April 21, 2026

Oleh : Eka Teresia

​Kami datang, bukan dengan arogansi yang membakar, tetapi dengan langkah-langkah yang mantap, langkah yang lahir dari keyakinan yang tulus.Kami datang bukan untuk mematikan langkah siapapun , tetapi untuk menopang langkah yang terseok Menghidupkan bara yang hampir mati, yang tinggal sisa-sisa arang yang dingin.

Di setiap sudut yang kelam, di mana harapan mulai pudar, kami mendekat dengan nyala kecil di tangan. Bukan nyala yang besar, bukan obor yang memicu huru-hara, melainkan lilin-lilin kecil yang kami nyalakan.
​Setiap lilin yang kami nyalakan adalah sebuah janji. Sebuah janji bahwa di tempat yang paling terpencil pun, cahaya itu akan tetap ada. Janji itu tidak bergemuruh, tidak perlu sorakan atau tepuk tangan. Ia menyala dengan diam, perlahan-lahan mengusir kegelapan yang telah lama berdiam. Keringat yang menetes, lelah yang merambati tulang, semua itu kami biarkan mengering tanpa keluhan. Sebab kami tahu, apa yang kami lakukan adalah sebuah perjalanan, bukan sebuah pertunjukan.

​Kami tidak mencari sanjungan, tidak mengharapkan nama-nama kami terukir di prasasti-prasasti megah. Setiap peluh yang jatuh, setiap lelah yang kami rasakan, adalah persembahan kami yang paling murni untuk Ibu Pertiwi

Kami hanya berharap satu hal, satu-satunya harapan yang menjadi pemandu langkah kami: Ridho Ilahi. Di situlah makna sejati dari setiap nyala yang kami hadirkan, di situlah kebahagiaan yang sesungguhnya. Menjadi tangan yang menghidupkan, menjadi hati yang tak berhenti memberi, tanpa pamrih, tanpa jeda.
​Kami adalah sang penyala, dan ini adalah cerita kami. Cerita tentang lilin-lilin kecil yang terus menyala.

Padang,,30 Agustus 2025