TAHAJUD
anto narasoma
–
pergilah,
karena cuaca telah menua. seribu wajahmu yang kerap hadir pada tiap purnama tersenyum, semakin kelam garis-garisnya
lalu,
berkali-kali
kubuang lewat pintu mimpi, ketika malam menyodorkan rindu
setelah kupeluk dengan ribuan doa
tapi catatan rindu yang mengendap ke dalam kalimat sepenuh wajahmu, tak pernah hilang dari bayang-bayang mataku
maka,
pada malam-malam sepenuh doaku di dalam sujud, aku selalu menasihati diriku sendiri
biar,
biarkan saja
kenangan itu datang
seperti seraut bidadari yang berhias di depan kaca
sepotong rindu
yang mulai menua, kuperam saja
agar ia matang
berkali-kali, menyerahkan cinta-Nya
setelah senyumnya kucium seusai sujud malam
Palembang
12 Juli 2025