Oleh: Rizal Tanjung
–
Di Tengah Riuh Sejarah
Bangsa ini telah terlalu sering menulis sejarah dengan tinta emosinya sendiri — bukan dengan air mata nurani.
Ketika nama Suharto kembali disebut dalam gelanggang perdebatan nasional, kita tak sedang bicara tentang seorang manusia semata, melainkan tentang cara kita berdamai dengan masa lalu.
Sebab, sebagaimana pepatah adat berkata:
> “Nan lalu biarlah berlalu, tapi nan salah jangan ditiru.”
Yang telah terjadi tak perlu dihapus, tetapi wajib diingat agar tak terulang.
Maka, sebelum kita menobatkan atau menolak, marilah kita menundukkan kepala sejenak,
menimbang dengan neraca budaya, menilai dengan timbangan agama, dan menatap dengan mata bangsa yang sudah dewasa.
Pahlawan dalam Cermin Adat dan Agama
Dalam alam pikir adat Minangkabau, pahlawan bukanlah mereka yang hanya berani memerintah,
tetapi yang berani menegakkan kebenaran meski harus berjalan di atas bara.
> “Alam takambang jadi guru,” kata pepatah adat.
Alam mengajarkan keseimbangan: ada siang dan malam, ada puncak dan lembah, ada jasa dan dosa.
Sementara dalam pandangan Islam, pahlawan bukanlah orang yang menang dalam perang,
melainkan yang mampu menaklukkan hawa nafsunya sendiri.
Rasulullah bersabda:
> “Jihad yang paling besar adalah melawan diri sendiri.” (HR. Ahmad)
Maka ketika bangsa ini menimbang Suharto, kita tidak hanya menimbang bangunan yang berdiri, tetapi juga jiwa-jiwa yang roboh di masa kekuasaannya.
Kita tidak sekadar melihat pertumbuhan ekonomi, tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang ikut terkurung di balik tembok kekuasaan.
Cahaya yang Ditinggalkan
Suharto, dalam keheningan sejarah, memang pernah menjadi penyangga negeri yang nyaris roboh.
Setelah 1965, bangsa ini seperti perahu bocor di tengah badai ideologi.
Ia datang membawa ketegasan dan ketertiban; dan dalam genggaman besinya, pembangunan mengalir seperti sungai yang menemukan muara.
Ia menanam sawah, membangun jembatan, mendirikan sekolah, dan menstabilkan harga beras — sesuatu yang tidak kecil di mata rakyat miskin.
Bagi sebagian orang, Suharto adalah bapak yang menyuapi anak-anaknya dengan nasi yang tenang.
Dan di sinilah nilai budaya kita berbicara:
> “Raso jo pareso jadi panghulu urang,”
Rasa dan periksa adalah pemimpin manusia.
Kita tidak bisa menafikan jasa hanya karena luka, tapi kita juga tidak boleh menutup luka hanya karena jasa.
Bayang yang Tak Pernah Hilang
Namun sejarah bukanlah cermin yang hanya memantulkan cahaya.
Ia juga memantulkan bayang yang tak bisa dihapus dengan propaganda atau penghargaan.
Tragedi 1965, penghilangan paksa, pengekangan kebebasan, dan lahirnya budaya ketakutan —
itu semua adalah duri di bawah karpet pembangunan yang mengilap.
Banyak ibu yang masih menunggu anaknya pulang dari ruang gelap masa lalu.
Islam mengingatkan:
> “Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan yang luar biasa — bahwa kita harus berani menyebut jasa, tetapi juga jujur terhadap kesalahan.
Dan itulah inti keadilan: bukan menutup sejarah, tapi menatapnya dengan nurani.
Pro dan Kontra: Suara dari Dua Gunung
Suara pro datang dari mereka yang pernah merasakan kemapanan di bawah kepemimpinannya:
> “Suharto membuat negeri ini beras cukup, harga stabil, dan rakyat tenang.”
Sementara suara kontra datang dari lorong-lorong sunyi:
> “Kami kehilangan suara, kehilangan saudara, kehilangan hak untuk bicara.”
Kedua suara itu tidak perlu diperdebatkan,
karena keduanya lahir dari pengalaman yang sah.
Adat berkata:
> “Basamo manang, basamo kalah.”
Menang bersama, kalah bersama.
Artinya, sejarah bangsa ini adalah hasil dari semua tangan — baik yang membangun maupun yang terluka.
Maka gelar pahlawan seharusnya bukan mahkota emas yang menutup luka,
tetapi jembatan antara jasa dan maaf, antara pembangunan dan kebenaran.
Jalan Tengah: Kearifan Nusantara
Dalam kearifan leluhur kita, keseimbangan adalah dasar kehidupan.
Orang Jawa mengenalnya dengan “memayu hayuning bawana” — memperindah dunia dengan harmoni.
Orang Bugis berkata: “Siri na pacce” — harga diri dan empati adalah nyawa manusia.
Dan dalam Islam, keseimbangan itu disebut “ummatan wasathan” — umat yang berada di tengah, tidak ekstrem pada pujian, tidak pula pada kebencian.
Maka bangsa ini seharusnya menempuh jalan tengah:
mengakui Suharto sebagai bagian tak terpisahkan dari pembangunan nasional,
namun tetap membuka pintu kebenaran bagi mereka yang terluka.
Sebab pengampunan sejati tidak lahir dari lupa, melainkan dari pengakuan yang jujur.
Menghadapi Cermin Sejarah
Sejarah adalah cermin — dan bangsa yang berani menatapnya tanpa berpaling adalah bangsa yang akan tumbuh dewasa.
Pahlawan sejati bukan hanya yang mengangkat negeri,
tetapi juga yang mengajarkan kita tentang batas kuasa dan arti keadilan.
Mungkin Suharto adalah cahaya bagi sebagian,
dan bayang bagi sebagian lain.
Namun keduanya adalah bagian dari tubuh bangsa yang satu.
> “Jikok tapijakkan kaki di lumpur, airnyo akan jernih kalua dihuruik jo tangan bersih.”
Jika kaki kita menginjak lumpur sejarah, biarlah airnya dijernihkan oleh tangan kejujuran.
Gelar pahlawan, bila benar-benar akan disematkan,
hendaknya bukan untuk memutihkan masa lalu,
tetapi untuk menyalakan pelita di masa depan —
agar bangsa ini tak lagi berjalan dalam kabut ingatan,
melainkan di bawah cahaya kebenaran yang lembut.
Sebab di akhir segalanya,
pahlawan sejati bukanlah yang paling kuat atau paling berjasa,
melainkan yang paling jujur menghadapi sejarahnya sendiri.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2025.