Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

TAMBO ADAT MINANGKABAU, JEJAK DATUK MAKHUDUM SATI DAN TITISAN DARAHNYA TEUKU UMAR

Lintasan Sejarah

Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan

Padang, Suaraanaknegerinews.com,- “Adat indak lapuak dek hujan, indak lakang dek paneh.
Nan lamo dipakai, nan baru dikaji.
Dari darek turun ka rantau, dari rantau manuju kamuliaan,” ungkap Ketua Umum LKAAM Prof.Dr.Fauzi Bahar,M.Si Datuak Sati, di kantor LKAAM Sumatera Barat, Jum’at 07/11/2025.

Asal Mula Datuk Makhudum Sati

Kemudian Fauzi Bahar Dt.Sati menjelaskan, dalam tambo lama yang disampaikan turun-temurun di Pariaman dan Ulakan, disebutlah seorang tokoh bergelar Datuk Makhudum Sati, cucu dari salah satu murid Syekh Burhanuddin Ulakan.

Beliau dikenal alim, berilmu tinggi, dan ahli dalam hukum adat serta syarak. Karena ilmunya luas, ia sering menjadi utusan dalam urusan kerajaan dan perniagaan ke negeri Aceh di ujung utara pulau Sumatera.

Dikisahkan, pada suatu masa ketika angin barat bertiup kencang dan ombak menepi ke pantai Tiku, Datuk Makhudum Sati berangkat dengan perahu dagang menuju Meulaboh. Kedatangannya bukan semata mencari harta, tetapi membawa misi dakwah dan silaturahim antara dua bangsa serumpun, Minangkabau dan Aceh. Di tanah itu, beliau disambut oleh orang besar kerajaan Aceh dan diberi tempat terhormat di wilayah VI Mukim.

Gelar dan Kedudukan di Tanah Aceh

Karena kebijaksanaan dan jasa beliau dalam membantu pemerintahan, Sultan Aceh memberikan gelar Teuku Nan Ranceh kepada Datuk Makhudum Sati, tanda kemuliaan dan pengakuan atas ilmunya. Dari sinilah dimulai perpaduan darah Minangkabau dan Aceh yang kemudian menurunkan para pemimpin adat, termasuk di antaranya Teuku Achmad Mahmud, ayah dari Teuku Umar.

Dalam adat Aceh disebut “Ulee Balang”, sedangkan dalam Minang disebut “Penghulu”. Dua gelar ini memiliki makna yang sama,yaitu : pemimpin yang adil, penjaga adat, dan pelindung rakyat. Maka di tangan keturunannya, adat nan tinggi dan syarak nan luhur terus hidup, menjelma dalam watak dan sikap yang teguh, berani, dan cerdik.

Darah Pejuang yang Turun ke Teuku Umar

Dalam tambo adat Fauzi Bahar Dt.Sati menyebutkan :

“Nan bapucuak ka langik, nan baurek ka bumi.
Nan turun dari darah, nan naik dari marwah.”
Artinya, garis keturunan tidak hanya diwariskan melalui darah, tetapi juga melalui marwah dan amanah.

Teuku Umar yang lahir di Meulaboh adalah titisan dari darah juang Datuk Makhudum Sati, darah yang tak gentar pada penjajahan, dan akal yang tak mudah ditipu oleh tipu daya kekuasaan.

Teuku Umar mewarisi dua watak sekaligus
1. Watak Aceh yang keras, pemberani, dan teguh mempertahankan tanah air.
2. Watak Minang yang bijak, sabar, dan lihai dalam menimbang langkah.

Dua sifat inilah yang menjadikannya tokoh luar biasa, bukan hanya di medan perang tetapi juga dalam diplomasi dan strategi. Dalam setiap langkahnya, ada cerminan pepatah Minang:

“Saciok bak ayam, sadanciang bak basi, duduak samo randah, tagak samo tinggi.”
Ia menghormati kawan, menundukkan musuh, dan tetap memegang marwah bangsanya.

Hubungan Dua Bangsa Serumpun

Dalam banyak nagari di Pariaman, kisah tentang Datuk Makhudum Sati masih disampaikan di surau-surau tua. Orang tua bercerita bahwa dari Pariamanlah darah suci itu berangkat, menyeberangi laut luas menuju Aceh Barat. Maka, ketika nama Teuku Umar disebut, orang Pariaman pun turut bangga, karena dalam tubuh pahlawan besar itu mengalir darah Minangkabau, darah seorang Datuk yang pernah menegakkan syarak dan adat di dua negeri.

“Dari Ulakan ka Aceh Barat,
Dari surau ka medan perang,
Nan diwarisi bukan harta,
Tapi marwah dan semangat juang.”

Tambo Sejarah Sepanjang Masa

Tambo ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya deretan tahun dan peristiwa, melainkan jalinan darah, marwah, dan nilai.

Hubungan Teuku Umar dengan Pariaman melalui Datuk Makhudum Sati adalah bukti bahwa Aceh dan Minangkabau bukan dua bangsa yang terpisah, melainkan dua cabang dari pohon yang sama:
pohon Islam, adat, dan perjuangan.

Dengan penuh semangat Fauzi Bahar Dt.Sati menjelaskan
“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,
Syarak mangato, adat mamakai.
Siapa lupa asalnya, hilanglah marwahnya.”

Maka, melalui tambo ini, kita diingatkan bahwa perjuangan Teuku Umar bukan hanya milik Aceh semata, tetapi juga bagian dari sejarah panjang Minangkabau.

Dari Pariaman ke Meulaboh, dari surau ke medan perang, dari doa ke darah. Semuanya bersatu dalam satu kalimat besar, cinta tanah air dan kehormatan bangsa.