THREE CULTURES OF TWO MINAHASANS
oleh Reo Fiksiwan
–
“Budaya memengaruhi pola sosialisasi, yang pada gilirannya membentuk beberapa varian keptibadian(personalty). Karena praktik sosialisasi yang berbeda di berbagai masyarakat, setiap masyarakat memiliki budaya dan sejarah yang unik.“ — Elenoir Maccoby(1917-2018), Psikolog Amerika.
Konsep budaya sangat sulit untuk didefinisikan dan tidak jelas apa yang termasuk dalam dan di luar budaya. Secara teori antroplogi dikenal dengan istilah etik dan emik.
Barangkali definisi bisa diungkapankan, namun merujuk pada yang mutakhir dikenal sebagai tiga budaya(three cultures) dalam masyarakat modern maupun posmoderns. Kalangan ahli mengatakan seperti Jerome Kegan(2009): agama, sains vis a vis filsafat dan konsumsi(kata orang Manado: „po‘ot(smokol)“ yang „nyanda gratis komang.“
Ketiga definisi, jika diuraikan satu-satu akan memakan ratusan halaman, meski demikian ketiga-tiganya cukup memberikan legitimasi yang menyebar. Bahkan sains dituduh dapat melemahkan beberapa bagian budaya, tetapi dapat memperkuat yang lain. Itu pun masih menyisakan satu pesaing lain: keyakinan politik.
Dengan kata lain, ketiga definisi ini dapat dimasukkan ke dalam perubahan politik atau tatanan politik jika cukup kuat untuk berkontribusi pada divergensi. Namun, seperti akan dibahas dalam kasus ini penting untuk menempatkan keyakinan seperti ‘individualisme’ ke dalam konteks yang lebih luas – yang penting di sini, bagaimana “individualisme” berhubungan dengan negara.
Ada juga gagasan antropologis yang lebih luas tentang budaya sebagai kehidupan sehari-hari. Namun, sesuai dengan argumen keseluruhan, budaya hanya berkontribusi pada divergensi maupun sesuai dengan argumen keseluruhan, budaya hanya berkontribusi pada pola makro-sosiologis(covergen) jika perubahan agregat dalam kehidupan sehari-hari dapat ditunjukkan memiliki dampak yang lebih luas.
Akan tetapi menilik sedikit latar sejarah budaya, salah satunya kemunculsn cara untuk berpikir tentang peradaban Barat adalah dengan menganggapnya berasal dari tiga budaya: budaya Athena, Roma, dan Yerusalem. Faktanya, ketiga budaya inilah, yang secara historis saling terkait dan saling terkait erat, yang kita maksud ketika kita menggunakan ungkapan “peradaban Barat.” Peradaban inilah yang kita maksudkan untuk diwariskan dalam pendidikan Kristen klasik.
Sebagaimana dikatakan Marthin Conthran dalam „The Three Cultures“(2022), budaya ini menjadi begitu terintegrasi selama dua milenium terakhir sehingga ketiganya menjadi sulit dibedakan satu sama lain. Ketiga suara budaya yang harmonis ini berbicara kepada kita dari masa lalu dan terkadang sulit untuk dipisahkan. Namun, kita dapat menarik beberapa perbedaan mendasar.
Budaya Yunani bersifat artistik, sastra, dan filosofis. Bangsa Yunani menciptakan seni, drama, dan filsafat representatif seperti yang kita kenal sekarang. Bangsa Romawi, yang kurang teoritis dan lebih praktis, lebih dikenal karena kontribusi mereka terhadap pemerintahan yang tertib, jalan, dan arsitektur.
Budaya bangsa Ibrani dikenal karena sikapnya terhadap Tuhan yang personal dan transenden. Kepada bangsa Ibranilah Tuhan secara langsung menyatakan diri-Nya, dan kepada bangsa Ibrani, umat-Nya sendiri, Dia berurusan—secara individu dan sebagai suatu bangsa.
Ketiga kebudayaan inilah yang, dalam lima abad pertama setelah Kristus, diambil oleh para Bapa Gereja dan diubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada bagian-bagian yang digabungkan: peradaban Barat, yang diwariskan selama dua ribu tahun terakhir melalui apa yang kita kenal sekarang sebagai pendidikan Kristen klasik.
Demikian halnya dua anak manusia berasal dari Minahasa. Sebuah peradaban komunitas manusia — minaesa(disatukan) — yang sejak 200 tahun sebelum Yesus Al-Messias lahir di Galilea, telah ada bila ditilik dari bahasa dan genetik memiliki tujuh subetnik: Toulour, Touwulud, Toutemboan, Tousea, Tousawang, Touraha dan Touselam.
Meski dianggap budaya Minahasa telah ada sejak era purba, beberapa tiga jejaknya — artefak(waruga), mentifak(mapuis), sosiofak(sumekolah) — masih bisa dilacak ikonoklasme dan semiotiknya,meski telah kontraksi dan interkoneksitas dengan pelbagai kebudayaan lainnya seperti Christendom, kolonialisme dan konversi masif sejak abad-17.
Untuk sekedar memumpun jejak kontemporer ini, saya menemukan dua personalitas fenomenal sebagai manusia(Tou) Minahasa. Kedua personalitas ini, meminjam „On Becoming a Person“(1961) Carl R. Rogers“ hendak menunjukkan bahwa representasi keduanya merupakan aktulisasi diri dalam menerjang kebekuan kultur Tou Minahasa di tengah deras dan lesatnya perubahan yang dipasok dari perkembangan „A Secular Age“(2007) filsuf Canada, Charles Taylor(93).
Kedua mereka ini, Rocky Gerung(65), kakak dari mahasiswi saya, mendiang Fernny Gerung(alumni Prodi Jerman, FIB Unsrat) dan Prof. Dr. Ir. Grevo Gerung(mantan Walrek Unsra asal Touwulud dan
Angelina Sondakh(46), putri bungsu Rektor Unsrat(2004-2008), mendiang Prof. Dr. Ir. Lucky Sondakh(1944-2022) asal Kawangkoan(Toutemboan), ekonom lulusan Australia New South Wales yang jadi tempat kelahiran Angie.
Menurut Graafland(1869), kota ini(Kawangkoan) — asal kata „wangko“(besar) dilihat toponim desa-desa sekitarnya, Uner(tengah), Talikuran(Barat) dan Sendangan(Timur) — pernah didatangi Gubernur Jendran Batavia, Christian Pahud pada abad-18 dan sangat memuji alam dan iklimnya. Tentu, ketika itu.
Seperti diulas mendiang Remy Sylado(Japi Abdel Tambayong) asal Maliku(Toutemboan) dalam „Kamus Bahasa dan Budaya Manado(2007), kata Gerung bermakna: motif kembang di kain tenun“ dan Sondakh diartikan „yang mengawasi atau mengintai“ dan merupakan dua marga(fam) dari leluhur Toutemboan(arti: manusia berasal dari tempat tinggi) dan Tombulu(arti: manusia yang tinggal di hutan-hutan bambu).
Dari asal-muasal ini, leluri mereka — Gerung(RG) dan Sondakh(AS) — sebelum dikonversi dalam Kekristenan pada pertengahan abad-19(1831) — menganut religi pagan alifuru(alfoeren) atau sejenis kepercayaan purba dengan menyembah Opo Wananatas(monoteisme) yang dibarengi “asma’ul husnah” antara makasiou pitu(tujuh batih kerabat dan pasiowan telu(dua paguyuban).
Kini, antara Rocky dan Angie, tanpa pernah memprediksi maupun memarkahi „jalan dan kerja“ kebudayaan mereka sebagai biogen Minahasa, sejarah dengan cerlang budaya kedua pesohor ini(https://youtu.be/IXqunzD140I?si=_50ae6uh12UHttR9 dan https://www.instagram.com/reel/DDfwnGez5GL/?igsh=NjZiM2M3MzIxNA==) diarak pada dua atmosfir peradaban — kritik filsafat dan agama — yang dianggap dua paling utama dari hasil peradaban „three cultures“, baik Kegan maupun Couthran —yang mustahil dan musfrah untuk sirna dan dienyahkan justru di era digital eksponensial, superlatif bahkan eskalatif sekalipun.
Jika Rocky dituntun dengan daya untuk menghidupkan pertumbuhan akal budi(rationalism) pada ranah publik, sebaliknya Angie dituntun untuk mengaktifkan fondasi iman(Latin: fides) dalam agama yang telah diyakininya pada pelbagai jamaah yang mengundangnya.
Antara dakwah biologi iman AS sebagai kesadaran fundamental tiap manusia, RG pun mendaratkan kritik tiada ampun pada progresivitas akal yang juga terus bertransformasi ke dirinya mapun di luar dirinya.
Sebagai biogenetik Minahasa, mereka sepantasnya harus diapresiasi — tentu di luar kontroversi ke dan pada keduanya — sebagai pemberi kabar kehidupan ihwal apa yang otentik maupun imitasi seturut kedua pumpunan filsafat dan agama yang mereka emban.
Akal dan iman, dua pumpunan yang tanpa pernah mereka minta, tiba-tiba mengarak mereka di tengah kemaruk dunia politik kita yang sarat dengan ketumpulan akal, kekufuran iman dan pandemi tuna budaya. Kedua fondasi — akal dan iman(mind and soul) — dalam seluruh sejarah peradaban ini telah menakdirkan keduanya sebagai „No Rocky No Party“ maupun „No Angie No Akhlak.“
Meski jejak digital, di antaranya RG(https://www.instagram.com/reel/DDfwnGez5GL/?igsh=NjZiM2M3MzIxNA== ) dan AS(https://www.instagram.com/reel/DDfwnGez5GL/?igsh=NjZiM2M3MzIxNA== ), dipatok sebagai instrumen pedagogi mutakhir pada kedua pesohor asal Minahasa ini, bagi Tou Minahasa ancaman tuna budaya tampak tak dihiraukan. Buktinya, kegamangan dalam budaya politik maupun politik budaya berdampak pada kemerosotan eksistensial kebudayaan Tou Minahasa(lihat tayangan short video saya tiga hari silam).
Dengan langgam dan ragam „the way of habits mereka terus mengisi jalannya alat Paradoks Indonesia — mengutip judul buku Presiden Prabowo Subianto — yang ibunya, mendiang Dora Sigar asal Tolour — terkadang menguncang Tou Minahasa sendiri akibat dipengaruhi iklim politik kontroversi dan kontraproduktif.
Sadar atau tidak, kekalahan dalam Pilkada baru-baru ini, Tou Minahasa terseret dan tanpa sengaja menutup mata-telinga atas reputasi Tole dan Keke yang tentu akan dan terus mengamalkan “kanaramen” leluri mereka: Sitou Timou Tumo Tou(ST4); „Manusia hidup sejatinya harus menghidupkan manusia lain sesamanya.“
Akhirnya, ungkap lirik lagu Minahasa versi Tolour. : Bisa disimak berikut ini:
Waki wale kasenangan
rai-la malewo-lewo‘an
wo rai-ls si kasusa‘an
ni‘itu mo ‚mps‘syingku
/Ke rumah tempat kesenangan/
di mana tak ada lagi perang/
dan tak sukar dan cela/
ke situ aku rindulah/
#Rujukan: https://www.memoriapress.com/articles/the-three-cultures/?srsltid=AfmBOormARFcqdxuabMmY6AQejOwQNJHdSqrTRJvauEffRfHBlIc4ab0; https://philpapers.org/rec/KAGTTC.