Karya : Ririe Aiko
(Seorang buruh pabrik asal Boyolali,
Jawa Tengah, gagal menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) karena tinggi badannya kurang 0,5 cm dari persyaratan yang ditetapkan, meskipun ia meraih skor tertinggi dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS) (1)
Di negeri pengukur angka,
keadilan dilipat dalam pita meteran,
ditegakkan oleh aturan setinggi tiang,
seakan nasib bisa diukur dengan angka mutlak.
Mereka bilang ini negeri meritokrasi,
tapi di altar birokrasi yang suci,
tinggi badan adalah harga mati,
mengalahkan kecerdasan dan tekad baja.
Tia, perempuan yang merajut mimpi,
di pabrik besi yang membakar tenaga,
menghafal rumus dan pasal undang-undang, (2)
membawa mimpi setinggi cakrawala.
Ia bersaing dalam angka dan logika,
mengalahkan ratusan nama di layar kaca,
tetapi takdir tersandung pada garis pengukur,
158cm sudah aturan baku yang ditetapkan. (3)
Tak bisa diganggu gugat!
Ah, setengah sentimeter,
begitu agung di negeri ini,
lebih perkasa dari kerja keras,
lebih sakral dari ilmu pengetahuan.
Bukankah aturan dicipta agar adil?
Namun di sini, keadilan dikerdilkan,
dalam setengah sentimeter yang congkak,
menginjak mimpi tanpa ampun.
Lihatlah sang birokrat yang berdasi,
dengan pita meteran menggantung di leher,
mengukur manusia dengan akurasi ilmiah,
namun logika entah ke mana hilang.
“Apa arti otak yang encer,
jika tubuh tak menjulang tinggi?”
Karena kurang 0,5 cm adalah standar penting untuk jadi pengabdi negri,
Begitulah bisik aturan tak bisa berkompromi,
Mereka bicara tentang disiplin tinggi,
namun tak mampu melihat lebih jauh,
bahwa kemampuan tak bisa diukur,
dalam hitungan sentimeter yang kaku.
Betapa lucunya negeri ini,
tinggi badan menjadi altar suci,
tempat takdir dipersembahkan,
tanpa ruang bagi kecerdasan dan keahlian.
Tia pulang dengan dada kosong,
menyeret setengah sentimeter di kakinya,
yang terasa lebih berat dari logika,
lebih tajam dari ketidakadilan.
Di kamarnya, cermin terdiam,
mengembalikan bayangannya yang lelah,
seolah berkata tanpa suara,
“Kau kalah, bukan karena tak pintar,
tapi karena tak cukup tinggi untuk punya koneksi.”
Dan di luar sana,
negeri pengukur angka tertawa puas,
melestarikan kebodohan dalam aturan,
mengabadikan setengah sentimeter,
di atas akal sehat dan keadilan.
CATATAN:
(1)Cerita Tri Gagal CPNS karena Tinggi Badan Kurang 0,5 Cm: Langsung Syok https://dtk.id/NKw4ag
(2)https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5930923/buruh-pabrik-peraih-skor-tertinggi-tes-skd-gagal-jadi-asn-karena-kurang-tinggi-05-cm
(3)https://nasional.kompas.com/read/2025/02/21/11383921/penjelasan-kemenkum-soal-buruh-gagal-jadi-pns-karena-tinggi-badan?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Referral&utm_campaign=AIML_Widget_Mobile