Menjelang Fajar dan Tahun Baru: Kumpulan Puisi Selektif PPIPM – Indonesia
The illustration of the collection of selected poems from PPIPM Indonesia titled "Menjelang Fajar dan Tahun Baru" (Towards Dawn and the New Year). Image Source: Starcom Indonesia's Artwork No. 925-2 assisted by AI.
/1/
Menjelang Fajar
Puisi: Leni Marlina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar]
Pada tebing waktu,
kami berdiri,
Senja yang pudar mengembun di kaki langit,
Meninggalkan jejak di wajah bumi—
Warna jingga telah menyerah pada kelam.
Ini bukan akhir, hanya lorong tanpa suara,
Di mana detik-detik menggantung,
Seperti daun enggan jatuh
Pada ranting yang tak lagi setia.
Tuhan, apakah kami bagian dari gerak ini?
Atau hanya saksi bisu
Yang menonton gulungan malam
Mengusir sisa-sisa cahaya?
Di celah bayang,
harapan merayap,
Seperti bara yang disembunyikan angin,
Tak menyala,
tak padam,
Hanya menunggu fajar, mengetuk mata dunia.
Oh waktu, pengukir garis di wajah semesta,
Di mana engkau membawa hari ini?
Kami berjalan dalam kabutmu,
Menjaga doa-doa tetap utuh di genggaman.
Fajar, jika engkau tiba,
Jangan hanya menawarkan cahaya,
Bawa serta keberanian
Untuk mencintai hari yang baru,
Meski ia lahir dari luka malam.
Kami tak ingin hanya menjadi penonton,
Tapi ikut bermain di panggung kehidupan ini,
Menulis takdir dengan pena yang tajam,
Melukis langit dengan warna yang kuat.
Di ambang waktu,
kami melangkah,
Bukan untuk meninggalkan,
Tapi untuk menyambut,
Fajar yang membawa nafas kehidupan.
Padang, Sumbar,
1 Januari 2025
/2/
Yang Datang dan Yang Pergi
Puisi: Saunir Saun
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar]
Malam ini adalah malam akhir tahun
Sekaligus ia juga malam awal tahun
Akhir bagi tahun 2024 yang sudah hampir tiada
Awal bagi tahun 2025 yang mengikutinya
Walau terjadi keduanya pada malam ini
Tidaklah dempet cara mereka terjadi
Ia sangat rapi diatur Ilahi
Tuhan yang memiliki langit dan bumi
Begitu rapi keduanya bersambung
Tidak ada ujungnya yang tergulung
Seolah tahun baru menyambutnya tanpa canggung
Rancangan siapakah kalau bukan Tuhan Yang Mahaagung?
Ketika tahun baru datang
Tahun lama langsung menghilang
Tidak tahu kita ke mana ia pergi
Apakah ia terbang ke langit tinggi?
Yang jelas masa yang sudah lepas
Perginya memang tidak jelas
Menguap saja ia barangkali seperti gas
Jejak perginya pun tidak berbekas
Untuk dinapaktilas
Itu mungkin orang bijak masa dahulu
Mengumpamakan masa lalu
Adalah ia jadi paling jauh dari kehidupan
Karena tidak pernah bisa dijangkau tangan
Dari pertukaran yang datang dan yang pergi
Ada pelajaran yang dapat dipelajari
Ketika masa itu masih ada hendaklah diisi
Dengan berbuat kebaikan untuk diri sendiri
Dan siapa saja di sekeliling diri yang mengelilingi
Kalau masih mau memikirkan
Seperti tentang manusia dan binatang makhluk Tuhan
Manakah yang tidak melakukan pergantian
Bahkan dengan cara kematian.
Rumahku, Padang
31 Desember 2024
——————-
*Saunir Saun adalah pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua” dan novel “Lelaki yang Berhijrah”. Selain itu ia sudah menulis
7 buku kumpulan puisi berjudul 55 Puisi-Puisi Berhikmah (jilid 1-7) dan masih ada ratusan judul puisi yang belum dibukukan.
/3/
*TARHIM
Puisi:
Muslimin (Cak Mus)
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Jatim]
tarhim subuh kumandang, tangisku luruh
berpuluh tahun kehilangan waktu
selalu saja berhimpun pundi-pundi angan
bergulat hasrat tak menyadari
detak jantung suatu ketika pasti berhenti
nyata dunia ampas namun tak waswas
kamboja pohon jati berderai mengawasiku
air matanya melarung sunyi
aku diam pura-pura menekuri
padahal mata nyala mencumbui ambisi
segala fana dibidik kalkulasi
seolah dunia digenggam kuasa
tak yakin ada kala yang berhikmah pasti
jika hujan pasti tumbuh menepati
jika kerontang pasti benah mengikuti
jika doa-doa diwujudi
tak ada yang sanggup menghalangi
dan aku bergumam serapah setiap hari
sanggupkah aku pergi
sendiri terhapus jejak sunyi
Lamongan, Jatim,
30 Desember 2024
——————
*Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.
/4/
Kemenangan di Tahun yang Baru
Puisi: Ramli Djafar
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar]
Berjejer
Berderet
Tersusun dengan rapih
Mozaik prestasi
Permata kebanggaan diri
Di rentang -rentang waktu yang telah ditempuh
Ada rasa puas
Mampu mencapai cita-cita hidup
Pintu gerbang keberhasilan
Menjulang tinggi di bukit kesuksesan
Bertahta diantara mega-mega yang selalu berarak
Namun
Dibalik semuanya ini
Jangan lupa segala perjuangan
Jatuh bangun ditempa zaman
Merintih kesakitan didera segala kepedihan
Jangan
Jangan pernah lupakan hal ini
Inilah tanda kemenangan yang sejati
Tiada keberhasilan
Tanpa kekalahan
Tetapi
Selalu mau berjuang atasi segala keterpurukan
Berjuang atasi semua kelemahan diri
Dan kita semua
Sudah
Dan sudah berhasil sebagai pemenang di hidup masing-masing.
Padang, Sumbar,
1 Januari 2025
—————————-
*Ramli Djafar, selain anggota aktif PPIPM-Indonesia dan penulis aktif Satu Pena Sumbar, juga merupakan anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community. Sejumlah puisinya sudah diterbitkan dalam bahasa Cina di jurnal puisi ACC Shanghai International Literary Association.
/5/
Senja Terakhir
Puisi: Zulkifli Abdy
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Aceh]
Ini lembaran senja terakhir
Menanti mentari terbenam
Tahun 2024 akan berganti
Biarkan aku berdiam di sini
Mendekap senja
Di tudung awan
Ada rasa sedih
Pun sukacita
2024 pergi
2025 tiba
Ada perasaan haru
Serta rasa bahagia
Syahdu dibibir kelu
Inilah senja terakhir
Tahun 2024
Menyambut
Tahun 2025
Bias mentari
Bulan
Saksi
Bisu
Oh.
(Beranda, 31 Desember 2024)
/6/
Asa Pergi Tahun Berganti
Puisi: Zulkifli Abdy
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Aceh]
Rindu pagi melanting ranting
Langkahku sekelebat lompat
Tahun berganti asa pun pergi
Aku hanya hamba yang papa.
(Nuansa Pagi, Aceh,
31 Desember 2024)
————-‐—
*Zulkifli lahir di Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.
/7/
Pergantian Waktu
Puisi: Arsiya Oganara
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Lampung]
Pergantian waktu adalah keniscayaan.
Perlahan tapi pasti waktu berlalu bersama sejarah manusia di alam dunia.
Kesuksesan, kedigdayaan, kejenuhan, kecemburuan, ketimpangan, kepastian yang tiada ujung.
Ukiran kisah masa lalu, pijakan masa kini raih keinginan diri, kontemplasi, merenung, dan berpikir.
Gilasan waktu melalui semua alam beserta isinya, secara terpaksa atau rela.
Hidup adalah pilihan, perjuangan dan kemenangan atau kekecewaan dan terhempas hancur lebur.
Lalui halangan dan rintangan laksana rusa lari kencang dalam hutan belantara kehidupan kadang terluka dan terhina.
Pusatkan perhatian pada titik tengah bagaikan busur panah melesat cepat menuju sasaran.
Manusia adalah pemenang diantara jutaan nuftah kala itu. Terus berjuang, berdo’a, dan bersyukur.
Siang berjibaku dengan panas dan hujan, malam nan penuh kedamain panjatkan kata-kata pada Pencipta, balut dengan kehangatan rasa terima kasih.
Pajang pigura indah kehidupan pada setiap pergantian waktu.
Bandung, 1 Januari 2024
————
*Arsiya Heni Puspita – Arsiya Oganara adalah nama penanya. Lulusan Sarjana Ilmu Komunikasi dengan hobi membaca dan travelling. Hobi ini pula yang mengantarkannya menjadi professional Journalist yang sudah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan dinyatakan Kompeten serta Professional Tourist Guide dan Professional Tour Leader, Licensed and Certified dari Disparekraf DKI Jakarta dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Saat ini mulai merambah ke dunia sastra dan kegemarannya menulis tersalurkan dengan menulis cerpen, puisi, puisi esai, dan lainnya.
Arsiya Oganara sangat senang bertemu dengan orang baru, persahabatan bisa dilakukan melalui medsosnya. FB; Arsiya Heny Puspita. IG: arsiyahenyhdl. Email: hennyarsiya@gmail.com.
/8/
Jantung Waktu
Puisi: Leni Marlina
[Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar]
Kita adalah debu yang terbang
di jantung waktu,
terhempas oleh napas semesta
yang tak pernah berhenti,
menggema seperti detak jantung
di ruang tanpa ujung.
Langit tak lagi melukis jingga,
ia kini menyerupai bayang-bayang
dengan tinta cahaya yang mencair
dalam rahim malam.
Bintang-bintang menjelma jadi huruf,
menyusun kitab takdir
yang tak bisa kita baca,
hanya dirasakan di bawah kulit.
Tuhan, apakah Engkau mendengar?
Doa-doa kami mengalir
seperti sungai sunyi,
mencari muara di mata-Mu,
namun sering hilang di kabut
keraguan kami sendiri.
Tahun-tahun berlalu
seperti angin yang merobek pelangi,
meninggalkan warna-warna samar
di sudut jiwa kami.
Tapi fajar yang baru,
seperti janji yang terlupa,
datang dengan cahaya kasar,
mengoyak malam untuk membangun pagi.
Di lorong ini,
kami adalah pemburu harapan,
menganyam mimpi dari puing-puing kesalahan,
menjahitnya dengan benang keberanian
yang tak pernah sempurna.
Oh waktu,
bukan lagi jam atau detik
yang kami genggam,
melainkan napas,
napas yang mengeja
setiap harapan
seperti puisi yang yang berhembus di alam.
Tahun baru,
jadilah perahu,
membawa kami melintasi samudera
yang belum dinamai,
di mana gelombang adalah bahasa
dan angin adalah doa.
Padang, Sumbar,
1 Januari 2025
——————-
*Leni Marlina merupakan pendiri dan ketua Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat); pendiri dan ketua Poetry-Pen International Community.
Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya: (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02, (3) Litterature Talk Community.