Sakti dan Kubina Bulan Menyatu dalam Cinta Sastra di Selangor
Era Nurza
–
Selangor bersinar dengan cahaya literasi pada suatu siang yang berdenyut lembut, tempat dua karya dari dua tanah air berjumpa dalam satu ruang dialog dan apresiasi. Di antara wajah-wajah pencinta kata, dua buku menjadi pusat semesta: Sakti karya Sastri Bakri Ketua Satu Pena Sumbar dari Indonesia, dan Kubina Bulan karya Kapten B Prof. Emeritus Dato’ Dr. Hashim Yaacob, Canselor Innovative University College (IUC) Malaysia.

Acara yang diadakan di Selangor itu tidak sekadar menjadi peluncuran dan diskusi buku, tetapi juga pertemuan rasa antara dua bangsa yang diikat oleh bahasa dan makna.
Dari Indonesia, hadir Dr. Andria Catri Tamsin, M.Pd., dosen Universitas Negeri Padang, yang menjadi pembicara buku Sakti. Ia menelusuri lapisan makna di balik karya Sastri Bakri dengan analisis lembut namun tajam, menyelam ke ruang spiritualitas, perempuan, dan kekuatan batin yang menjadi roh utama buku tersebut.
“Sakti bukan hanya kata, ia adalah kesadaran perempuan terhadap dirinya yang utuh. Ia melawan tanpa bising, menyala tanpa api, dan hadir tanpa menuntut dilihat,” ujar Dr. Andria dengan suara yang meresap ke dalam ruangan.
Sementara itu, buku Kubina Bulan karya Prof. Hashim Yaacob diluncurkan secara resmi oleh Sastrawan Negara Dato’ Rahman Shaari, sosok yang telah lama menjadi pilar puisi di Malaysia. Dalam peluncuran yang sarat simbol dan penghormatan, Dato’ Rahman tidak hanya meresmikan, tetapi juga membacakan puisinya sendiri dengan gaya khas yang mengalun dalam kesenyapan penonton. Setiap kata yang meluncur dari bibirnya seperti cahaya lembut bulan yang jatuh di permukaan hati para pendengar.
Kehadiran Prof. Dr. Azri Usman, Timbalan Naib Canselor Akademik IUC, dan Adi Sukma, Pegawai Integriti Universiti Malaya, menambah makna pada kegiatan yang bukan sekadar perayaan buku, tetapi juga pertemuan budaya dan intelektual antara Indonesia dan Malaysia.
Siang itu, panggung sastra menjadi jembatan dua benua rasa. Dari Indonesia, Edrawati, M.Pd., guru SMPN 13 Padang, tampil membacakan puisi dengan lirih dan bergetar. Suaranya mengalir seperti sungai Minangkabau yang membawa cerita dari tanah kelahiran ke negeri jiran. Puisinya berbicara tentang persaudaraan, cahaya, dan pertemuan jiwa yang melampaui batas geografi.
Dari Malaysia, tampil pula Chesu Deraman, penggiat puisi yang dikenal dengan gaya spontan dan penuh daya hidup. Kedua pembacaan puisi itu menjadi jembatan emosi, mempertautkan dua bangsa yang sama-sama mencintai kata, menghidupkan kembali makna “serumpun” dalam konteks yang hangat dan nyata.
Acara ditutup dengan tepuk tangan panjang, bukan sekadar untuk karya dan kata, tetapi untuk semangat yang lahir darinya, semangat menjalin, memahami, dan menghidupkan persaudaraan Nusantara melalui sastra.
Di bawah langit Selangor, Sakti dan Kubina Bulan tak hanya menjadi dua buku, melainkan dua lentera yang menyala di dua negeri, menandakan bahwa selama kata masih diucapkan dengan hati, persaudaraan takkan pernah padam.
Selàngor, Oktober 2025