April 17, 2026
walhi

Yaya (kiri) almarhumah dan Swary Tami Dewi

Oleh Tami – Swary Utami Dewi

Saat mendengar berita wafatnya Yaya — panggilan akrab Nur Hidayati — aku menggumam dalam hati, “Yaya orang baik”. Doa-doa pun kupanjatkan. Al Fatihah.

Sekitar setahun ini, aku tahu dari Mbak Nunung — panggilan Nur Amalia, kakak Yaya — bahwa Yaya sakit. Aku memang cukup dekat dengan Mbak Nung karena perjumpaan langsung dalam banyak kegiatan. Sementara dengan Yaya, jarang. Sesekali saja. Mbak Nung-lah yang terkadang mengabarkan kondisi adiknya di Grup WhatsApp (WA) kami, termasuk kemarin saat Yaya dioperasi.

Bagi banyak orang, sakitnya Yaya cukup mengagetkan. Bukan karena menyangkal ia sakit. Tapi karena sosok tangguhnya yang tanpa rasa takut. Ya, ia memang sangat tangguh. Yaya sangat terkenal ketika menjadi Direktur Nasional WALHI. Terkenal karena ia bernyali besar, di balik tubuh mungilnya yang gesit bergerak. Ia juga terkenal mampu merangkul banyak pihak, terutama para aktivis di luar isu lingkungan. Maka saat Yaya memimpin, cukup terasa spektrum WALHI yang masuk ke isu-isu lain seperti hak asasi manusia (HAM), gender, dan adat. Yaya dengan terampil menggabungkan berbagai isu dan bergandengan tangan dengan organisasi-organisasi sipil lainnya untuk menyuarakan ketidakadilan, HAM, gender, lingkungan, dan banyak lagi.

Apakah karena Yaya perempuan maka ia lebih luas melihat horison dan mampu merangkul? Atau karena ia selalu punya senyum manis yang menenangkan dan menyenangkan sehingga banyak yang leleh dengan cara persuasifnya? Ataukah karena banyak yang suka dengan gayanya yang tanpa tedeng aling-aling ketika ia menyuarakan hal yang prinsip? Tampaknya Yaya adalah magma, yang bisa didekati dari berbagai sisi. Sesekali ia tenang dan menyenangkan untuk perkawanan,.namun di lain waktu ia bersikap tegas dan tanpa kompromi untuk hal-hal prinsipil.

Yaya dan Rekan-Rekan Pegiat Lingkungan Hidup

Aku mencari-cari fotoku dengan Yaya, dan lega menemukan satu foto. Itu saat kami bertemu di bandara dan ada di pesawat yang sama, lalu berfoto dan ngobrol sesaat. Itu saja perkawananku dengan Yaya. Sesekali, kami bertukar pesan melalui WA jika ada hal tertentu, atau saling menyapa dan ngobrol jika kebetulan bertemu di satu forum. Tentu selalu saja ada ketenangan dan senyum yang menyenangkan itu.

Akhir 2019 aku terkena demam berdarah yang menguras habis energi. Untuk berjalan rasanya lemas dan mau pingsan. Susah sekali untuk bergerak meski hanya selangkah. Hampir sebulan kondisi itu kualami. Dan belum lagi pulih aku sudah punya komitmen untuk kegiatan akhir tahun di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Aku memutuskan untuk tetap datang meski badan masih tak berdaya.

Turun dari mobil aku berjalan sempoyongan ke lobi. Rasanya lemah dan lelah. Lalu seseorang menyapa. “Halo, Tami”. Ah, ternyata si baik itu. Yaya memberikan senyum dan menyapaku. Katanya aku pucat sekali. “Iya, sedang sakit,” jawabku perlahan.

Setiap dua puluh meter berjalan aku harus berhenti cukup lama untuk mengambil napas. Yaya menemaniku dengan sabar. Ia membantu membawakan dua tasku di satu tangan, seraya tangan satunya memegangiku. Setiap aku berhenti, bahkan di beberapa tempat jika ada bangku aku duduk, maka ia pun menemani dengan sabar. Dari Blok 4 ke Ruang Rimbawam rasanya lama sekali.

Sampai di ruangan, Yaya menemaniku mencari tempat duduk yang aman, menaruh tasku di sebelahku. “Sebentar ya, Tam.” Lalu ia menghilang entah ke mana. Sesaat kemudian ia datang membawa satu boks makanan dan sebotol air. “Yuk makan dulu, sudah hampir siang “. Aku bengong. Lalu ia membuka makanan dan segel botol kemasan itu. Sedetik kemudian, ia pamit karena harus mengurus acara di ruangan lain.

Aku bengong, tapi senang. Lalu aku makan dengan lahap. Sesaat kemudian aku jadi moderator di acara itu. Meski masih lemas, tapi bantuan Yaya hari itu telah membuatku mampu menjalani hari dengan baik.

Yaya telah dipanggil Allah pada 5 November 2024. Usianya relatif masih sangat muda, 51 tahun. Meski demikian, seperti yang diketahui banyak orang , sudah banyak yang dengan rela dan konsisten ia lakukan untuk lingkungan dan manusia. Namanya tercatat di benak banyak orang yang diadvokasinya,.di berbagai YouTube, berita dan bentuk catatan lainnya. Bak gajah meninggalkan gading, gading Yaya adalah baktinya untuk kemanusiaan dan lingkungan.

Karena terkenal baik, maka kebaikan Yaya terlihat dengan begitu banyak yang mendoakanya. Ratusan sahabat Yaya mendoakannya secara bersama pada 7 November 2024 malam. Tidak hanya itu, di pojok-pojok sana juga tentu ada yang mendoakan perempuan mungil yang sering memberikan senyuman manis ini. Aku juga turut berdoa. Sebenarnya aku mau menangis keras, tapi aku tahu bahwa kakaknya, Mbak Nung, dan orang tua serta keluarga Yaya, yang lebih berhak berduka daripada aku — seorang kawan yang hanya sesekali berjumpa.

Ah Yaya, masih banyak sebenarnya kiprahmu yang ingin kusalsikan. Tapi jika Allah ingin mengambil orang yang dicintai-Nya, tak mampu jua manusia menghalangi. Aku yakin Allah telah menetapkan yang terbaik dan memberi Yaya tempat terbaik pula. Maka, selamat jalan, perempuan baik. Tetaplah tersenyum dan jadi orang baik di sana.