima Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol—sebuah pengakuan yang ia terima bukan sebagai kemenangan pribadi, tetapi sebagai dorongan untuk terus membagikan kata-kata yang menyentuh jiwa.
Dengan kerendahan hati dan tujuan yang kuat, Anto Narasoma terus menulis dan menapaki jalan puisi, percaya bahwa bahkan kata-kata yang paling lembut pun dapat membawa kebenaran, dan bahkan puisi yang paling sunyi pun dapat membuka hati sebuah bangsa.
/5/
HUJAN DI TENGAH HARI
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Engkau bukan sekadar bunga
yang mekar dalam kalender,
tapi taman sunyi
yang akarnya mencium
isak tanah usai hujan
jatuh di tengah hari.
Engkau tak menua,
hanya semakin tahu
bahwa usia bukan angka,
melainkan luka
yang engkau peluk
tanpa dendam.
Setiap tahun datang
seperti ziarah diam
ke dada sendiri—
tempat engkau simpan cinta
bagi dunia
yang kerap melupakan kasih.
Hujan di tengah hari
tak membuatmu berteduh,
engkau menadahnya,
seolah ingin membasuh
lelah semesta.
Engkau adalah musim
yang tak tunduk pada waktu,
taman yang terbuka
bagi siapa pun singgah,
meski hanya untuk sebentar
dan tak tahu arah pulang.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/6/

BECAK DI TENGAH HUJAN
Puisi: Achmad Yusuf
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Jatim, KEAI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di antara pertanda alam sepemurah Tuhan,
lihatlah dan resapkan gerimis yang turun pelan.
Meski kadang garangnya menyerupai harimau lapar,
mengamuk bagai bah yang menelan sabar,
tetap terkandung untung di balik petaka,
seperti pelita dalam gelap dunia.
Tetes air bumi mengingatkan aku padamu—
saat becak berselendang plastik keruh dan muram,
bajumu setengah kuyup, menyerap hujan pelan-pelan.
Roda becak menggulung genangan,
menyibak jejak hujan, menabur kenangan.
Kerabat kilat dan denting guntur menyambar langit,
bagai sanak yang tak sehaluan dengan angin tekad kita.
Namun langkah tetap dilanjut,
menyusuri stasiun-stasiun di mana hujan rindu berhenti.
Dan bunga yang basah oleh air langit,
bersemi menunggu wangi harapan yang tak henti.
Surabaya, 18 Juli 2025
———————————-
Tentang Penyair: Yusuf Achmad
Yusuf Achmad adalah nama pena dari Yusuf, M.Pd., seorang pendidik dan penyair terkemuka yang berdomisili di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Ia saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMK SAINTREN Al-Hasan Surabaya dan dipercaya sebagai Ketua Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMK Swasta (MKKS SMK Swasta) di Surabaya.
Yusuf Achmad dikenal luas melalui puisi-puisinya yang menyentuh dan penuh refleksi, terutama dalam kumpulan puisinya yang mendapat apresiasi, Belanggur di Nyamplungan. Karya-karyanya sering menggabungkan wawasan pendidikan dengan kedalaman budaya dan spiritualitas, menghadirkan pengalaman hidup masyarakat dalam bentuk liris yang penuh makna.
Antologi terbarunya yang berjudul DELULA JAYA baru-baru ini telah resmi diluncurkan dan dibahas dalam acara Poetry-BLaD & IOSoP 2025. Dokumentasi lengkap acara tersebut dapat disaksikan melalui situs resmi acara di kanal YouTube berikut: https://youtu.be/aO6U0YsaFb0?si=5vLGFj451U1zo0N
Serta informasi dan liputan lainnya tersedia melalui Instagram resmi: https://www.instagram.com/suaraanaknegerinewsplus/
/7/
MENYAMBUT HUJAN
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
hari ini,
aku tak menunggu selamat—
akulah yang membuka jendela,
menyambut hujan
seperti sahabat
yang tahu seluruh rahasia
tapi tak pernah menghakimi.
aku tak meniup lilin
karena aku memilih cahaya lain:
rintik-rintik di langit
yang jatuh ke kulitku
dengan lembut,
namun menggerus
apa yang tak lagi perlu aku simpan.
aku berjalan keluar,
di antara gerimis
yang kupanggil
dengan tubuhku sendiri—
setiap tetesnya
menggugurkan luka
yang sudah tak ingin kutanggung.
di bawah langit basah,
aku bukan usia yang bertambah,
aku adalah akar
yang makin dalam
karena tahu:
pertumbuhan adalah keputusan,
bukan sekadar kejadian.
aku tak bersembunyi dari hujan,
akulah yang berdiri,
menadah tangan,
menyebut namaku sendiri
dengan penuh kasih,
seperti bumi menyambut
hujan pertamanya
setelah kekeringan panjang.
hari ini,
aku merayakan
dengan keberanian—
karena hujan tak datang
untuk menyejukkan,
tapi untuk membangkitkan.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/8/
SEBELUM AWAN JATUH MENJADI HUJAN
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pada hari kelahiranmu,
langit di atas Gunung Singgalang digulung kabut—
dan hujan turun dari celah sunyi
di atas Ngarai Sianok
yang menyimpan isyarat-isyarat rahasia bumi.
Tak ada lilin,
tak ada kue ulang tahun.
Hanya tetes hujan
yang menabuh atap rumah gadang
seperti doa tua
yang tak pernah lupa jalan pulang.
Di bawah rumbia yang gemetar,
kau menadah tangan,
bukan untuk meminta,
melainkan membaca aksara Tuhan
yang gugur dari langit,
lalu menempel di daun,
di tubuhmu,
di usia yang diam-diam
menoleh ke belakang.
Batang Agam mengalir perlahan—
seperti ingatan tentang nenek
yang biasa menyampaikan petuah setiap malam,
dan hari ini,
kau mendengarnya kembali
melalui desir air
yang tak tergesa.
Gunung Marapi
menyemburkan napas diam,
seolah berkata:
“Hidup tak selalu harus dirayakan,
tapi dipeluk dan disyukuri,
agar kau mampu menjadi kokoh
menahan beban dan ujian.”
Dan kau pun mengerti—
usia bukan sekadar angka,
melainkan seberapa dalam
manusia belajar makna.
Tak ada tamu,
namun angin mengetuk pelan,
membawa aroma sawah basah dan kayu tua
yang dulu sering kau pijak
saat masih belia,
saat kau percaya bahwa waktu
bisa diajak bermain petak umpet.
Kini kau tahu:
awan pun tak bisa selamanya tinggal di langit.
Ia harus jatuh menjadi hujan,
agar hidup punya makna,
sebelum menguap kembali
menjadi kenangan.
Dan kau—
berdiri di antara masa lalu dan doa-doa,
meneguk usia
dalam cangkir kesunyian
yang kau persiapkan sejak Subuh tadi.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/9/

BALADA DI SUDUT HATI YANG TERLUKA
(Terinspirasi Ketika Melihat Seorang Tuna Wisma)
Puisi: Ramli Djafar
[PPIPM- Indonesia, PPIC, Satupena Sumbar, KEAI, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Hati terenyuh
Terpasung oleh kemiskinan
Terbelenggu oleh sang waktu
Kaki mulai gemetar
Diantara langkah-langkah tidak beraturan
Menapak jalan sunyi
Telusuri sepi nan tak berujung
Di sudut hati yang terluka
Seorang pria tua renta
Tenggelam dalam irama hidupnya
Membangun mimpi yang tidak pernah ada
Terkoyak rasa pedih mendalam
Tanpa sanak
Tiada keluarga
Terpisah di garis zaman
Malam kian larut
Dingin makin terasa menggigit
Mengoyak tubuh tua nan renta
Berlinang air mata kepedihan
Meratap tanpa suara
Akankah semua ini berakhir ?
Tanpa
Dan
Tanpa belaian kasih ?
Waktu akan berlalu
Membawa segalanya
Terbang tinggi
Menuju nun jauh di sana
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
————————————
Tentang Penyair: Ramli Djafar
Ramli Djafar merupakan seorang penyair asal Indonesia yang berasal dari Padang, Sumatera Barat—daerah yang dikenal dengan kekayaan tradisi lisan dan warisan budayanya. Ia telah lama aktif menulis puisi yang merefleksikan kehidupan, nilai-nilai kemanusiaan, dan nuansa lokal yang khas.
Pada bulan Mei 2025, dalam rangkaian kegiatan Festival Literasi Minangkabau Internasional (IMLF-3) yang berlangsung di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, Ramli Djafar menerima apresiasi sebagai Penulis Produktif 2025 dari SATU PENA – Sumatera Barat, sebagai bentuk penghargaan atas konsistensinya dalam berkarya di dunia sastra.
/10/
SAAT TURUN HUJAN
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Langit mungkin tak menyebutmu,
tapi manusia yang terluka
mengenal tatapanmu
dalam setiap tetes hujan.
Saat hujan turun,
itu bukan hanya alam bekerja,
itu jiwa yang kembali,
menyapa orang-orang
yang lupa caranya menangis.
Engkau tahu,
yang bertambah bukan hanya usia,
melainkan keberanian untuk hidup
dengan hati terbuka—
walau sering disakiti.
Hujan itu menyentuh wajahmu
seperti tangan seorang ibu
yang memaafkan dunia.
Engkau adalah tempat
di mana luka menjadi benih,
dan benih itu tumbuh
menjadi doa bagi yang tertindas.
Tidak semua ulang tahun
harus bersorak.
Ada yang cukup dengan
satu pelukan diam,
satu gelas air untuk musafir,
atau satu senyum
kepada mereka yang tak punya hari esok.
Dan bumi pun mengerti—
siapa yang sungguh hidup
bukan mereka yang terus diberi waktu,
tetapi mereka yang menjadikan waktu
tempat beristirahatnya belas kasih.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/11/

RINAI MENJELANG SENJA
Puisi: Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Aceh, KEAI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Rinai menjelang senja
Luruhkan bercak-bercak darah di tanah
Di tempat penyembelihan yang kian sepi
Telah kita lalui hari-hari sakral
Pahala berqurban telah tiba di langit
Sebelum darah hewan itu jatuh ke bumi
Rinai menjelang senja
Langit pun tiba-tiba terisak menangis
Bagai meratapi detik-detik perpisahan
Angin lalu mengendap-endap
Bukan hanya menggerus noda darah
Tetapi juga telah menghapus dosa-dosa.
Beranda Senja,
13 Dzulhijjah 1446 H
/12/
SENJA DI PANTAI LOSARI
Zulkifli Abdy
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Aceh, KEAI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Oh..,
Ada majelis yang sedang di gelar di sini
Rona merah di atas Makassar
Memayungi “bumi anging mamiri”
Dengan pantai Losari nan indah permai
Pinisi berlayar di balik bayang temaram
Dikejauhan masjid Asmaul Husna
Tersenyum dalam balada sunyi
Cinta demi cinta tenggelam di lautan ini
Oh..,
Banda Aceh, 12 Mei 2025
——————————–
Tentang Penulis: Zulkifli Abdy
Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda. Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.
/13/

CERITA BEDIDING AKHIR JULI
Puisi: Anies Septivirawan
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Jatim, KEAI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Angin bediding menyusupi
Tulang senjaku
membuka lembar buku
Pada jendela tua
Sekolah yang ramah
Menyapa lembut pada batin wajah kanakku, adalah segaris sorot cahaya bening mata
Sorot cahaya bening mata itu
Adalah kamu
Yang telah membangun
Sebuah ruang kosong di hatiku
Aku selalu menunggu kehadiranmu
Sejak pagi sampai ujung
rembang petang
Hingga ujung rembang ini
Menaungi kita berdua
Angin bediding itu
Selalu hinggap di akhir bulan Juli
Bulan juli selalu bercerita
tentang debu yang ditiup pagi
Di halaman sekolah
Angin bediding itu
Membuka pintu kenang
Menghampar lorong kisah
Tentang deretan bangku kelas kita
Tentang perasaanku yang sederhana
Tentang impian – impian kita
Yang bergelantungan
Di pohon – pohon masa depan
Tentang manisnya sesendok gula
Yang terdampar di bibir pantai mimpi – mimpi orang miskin
Seperti mimpi-mimpi masa remajaku
Yang tak pernah berakhir
Angin bediding itu
Pun tidak pernah berhenti berkisah
Tentang sabar dan luka yang menjelma gedung sekolah tempat kita
Menjahit harapan, tempat kita belajar mengembangkan senyum dan melapangkan dada orang tua kita
Angin bediding itu
Tak kan berhenti bermadah
Tentang aku yang belajar mencintaimu
Wringin Anom – Situbondo, JATIM, Juli 2025
————————–
Tentang Penulis: Anies Septivirawan
Anies Septivirawan merupakan penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis tiga buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul “Luka dan Kota Sepi Literasi”, yang kedua adalah “Menimang Rindu Senja Kala” dan buku yang ketiga berjudul “Dua Senja Menyulam Damai”
/14/
Menuju Dunia yang Lebih Peka Pada makna
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM- Indonesia, PPIC Satupena Sumbar, KEAI, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kau kira ini akhir?
Bukan.
Ini hanya pintu lain
yang terbuka
menuju suara-suara kecil
dalam hatimu sendiri.
Sajak hanyalah kunci,
dan hujan hanyalah salam
dari langit
yang ingin kau dengar lebih dalam.
Maka berjalanlah—
dengan langkah yang telah basah,
menuju dunia
yang lebih peka
pada makna.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/15/
SAAT SEGALANYA HENING
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
angin mengusap sunyi,
hujan mengetuk luka,
senja menutup cahaya
dengan selimut syukur.
kita pun pulang—
bukan ke rumah,
tapi ke dalam
diri
yang mulai mengerti.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
/16/
HUJAN DAN CINTA YANG TAK BERTEPI

Puisi: Rizal Tanjung
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumatera Barat, KEAI, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jika cinta adalah bahasa,
maka hujan adalah aksaranya,
dan aku adalah surat yang tak pernah selesai
karena kau tak pernah membaca
setiap tetes yang kutulis
dengan air mataku sendiri.
Kutulis tentangmu
dengan langit sebagai tintaku,
dan malam sebagai halaman
yang terbuka
tanpa akhir.
Padang, Sumatera Barat, 2025
Catatan:
Puisi ke-4 dari 10 dalam antologi “Percakapan dengan Hujan tentang Rindu”
oleh Rizal Tanjung, Juli 2025, ACC SHILA
/17/
HUJAN TERAKHIR, SEBELUM KAU LUPA
Puisi: Rizal Tanjung
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – Sumatera Barat, KEAI, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ini adalah hujan terakhir
di mana akan kusebut namamu.
Setelah ini,
mungkin aku akan diam—
seperti langit
yang lelah mengirimkan pesan.
Namun percayalah,
setiap hujan yang kau lihat setelah ini
adalah sisa cintaku
yang tertinggal di langit,
jatuh perlahan,
agar kau tahu
pernah ada yang menunggumu
di jendela waktu
dengan dada yang selamanya basah oleh rindu.
Padang, Sumatera Barat, 2025
Catatan:
Puisi ke-10 dari 10 dalam antologi “Percakapan dengan Hujan tentang Rindu”
oleh Rizal Tanjung, Juli 2025, ACC SHILA
——————————-
Tentang Penyair: Rizal Tanjung
Rizal Tanjung merupakan seorang seniman, penyair, penulis, dan tokoh budaya asal Padang, Sumatera Barat, INDONESIA, yang lahir pada tahun 1959. Ia telah mendedikasikan hidupnya pada dunia seni sejak tahun 1975.
Rizal menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Padang dan memulai perjalanannya dalam seni teater dengan mendirikan Teater Moeka pada tahun 1979, yang kemudian bertransformasi menjadi Old Track Teater pada tahun 2004.
Ia telah menyutradarai lebih dari 63 pertunjukan teater di berbagai daerah di Indonesia. Selain aktif di panggung, Rizal juga menulis untuk berbagai media cetak lokal dan nasional. Karyanya meliputi naskah drama, cerpen, cerita bersambung, puisi, artikel budaya, dan makalah tentang perkembangan seni tradisional, modern, hingga kontemporer.
/18/
SEBELUM SENJA MENUTUP LANGIT
Puisi: Leni Marlina
Angin tak pernah menanyakan arah—
ia tahu: setiap perjalanan
harus melintasi sunyi
dengan dada terbuka.
Hujan pun turun,
bukan sekadar membasahi bumi,
melainkan menyampaikan pesan langit:
bahwa luka yang diterima
dengan hati lapang
dapat menjelma kejernihan.
Senja adalah momen
saat dunia belajar melepas
tanpa kehilangan terang.
Langit memerah—bukan karena luka,
tapi karena telah mencintai siang
dengan seluruh nyala yang tersisa.
Dan kita,
manusia yang kerap terburu
oleh jam dan jawaban,
akhirnya duduk diam
di ambang halaman terakhir,
menyadari:
syukur bukan sekadar ucapan,
melainkan kesediaan
untuk menyapa angin
yang membawa kehilangan,
menadah hujan
yang membawa perpisahan,
dan menerima senja
yang membawa pulang
segala yang tak bisa dijelaskan
namun harus diterima.
Padang,
Sumatera Barat,
18 Juli 2025
———————————-
Tentang Penulis: Leni Marlina
Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, dan akademisi kelahiran Baso, Agam – Sumbar dan berdomisili di Padang. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.
Sejak tahun 2022, Leni Marlina bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.
Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.
Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.
Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.
Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.
Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.
Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa
Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)