Sepiring Nasi dan Pertengkaran Cinta
Refleksi Pagi
Oleh Paulus Laratmase
–
Ada hal-hal dalam hidup yang tidak pernah benar-benar kita pahami ketika ia hadir dengan tenang. Cinta, misalnya. Ia sering kita anggap sebagai sesuatu yang pasti, sesuatu yang akan selalu ada, menunggu di sudut hari, menyambut kita pulang tanpa syarat. Kita mengucapkan kata “aku cinta padamu” seperti mengucapkan selamat pagi, hangat, tetapi kerap tanpa kesadaran penuh. Baru ketika ia pergi, atau terancam pergi, kita menyadari bahwa cinta bukan sebuah perasaan belaka, melainkan ruang yang selama ini kita huni tanpa pernah benar-benar kita syukuri.
Cinta itu baru berarti ketika kita kehilangan.
Kehilangan bukan hanya soal perpisahan fisik, tetapi juga tentang jarak batin yang tiba-tiba menganga. Ketika seseorang yang dulu selalu ada, kini menjadi asing. Ketika suara yang dulu menenangkan, berubah menjadi gema yang tak lagi menjawab. Pada saat itulah cinta menjelma menjadi rasa sakit yang jujur, rasa yang memaksa kita mengakui: selama ini kita hidup dari sesuatu yang tidak kita rawat dengan sepenuh hati. Kehilangan adalah guru yang kejam, tetapi ia mengajarkan satu pelajaran penting, bahwa cinta bukan hak milik, melainkan titipan yang harus dijaga.
Cinta itu juga baru berarti ketika kita bertengkar.
Pertengkaran sering kita anggap sebagai tanda kegagalan, seolah dua hati yang saling mencinta seharusnya selalu seirama, selalu sepakat, selalu damai. Padahal, pertengkaran adalah bahasa lain dari kepedulian. Ia muncul ketika dua jiwa yang berbeda berusaha bertahan dalam satu ruang yang sama. Dalam pertengkaran, kita melihat batas diri dan batas orang lain. Kita belajar bahwa mencintai bukan berarti menguasai, melainkan memahami bahwa yang kita cintai juga memiliki dunia, luka, dan cara berpikirnya sendiri.
Sehat itu baru berarti ketika kita sakit.
Tubuh yang selama ini kita paksa bekerja, kita ajak begadang, kita abaikan keluhannya, tiba-tiba menuntut perhatian. Sakit membuat kita berhenti. Ia memaksa kita berbaring dan mendengarkan tubuh yang selama ini kita bungkam. Dalam sakit, kita sadar bahwa kesehatan bukanlah kondisi default, melainkan anugerah yang rapuh. Sama seperti cinta, kesehatan sering kita abaikan justru karena ia hadir tanpa suara.
Alam sering kali membuat kita lapar supaya kita mengerti betapa bahagianya sepiring nasi.
Lapar bukan saja kekosongan perut, lapar menjadi pengingat akan keterbatasan manusia. Kita hidup di dunia yang menawarkan banyak hal, tetapi alam dengan caranya sendiri mengajarkan kesederhanaan. Sepiring nasi yang mungkin biasa saja di hari-hari kenyang, berubah menjadi sumber kebahagiaan yang tak ternilai ketika perut keroncongan. Dari lapar, kita belajar bersyukur. Dari kekurangan, kita belajar makna cukup.
Pertengkaran dengan pasangan itu, sesungguhnya, adalah sebuah cara alam bekerja.
Ia datang bukan untuk meruntuhkan, tetapi untuk membangunkan. Dalam suara yang meninggi, dalam kata-kata yang mungkin melukai, tersimpan pesan yang sering tak sempat kita dengar dalam keheningan. Pertengkaran mengingatkan kita pada rindu: rindu akan cinta yang mungkin kita lupakan, rindu akan kebersamaan yang tertutup oleh rutinitas, rindu akan kehangatan yang tergeser oleh kesibukan dan ego.
Sering kali kita lupa bahwa cinta membutuhkan ruang untuk bernapas. Kita sibuk menuntut, lupa memberi. Kita sibuk berharap, lupa mendengar. Maka alam, dengan caranya yang tidak selalu lembut, menghadirkan konflik. Ia mengoyak kenyamanan semu agar kita melihat kembali satu sama lain dengan mata yang baru. Setelah pertengkaran, ada kelelahan. Tetapi di balik kelelahan itu, ada kejujuran yang jarang muncul di hari-hari damai.
Cinta yang dewasa bukanlah cinta yang bebas dari konflik, melainkan cinta yang mampu bertahan di tengah konflik. Cinta yang berani meminta maaf, berani mengakui salah, dan berani berubah. Dalam pertengkaran, kita diuji: apakah kita mencintai pasangan kita, atau hanya mencintai versi diri kita yang ingin selalu benar. Pertengkaran memaksa kita memilih antara ego dan kasih. Dan pilihan itu, setiap kali, membentuk kualitas cinta kita.
Begitu pula dengan kehilangan. Tidak semua kehilangan harus berujung perpisahan. Kadang, kehilangan hadir sebagai rasa hambar, sebagai jarak emosional, sebagai kebiasaan yang memudar. Namun di sanalah makna cinta diuji. Apakah kita cukup peduli untuk mencari kembali, untuk memperbaiki, untuk menyalakan lagi api yang meredup. Kehilangan adalah undangan untuk kembali hadir dengan kesadaran yang lebih utuh.
Alam tidak pernah kejam tanpa alasan. Ia membuat kita sakit agar kita belajar merawat diri. Ia membuat kita lapar agar kita belajar bersyukur. Ia menghadirkan pertengkaran agar kita belajar mencintai dengan lebih jujur. Dan ia menghadirkan kehilangan agar kita mengerti nilai dari kehadiran. Semua itu bukan hukuman, melainkan pelajaran yang dibungkus dalam pengalaman.
Pada akhirnya, hidup adalah rangkaian pengingat.
Pengingat bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita.
Pengingat bahwa cinta, kesehatan, dan kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dirasakan dengan penuh kesadaran, bukan diasumsikan. Sepiring nasi, pelukan setelah pertengkaran, atau senyum yang kembali setelah hampir hilang, semuanya menjadi indah justru karena kita pernah lapar, pernah marah, pernah hampir kehilangan.
Maka, jika suatu hari cinta terasa goyah, jangan buru-buru menyerah. Mungkin alam sedang berbicara. Ia sedang mengajak kita berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan mengingat kembali alasan kita memilih untuk mencinta. Karena cinta, seperti hidup itu sendiri, baru benar-benar bermakna ketika kita menyadari betapa mudahnya ia hilang.
Jadi:
Cinta itu baru berarti ketika kita kehilangan
Cinta itu baru berarti ketika kita bertengkar
Sehat itu baru berarti ketika kita sakit
Alam sering kali membuat kita lapar
Supaya kita mengerti betapa bahagianya sepiring nasi
Pertengkaran dengan pasangan itu
sebuah cara alam untuk mengingatkan kita
mengapa kita rindu pada cinta yang mungkin kita lupakan