Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Suharto: Di Antara Cahaya dan Bayang-Bayang Negeri

(Sebuah Renungan Puitis atas Pahlawan, Dosa, dan Kemanusiaan Bangsa)

Oleh: Rizal Tanjung

Sebuah Negeri yang Berdiri di Atas Tanda Tanya

Negeri ini berdiri di atas tanda tanya yang tak pernah selesai dijawab.
Apakah kita akan mengabadikan nama Soeharto dalam batu marmer para pahlawan,
atau menghapus jejaknya dari halaman Republik yang masih meneteskan darah sejarah?

Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan gelar, melainkan ujian kemanusiaan kita.
Apakah kita sanggup menimbang dosa dan pahala dalam timbangan nurani,
atau kita menyerahkan semuanya kepada keheningan Tuhan yang tahu isi hati manusia?

Seperti embun yang menggantung di ujung daun pada pagi yang ragu,
bangsa ini berdiri di ambang antara penghormatan dan penyangkalan.
Dan di situlah sejarah bekerja—bukan dengan tinta, melainkan dengan air mata.

Tentang Arti “Pahlawan”: Dalam Cahaya Adat dan Bayangan Agama

Dalam adat Minangkabau, dikenal pepatah:

> “Budi baik dibalas dengan budi, air jernih dijaga jangan keruh.”

Artinya, jasa seseorang harus dikenang, tetapi kebenaran jangan dikubur oleh rasa terima kasih semata.
Dalam agama kita pun demikian—Allah menilai bukan dari hasil yang tampak di dunia,
melainkan dari niat dan keikhlasan di balik segala amal.

Pahlawan sejati bukan sekadar mereka yang membangun jalan dan gedung,
tetapi mereka yang menegakkan keadilan, kebenaran, dan kasih sayang kepada rakyatnya.

Bila pembangunan dilakukan di atas tangisan,
bila kemakmuran berdiri di atas pengekangan,
maka sejarah harus bertanya:
apakah itu kemajuan, atau sekadar kekuasaan yang dibungkus retorika kebangsaan?

Sebab bangsa yang bijak tak menulis nama pahlawan hanya dengan tinta pemerintahan,
tetapi dengan darah keadilan dan tinta nurani yang jujur.

Cahaya: Pembangunan yang Mengilap Seperti Fajar

Tak bisa disangkal, Soeharto adalah arsitek zaman Orde Baru—
sang pengendali di tengah riuhnya pasca-1965,
yang membawa bangsa ini keluar dari ketidakpastian ekonomi menuju pertumbuhan yang nyata.

Ia membentangkan jalan-jalan seperti urat nadi di tubuh Nusantara.
Ia mendirikan sekolah di kampung-kampung yang dulu hanya mengenal sawah dan ladang.
Ia menstabilkan harga beras, menurunkan inflasi,
menjadikan Indonesia sebuah negara yang disegani di Asia.

Rakyat di pelosok mengenalnya bukan sebagai penguasa,
tetapi sebagai “Bapak Pembangunan”—
ia yang dari istana tampak menunduk, meski di balik tunduk itu tersimpan kuasa yang tak terbantah.

Bagi generasi tua yang merasakan kestabilan harga,
bagi para petani yang menerima pupuk bersubsidi,
bagi anak-anak yang bersekolah di era wajib belajar,
nama Soeharto adalah matahari di tengah kemiskinan.

Dan sebagaimana pepatah Jawa berkata:

> “Sapa sing nandur, bakal ngunduh.”
Barangsiapa menanam, ia pula yang menuai.

Maka sebagian bangsa ini merasa wajib mengunduh buah pembangunan itu—
sebagai bentuk penghormatan kepada sang penanam yang disebut Soeharto.

Bayang: Luka yang Tak Selesai Ditulis

Namun di balik cahaya yang gemerlap,
ada bayang-bayang panjang yang enggan padam.
Ada tahun-tahun gelap ketika suara rakyat dicekik oleh ketakutan,
ketika malam lebih menakutkan dari gelap itu sendiri.

Ada kisah yang disembunyikan dari buku pelajaran—
tentang mereka yang hilang tanpa kabar,
tentang mahasiswa yang diseret malam-malam,
tentang wartawan yang dipaksa diam.

Di antara barak dan kantor pemerintah,
berdiri tembok tinggi bernama otoritarianisme.
Tembok itu membatasi cinta rakyat kepada negaranya,
sebab negara saat itu telah menjelma wajah tunggal: Soeharto itu sendiri.

Di kampung, ada ibu-ibu yang tak lagi menunggu anaknya.
Di penjara, ada jiwa yang hilang tanpa nisan.
Dan di setiap mulut rakyat,
ada doa lirih agar negeri ini kelak mengenang mereka juga—
bukan hanya sang penguasa yang membuat sejarah besar,
tapi juga mereka yang menjadi korban dari sejarah itu sendiri.

Pro dan Kontra: Dua Lidah Sejarah yang Tak Mau Bersatu

Maka bangsa ini kini terbelah,
seperti dua ombak yang bertemu di muara.

Yang satu berkata:
“Angkatlah Soeharto menjadi pahlawan,
sebab jasanya lebih banyak dari salahnya.”

Yang lain menjawab:
“Tidak, sebab luka bangsa belum disembuhkan,
dan darah belum dibersihkan dari debu kekuasaan.”

Mereka saling menunjuk, saling menakar, saling menghakimi.
Namun lupa, bahwa pahlawan sejati tak butuh penobatan,
karena sejarah sejati selalu diukir oleh waktu, bukan oleh upacara.

Menimbang Dosa dan Pahala

Dalam Islam, dosa dan pahala adalah rahasia Allah.
Namun manusia diberi akal untuk menimbang,
agar kebenaran tidak terhapus oleh kekaguman,
dan kesalahan tidak dikubur oleh jasa.

Kata seorang ulama di pesantren tua di Demak:

> “Tuhan itu adil, tapi sejarah sering tidak.”

Mungkin di situlah letak persoalannya.
Kita terlalu cepat menilai, terlalu mudah memaafkan,
tanpa terlebih dahulu membuka luka dan meminta maaf kepada yang tersakiti.

Adat Melayu pun berkata:

> “Luka di badan boleh sembuh, luka di hati berbekas mati.”

Dan luka bangsa ini belum benar-benar sembuh.
Sebab setiap kali kita menyebut nama Soeharto,
ada hati yang bergetar antara rindu dan dendam.

Apakah Pahlawan Harus Sempurna?

Tidak ada manusia tanpa dosa.
Namun ketika kita mengangkat seseorang menjadi Pahlawan Nasional,
kita bukan sekadar mengingat jasa,
melainkan juga memberi panutan moral bagi generasi mendatang.

Apakah pantas,
seorang yang menanam pembangunan tetapi menebas kebebasan,
kita abadikan tanpa pembacaan ulang terhadap luka masa silam?

Atau,
apakah tidak lebih bijak bila bangsa ini memaafkan,
tanpa melupakan—
menghormati jasa, namun tetap menulis sejarah dengan jujur?

Seperti yang tertulis dalam petuah adat:

> “Nan salah jangan ditutup, nan benar jangan ditinggalkan.”

Di Persimpangan Sejarah

Kita kini berdiri di simpang jalan antara penghormatan dan peringatan.
Satu arah menuju marmer, upacara, dan medali.
Satu arah menuju pengakuan, kejujuran, dan penyembuhan sejarah.

Mana yang akan kita pilih?
Apakah kita akan mencatat Soeharto sebagai pahlawan yang membangun negeri,
atau sebagai penguasa yang meninggalkan luka yang lama?

Jawabannya tidak tunggal.
Ia akan dijawab oleh anak cucu kita kelak,
saat mereka membaca ulang catatan bangsa ini,
dan bertanya:
“Apakah leluhur kami pernah jujur pada sejarahnya?”

Cahaya, Bayang, dan Kejujuran Bangsa

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tak punya luka,
melainkan bangsa yang berani mengobati lukanya dengan kejujuran.

Jika gelar “Pahlawan Nasional” untuk Soeharto diberikan,
maka biarlah itu disertai doa untuk korban—
agar bangsa ini tidak kehilangan arah moralnya.

Dan jika gelar itu ditolak,
maka janganlah kita menolak kebaikan yang telah ditinggalkannya,
karena pemaafan adalah bagian dari kebesaran bangsa.

Di antara cahaya dan bayang,
di antara dosa dan pahala,
di antara undang-undang dan kehendak Tuhan—
di situlah sejarah Soeharto akan terus hidup,
berdenyut dalam dada bangsa ini,
seperti irama waktu yang tak bisa kita hentikan.

> “Sebuah bangsa akan diuji bukan oleh siapa yang mereka sucikan,
tetapi oleh sejauh mana mereka sanggup jujur pada bayangan sendiri.”

Apakah Soeharto kini pahlawan?
Mungkin ya, mungkin tidak.
Namun yang pasti,
ia adalah cermin,
yang memperlihatkan siapa kita sebenarnya—
sebagai bangsa yang mencintai, melupakan,
dan masih belajar untuk memaafkan tanpa menghapus kebenaran.


Sumatera Barat, Indonesia, 2025.