Tlatah Jipang: Jejak Prasasti dan Harapan Masa Depan
Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong Blora dan Anggota Satupena Blora
–
Prasasti Maribong menjadi bukti autentik bahwa wilayah Jipang—yang kini mencakup sebagian Blora dan Bojonegoro—memiliki posisi strategis dalam sejarah Jawa. Dikeluarkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana dari Kerajaan Singhasari, prasasti ini memuat pesan mendalam tentang penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan spiritualitas [^1].
Dikeluarkan pada tahun 1186 Saka atau 1264 Masehi, Prasasti Maribong ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Meskipun ditemukan di luar wilayah Jipang, isi prasasti secara spesifik menyebut nama Maribong, yang diyakini sebagai bagian dari Tlatah Jipang. Dalam prasasti tersebut, Maribong ditetapkan sebagai tanah sima swatantra—wilayah perdikan yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak sebagai bentuk penghargaan dari raja [^2].
Dalam baris kelima prasasti disebutkan bahwa Maribong merupakan tanah suci tempat bermukim para Brahmana. Mereka adalah sosok spiritual dan intelektual yang dipercaya telah memberikan kontribusi besar dalam mendampingi leluhur Raja Wisnuwardhana, khususnya dalam proses penyatuan wilayah penting di Jawa. Penobatan ini mencerminkan pengakuan kerajaan atas peran strategis wilayah tersebut dalam mendidik dan menanamkan nilai luhur [^3].
Sejarah mencatat bahwa Sri Ranggah Rajasa, leluhur Raja Wisnuwardhana, berhasil menyatukan dua kerajaan besar, yakni Jenggala dan Panjalu. Menurut Kitab Negarakertagama, proses penyatuan ini tidak terlepas dari peran para Empu—sebutan untuk Brahmana dan guru spiritual—yang diduga bermukim di kawasan Jipang-Maribong [^4].
Menariknya, dalam prasasti tersebut, Wisnuwardhana menggunakan gelar Panji Seminingrat. Gelar ini kemudian juga digunakan oleh Kertawardhana, ayahanda Hayam Wuruk. Kesamaan gelar ini mengisyaratkan kesinambungan simbolik dan penghormatan kepada leluhur yang berakar dari wilayah Jipang [^5].
Kini, Maribong dikenal sebagai Dusun Merbong, terletak di Ngraho, Bojonegoro, tepat di seberang Loram, Blora. Di Loram sendiri ditemukan struktur bata kuno dalam jumlah besar, yang menandakan keberadaan permukiman penting pada masa lampau. Temuan ini merupakan bukti arkeologis tentang kejayaan Tlatah Jipang yang patut dikaji lebih lanjut [^6].
Menurut Dr. Kusharyadi dari Yayasan Kraton Jipang, kawasan ini sejak lama menjadi pusat pendidikan dan spiritualitas. Dari Padangan hingga Kradenan, wilayah ini menjadi tempat para alim dan empu mendidik para bangsawan dalam tata kelola pemerintahan dan ajaran religius [^7].
Dr. Kusharyadi menegaskan bahwa seni budaya era Jipang telah ada wayang , barongan, dan Kopi Khotoq. Ajaran mulia yang mencerminkan kemulian ilmu dan kemuliaan hidup dari Mbah Ngudung (Sunan), Mbah Kudus (sunan Kudus), dan Mbah Mbonang (Sunan Bonang).
Sebagai wali yang dekat dalam membimbing Tlatah Jipang memberikan ajaran yang disebut Uger Uger atau pedoman hidup. Uger-uger ukoro sejati yo sejatining manungso (Pedoman hidup sejati tentang kesejatian manusia), mulo wong urip iku keno diarani kudu percoyo marang batine dewe iku supoyo gegeman ora ilang ampuhe (manusia hidup harus percaya pada keyakinan diri supaya tidak kehilangan jati dirinya).
Ngilmu sing kebak kemandeni ,sabar narimo pasrah percoyo hening lan temen (Ilmu yang sangat bermanfaat dalam hidup, sabar dan tangguh dalam menerima takdir, menyerahkan kepastian takdir setelah berupaya optimal, jernih dalam menganalisis sesuatu dan tekun.
Ojo ambedakake liyo sapodo (jangan suka membeda-bedakan sesama manusia), ojo ambedakake liyo kaweruh (jangan membeda-bedakan sesame karena pengetahuan, pemahaman, dan keyakinan), ojo podo gempal atine (jangan mudah menyerah-berkecil hati).
Ojo keli sakdurunge kecemplung banyu (jangan takut memulai usaha,jangan mudah larut kepercayaan diri dalam interaksi kehidupan bermasyarakat), senengo tetulung marang sapodo urip (bila diperlukan senanglah memberi pertolongan kepada sesama makhluk Tuhan), dan waspodo lan ati ati (mawas diri, waspada, dan berhati-hati).
Pedoman hidup ini mencerminkan bahwa sejak dulu Jipang menyiratkan pola hidup hingga sekarang. Masih ada jejak-jejak peninggalan sejarah yang dapat dirunut. Sebagai contoh Pendidikan dan Pelatihan Akamigas Cepu dan PPSDM Migas merupakan tempat mendidik perminyakan dari dulu hingga sekarang. Pendidikan tersebut dalam wilayah Jipang masih eksis dan bahkan terkenal di manca negara [^7].
Wilayah Jipang diapit oleh dua sungai besar: Bengawan Solo dan Sungai Lusi. Kedua sungai ini melambangkan kehidupan, ilmu pengetahuan, dan kedamaian. Tradisi belajar kala itu disimbolkan dengan meminum air dari tjupu, cangkir tanah liat yang digunakan saat mengkhatamkan kitab, sebagai lambang kesucian dan kehausan ilmu [^8].
Namun, perubahan besar terjadi pada era kolonial. Ketika Cepu dikenal sebagai kota minyak, fungsi religius dan pendidikannya mulai tergeser. Identitas spiritual “Tjupu” yang dahulu sakral perlahan hilang dalam ingatan kolektif. Modernisasi menggantikan simbol-simbol lokal yang mengandung nilai historis dan pendidikan [^9].
Hari ini, Cepu dikenal sebagai simpul strategis antarprovinsi. Namun, jejak sejarahnya sebagai bagian dari tanah perdikan Jipang hampir tak terdengar. Padahal, kota ini memiliki potensi besar untuk mengembalikan jati dirinya sebagai pusat ilmu dan spiritualitas dengan basis warisan budaya yang kuat [^10].
Sudah saatnya Cepu menghidupkan kembali identitas historisnya. Pendidikan, spiritualitas, dan peradaban adalah warisan Tlatah Jipang yang tidak boleh padam. Dengan rekonstruksi sejarah dan revitalisasi nilai-nilai lokal, Cepu dapat tumbuh menjadi kota ilmu yang berakar kuat pada kebijaksanaan masa lalu.
Prasasti Maribong bukan sekadar artefak sejarah. Ia adalah pesan lintas zaman. Ia menyapa masa depan dengan mengajak kita menggali akar budaya, merawat nilai, dan menumbuhkan harapan dari tanah yang telah lama menyimpan cahaya pengetahuan.
___
Catatan Kaki:
[^1]: Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. Sejarah Nasional Indonesia, Jilid II. Balai Pustaka, 2008.
[^2]: Santiko, Hariani. “Beberapa Prasasti Masa Singhasari”, Berkala Arkeologi, No. 11, 1985.
[^3]: Prasasti Maribong, transliterasi oleh Pusat Dokumentasi Dinas Kebudayaan Jatim (versi digital 2020).
[^4]: Pigeaud, Theodore G.Th. Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, The Hague: Martinus Nijhoff, 1960.
[^5]: Robson, Stuart. Desawarnana (Nagarakretagama), Leiden: KITLV Press, 1995.
[^6]: Temuan arkeologis Loram dilaporkan dalam survey Balai Arkeologi Yogyakarta, 2017.
[^7]: Kusharyadi, KRT. Jipang: Dari Tanah Perdikan ke Titik Strategis Budaya, Yayasan Kraton Jipang, 2021.
[^8]: Tradisi minum air dari tjupu dalam pendidikan tradisional Jawa dikaji dalam penelitian Mulyadi (2015), Simbolisme dalam Tradisi Akademik Islam Jawa.
[^9]: Rekaman sejarah kolonial Cepu sebagai kota minyak dapat ditelusuri dalam laporan Kolonial Belanda 1893-1920 (arsip KITLV).
[^10]: Studi kebijakan kawasan dan potensi budaya Cepu, Bappeda Blora (2022)