SARJANA ART
Oleh : Ririe Aiko
(Puisi Esai Ini difiksikan dari Fenomena Banyaknya Sarjana Yang Memilih Menjadi ART) (1)
—000—
Ayu duduk di sudut kamar kos,
toga hitam tergantung rapi di dinding
seperti mimpi yang ia pajang tapi tak pernah ia kenakan lagi.
Ia lulusan sarjana pendidikan.
Empat tahun kuliah, seminar, magang,
skripsi yang ia tulis hingga dini hari
begadang, berjuang keras demi menuntut ilmu
Setelah wisuda, ia mengajar di SD Negeri
di pinggir kota, bergaji tak sampai dua juta.
Itupun kadang telat cair,
sementara ia harus bayar ojek setiap hari,
harus beli spidol sendiri,
dan segudang beban dan tuntutan yang ia simpan dalam pikiran.
Tapi Ayu bertahan.
Ia mencintai anak-anak,
Berdedikasi tinggi demi mengajarkan ilmu
sampai satu hari,
ia dihadapakan pada realitas
bahwa idealisme yang terus ia rawat
tak sanggup mengisi perut yang selalu menahan lapar.
Ia pun mulai memalingkan arah
melihat sebuah iklan terpampang,
“Dicari Asisten Rumah Tangga. Gaji 4 juta. Tinggal dan makan disediakan.”
Tanpa berpikir panjang,
ia simpan ijazahnya dalam map plastik
dan melangkah ke rumah itu,
sebuah hunian megah
di tengah kompleks elit,
Ia pun bekerja disana,
Dengan upah dua kali lipat dari idealisme yang pernah ia pertahankan.
Kini ia menyapu lantai,
Memoles meja makan dari marmer mahal.
Menyiapkan bekal anak-anak si majikan
Membersihkan semua ruangan,
Tak ada matematika,
Tak ada Bahasa Indonesia
Semua yang ia pelajari di Bangku Kuliah
Hilang Bersama debu yang ia sapukan di ruangan
Ironisnya, di rumah itu,
ia merasa lebih dihargai.
Tidak ada lembar penilaian kinerja,
tapi ada ucapan “terima kasih” yang tak basa-basi.
Majikannya, seorang pebisnis ekspor,
sering membawanya ke luar negeri.
Ia ikut ke Singapura, Dubai, bahkan sempat menjejak salju di Jepang,
hanya untuk menjaga anak-anak saat si majikan rapat.
Hidup Ayu menjadi sangat Sejahtera,
Tapi bukan dari Gelar yang ia perjuangkan dengan airmata.
“Apakah aku gagal?”
gumam Ayu dalam hati.
Tapi kemudian ia sadar,
yang gagal bukan dirinya.
Yang gagal adalah sistem yang membiarkan
guru dibayar dengan gaji tak layak,
sementara uang negara mengalir ke kantong para koruptor yang tamak.(2)
Negeri ini tak kekurangan orang pintar,
tapi kekurangan pemimpin yang tahu malu.
Jika koruptor bisa menyimpan uang triliunan dalam brankas
sementara guru berebut recehan demi menambah penghasilan,
maka negeri ini tengah mengubur masa depannya sendiri.
Ayu kini hidup lebih tenang.
Tapi ia masih sering melihat toga itu,
dan diam-diam,
ia menangis di balik pintu dapur
bukan karena malu menjadi ART,
tapi karena ia tahu,
mimpi mendidik bangsa itu seharusnya tidak berakhir di lantai rumah orang lain.(3)
CATATAN :
(1)https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-7980693/ironi-sarjana-ri-kuliah-bertahun-tahun-berujung-jadi-art-sopir
(2)Berdasarkan data ICW (Indonesia Corruption Watch), sepanjang 2023 terdapat ratusan kasus korupsi yang melibatkan dana pendidikan dan dana daerah, termasuk tunjangan guru honorer yang tidak dibayarkan tepat waktu.
(3)https://indopolitika.com/fenomena-lulusan-sarjana-jadi-art-dan-sopir-ipsi-sudah-lama-terjadi/