April 19, 2026
yusuf2

Oleh Yusuf Achmad

Puisi muda penuh suka cita. “Ayo kita habiskan malam ini. Biarkan gelap mengiringi terang seterang jiwa kita. Menggapai harapan esok yang berbeda. Cita-cita kita pasti berwarna berubah. Seiring waktu yang terburu, berlalu. Mari putar segalanya agar hidup lebih bermakna.”

Puisi berlimpah berpesta. “Hidup indah malam ini. Habiskan air keabadian. Hirup kebahagiaan di mana pun ia berada. Hisap segala yang kita miliki. Jangan biarkan sisa tersisa. Tahun ini dan depan adalah milik kita. Tak ada yang boleh usik, ganggu atau menggoda.”

Puisi jalanan. Ia susuri jalan sunyi. Lampu tanpa cahaya dilewati. Sisa pesta dikumpulkan, dibersihkan, dikuliti. Sebagai hadiah untuk tahun berganti.

Puisi di rumah. Merenung, berkata, “Apa yang berubah? Bukankah hari tetap sama seperti ini? Pagi mengejar siang. Sore menjemput malam. Apa yang berubah? Cintaku masih tak terbalas. Makananku tak terasa manis atau pedas. Minumanku tak puaskan dahaga, tak membekas. Hanya engkau, wahai keterasingan dan kesepian, teman sejati, terus selaras. Oh, siapa yang peduli? Pada mereka yang miskin, sendiri, sedih bahkan terabaikan, terkucilkan. Inikah makna dari pergantian tahun?”

Puisi penjelajah alam. Katanya,” Mentari terbit dari cakrawala, memberi harap di ufuk timur. Burung bernyanyi memecah hening. Daun-daun bergoyang dalam tarian angin. Tahun baru disambut alam. Beriring langkah manusia penuh impian. Di balik pegunungan dan lembah, tersimpan harapan yang tak pernah padam.”

Puisi introspeksi. Berbicara pada dirinya sendiri,” Dalam diri terpendam tanya, apa makna dari yang berlalu? Hati merenung dalam sepi, menimbang dosa dan amal yang tertinggal. Waktu terus melaju tanpa henti, kita mengukir jejak di laju waktu. Akankah tahun ini lebih baik, atau sekadar ulangan kisah lalu?”

Surabaya, 1-1-2025