Oleh: Rizal Tanjung
—
1 — Pantai yang Tak Pernah Tidur
Laut memanggilku dengan suara yang pernah kukenal—
bukan ombak, bukan angin, tapi denyut dari masa lalu.
Setiap buihnya menyebut namamu,
dan pasir menulis ulang langkah kita yang telah dihapus waktu.
Aku berdiri di antara dua keheningan:
yang pernah memiliki, dan yang kini hanya mengenang.
Dari situ aku tahu,
bahwa cinta bukan sesuatu yang pergi,
melainkan sesuatu yang terus berputar—seperti pasang dan surut,
tak pernah tidur dalam tubuh laut.
—
2 — Rumah di Ujung Kenangan
Rumah kayu itu masih berdiri,
seperti altar bagi doa-doa yang tak sempat selesai.
Dindingnya menyimpan debu tawa kita,
dan langit-langitnya menggantungkan sisa percakapan yang membeku di udara.
Aku mengetuk pintu dengan jari waktu,
dan dari dalam terdengar gema langkahmu,
langkah yang dulu mengantarku ke jendela senja.
Rumah itu kini kosong, tapi tidak hampa—
ia dihuni oleh bayang-bayang yang tahu cara mencintai tanpa tubuh.
—
3 — Bunga di Vas Semen
Vas itu masih di sana.
Tak indah, tak mahal, tapi jujur.
Bunga-bunga liar yang dulu kupetik kini berubah menjadi saksi,
menyimpan wangi yang tak bisa dijelaskan oleh dunia.
Aku duduk di depannya,
menyiramnya dengan air laut,
seperti menyirami masa lalu agar tidak mati sepenuhnya.
Bunga itu tak menua,
karena cinta, rupanya, tak mengenal kalender.
—
4 — Perawan dari Cahaya
Ia datang dari arah laut,
berjalan tanpa menjejak pasir.
Rambutnya panjang, mengalun seperti malam yang baru dilahirkan.
Tatapannya — oh, tatapan itu — memecahkan seluruh duka yang kupeluk.
Ia berkata lirih:
“Engkau yang menanamku,
engkau pula yang menuai rindumu sendiri.”
Dan di saat itu,
aku tahu bahwa yang berdiri di hadapanku
bukanlah manusia, melainkan doa yang menjelma.
—
5 — Rindu yang Menjelma Tubuh
Ketika jari-jarinya menyentuh bahuku,
semua laut menjadi tenang.
Gelombang berhenti, angin membisu.
Aku menatapnya tanpa keberanian,
karena setiap keindahan terlalu suci untuk ditatap langsung.
“Engkau datang terlambat,” katanya.
Dan aku hanya mampu menjawab:
“Barangkali waktu harus hancur dulu,
baru aku tahu arah pulang.”
—
6 — Surat yang Tak Pernah Terkirim
Di antara retakan kayu rumah,
ada surat-surat yang tak pernah sampai.
Tulisan tanganku telah kabur,
tapi tintanya masih berdenyut di dalam kayu.
Setiap hurufnya adalah doa,
setiap koma adalah napas yang tertahan.
Kini aku membacanya kembali,
bukan untuk mengenang,
tapi untuk memahami:
bahwa yang tak sampai pun, punya caranya sendiri untuk tiba.
—
7 — Langkan Sunyi
Langkan tempat kita dulu menatap matahari,
kini berlumut oleh air mata yang tak pernah kering.
Aku duduk di sana,
menatap laut yang memantulkan wajahmu di antara buih.
Aku berbicara pada angin,
dan angin menjawab dengan diam yang bergetar.
Kadang aku ingin melompat ke dalam waktu,
tapi laut terlalu jujur untuk menipuku.
Ia hanya berkata:
“Yang telah karam, tak perlu diselamatkan.
Biarkan ia menjadi dasar bagi cinta yang baru.”
—
8 — Warna dari Luka
Aku mengira luka hanya melahirkan gelap,
tapi malam ini aku melihat warna.
Merah dari keberanian,
biru dari pengertian,
dan hijau dari doa yang tak pernah padam.
Bunga-bunga di vas itu memantulkan cahaya,
menenun robekan di dadaku menjadi tenang.
Aku menyadari sesuatu:
barangkali cinta memang diciptakan untuk menyakiti,
agar manusia belajar bagaimana sembuh tanpa melupakan.
—
9 — Air Mata yang Menumbuhkan Cahaya
Tetesan air mataku jatuh ke dasar vas,
dan sesuatu tumbuh di sana —
cahaya kecil, seperti benih bintang yang basah.
Bunga-bunga itu bergoyang,
menyambut kesedihan dengan lembut,
seolah berkata:
“Kesedihan bukan musuh,
ia hanyalah musim yang datang agar kau tahu cara menanam bahagia.”
Dan aku pun tersenyum,
karena kini aku tahu:
bahkan tangis pun bisa menjadi bentuk cinta.
—
10 — Laut yang Berbicara dalam Tidur
Di dalam mimpiku, laut berbicara.
Ia berkata dengan bahasa yang hanya bisa didengar oleh jiwa:
“Tenanglah, pelaut tua,
karena peta rindumu telah terlukis di cakrawala.”
Aku melihat dirimu berjalan di atas air,
membawa setangkai bunga yang dulu aku petik.
Kau menatapku, tersenyum.
Dan aku mengerti—
tak ada perpisahan di dunia ini,
hanya perubahan bentuk dari cara kita saling memanggil nama.
—
11 — Ombak yang Mengabarkan Waktu
Malam itu laut tak berisik, hanya memantulkan cahaya bulan seperti kenangan yang tak mau mati. Aku duduk di antara pasir dan angin, mencoba membaca kembali waktu di wajahmu yang pernah tersenyum. Tapi setiap gelombang yang datang justru membawa bayangmu yang menjauh. Aku tahu, rindu adalah penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh jarak — hanya bisa dipeluk oleh kesabaran yang perlahan membusuk.
—
12 — Surat dari Angin Timur
Pagi datang tanpa suara. Seekor camar menukik, meninggalkan jejak di udara seperti surat yang tak pernah dikirim. Aku menulis namamu di pasir, tapi ombak menghapusnya lebih cepat dari yang kukira. Mungkin laut cemburu, atau mungkin ia hanya tahu: tak ada nama yang kekal di tepi kesedihan.
—
13 — Ketika Bunga Tak Lagi Bermekaran
Bunga di pot tanah liat itu kini kering. Aku menyentuhnya dengan hati-hati, seolah masih ada kehidupan di sana. Tapi yang tersisa hanya debu dan kenangan tentang tanganmu yang dulu menanamnya. Aku tak tahu, apakah cinta juga bisa layu seperti itu — bukan karena lupa, tapi karena terlalu lama ditunggu hujan yang tak kunjung tiba.
—
14 — Di Bawah Langit yang Tak Pernah Sama
Langit sore seperti wajah asing yang tak lagi ramah. Awan berjalan membawa pesan yang tak sempat kubaca. Aku berdiri di tepi pantai, berharap ombak membawamu kembali, tapi yang datang hanyalah sunyi — panjang, dingin, dan tanpa arah. Di dadaku, masih ada ruang yang belum kututup, ruang untukmu yang tak kembali.
—
15 — Hujan di Dalam Laut
Aku bermimpi laut menangis, dan setiap tetes air matanya berubah menjadi hujan di mataku. Mungkin itu cara semesta mengirim kabar tentangmu. Dalam mimpi itu, kau berdiri di tepi dermaga, mengucapkan sesuatu yang tak kudengar. Saat aku berlari mendekat, wajahmu lenyap, diganti badai. Aku terbangun dengan dada sesak, dan laut di luar sana masih bergemuruh memanggil namamu.
—
16 — Sepotong Cahaya di Ujung Dini Hari
Di antara cahaya dini hari, aku melihat siluet tubuhmu berjalan ke arah laut. Aku mengejarnya — tapi setiap langkah yang kuambil membuat jarak semakin jauh. Seperti cinta yang ingin pulang tapi tak tahu rumahnya di mana. Angin memelukku, dingin, namun lembut, seolah ingin berkata: “Ia tidak pergi, hanya berubah menjadi waktu.”
—
17 — Ombak yang Tak Tidur
Laut tidak pernah tidur, seperti rinduku yang tak mau padam. Setiap kali aku menutup mata, aku mendengar suaramu dipanggil oleh arus yang menua. “Rizal…” bisik ombak itu. Aku menoleh, tapi yang kulihat hanyalah diriku sendiri — tua, lelah, menunggu seseorang yang mungkin sudah menjadi bagian dari debu bintang.
—
18 — Sepasang Jejak di Pasir Senja
Aku menemukan dua jejak kaki di pasir sore ini. Entah milik siapa. Tapi di hatiku, aku tahu itu milik kita — jejak yang tak pernah benar-benar hilang, hanya tertutup ombak sementara. Aku duduk di sampingnya, berharap bisa berbicara dengan pasir. Tapi pasir hanya diam, seperti enggan mengingat kenangan yang terlalu indah untuk diulang.
—
19 — Luka yang Menulis Dirinya Sendiri
Cinta itu aneh — ia bisa menjadi obat sekaligus luka yang menulis dirinya sendiri di dada. Aku mencoba menghapusnya, tapi seperti tinta asin, ia meresap semakin dalam. Aku berdoa agar waktu menghapus segalanya, tapi waktu justru memperpanjang rinduku. Mungkin karena kau bukan sekadar seseorang, tapi seluruh alasan mengapa laut ada.
—
20 — Kapal yang Tak Pernah Berlabuh
Setiap malam aku mendengar suara kapal dari kejauhan. Tapi tak ada lampu, tak ada bayangan. Hanya gema pelan, seperti hatiku yang menolak berhenti berharap. Aku tahu, ada cinta yang lahir untuk sampai, dan ada cinta yang ditulis hanya untuk tenggelam. Aku adalah kapal itu — takdirku adalah menunggu di dermaga yang kau tinggalkan.
—
21 — Surat yang Tak Pernah Selesai
Aku menulis lagi malam ini. Kertas di pangkuanku sudah lembab oleh angin laut, tinta mulai mengalir seperti darah luka yang tak kering. Surat ini bukan untuk dikirim — hanya untuk disesali. Aku menulis namamu berkali-kali, tapi setiap hurufnya seolah bergetar, menolak menjadi utuh. Mungkin karena hatiku sudah tak mengenal kata ‘selesai’.
Surat itu kugulung, lalu kulempar ke laut. Biarlah arus membacanya, biarlah ombak menyimpannya. Karena hanya laut yang masih percaya, bahwa cinta bisa menulis dirinya sendiri bahkan setelah waktu berhenti.
—
22 — Bayangan di Dermaga Lama
Aku datang ke dermaga yang dulu pernah menjadi saksi tawa kita. Kayunya kini lapuk, tali tambat berkarat, dan burung-burung tak lagi berani hinggap. Tapi aku tetap menunggu — karena di setiap hembus angin, aku masih bisa merasakan wangi rambutmu.
Bayanganmu berjalan di ujung dermaga, samar seperti kabut pagi. Aku berlari, tapi bayangan itu memudar sebelum sempat kusentuh. Hanya suara laut yang tersisa, berbisik: “Ia telah menjadi angin.”
—
23 — Di Antara Dua Senja
Ada senja yang merahnya seperti luka, dan ada senja yang tenangnya seperti doa. Aku berdiri di antara keduanya — di titik di mana cinta berhenti berwujud manusia dan berubah menjadi cahaya.
Langit perlahan runtuh di mataku. Aku sadar, bahwa setiap pertemuan adalah janji yang diam-diam menyimpan perpisahan. Seperti laut dan pantai — selalu bersama, tapi tak pernah benar-benar memiliki satu sama lain.
—
24 — Nyanyian dari Perahu Tua
Suatu malam aku mendengar nyanyian datang dari tengah laut. Suara itu lirih, seperti doa yang terlupa. Aku mendengarkannya lama, sampai aku tahu — itu bukan suara manusia. Itu suara rindu yang menyamar jadi lagu.
Perahu tua itu bergerak perlahan, tanpa awak, tanpa tujuan. Di buritannya, tergantung lentera kecil yang hampir padam. Di cahayanya, aku melihat wajahmu — tersenyum seperti waktu pertama kali kau memanggil namaku. Lalu cahaya itu tenggelam, dan laut kembali gelap.
—
25 — Hujan yang Menyebut Namamu
Hujan turun dari langit seperti ribuan tangan yang tak sempat berpisah. Aku menatap ke atas — setiap tetesnya menyebut namamu, memukul pasir, dan menghapus jejak langkahku sendiri.
Aku membiarkan diriku basah, biar tubuhku jadi bagian dari laut yang kau tinggalkan. Aku ingin lenyap dalam bunyi hujan, agar dunia berhenti bertanya: “Apakah ia masih menunggu?”
Ya, aku masih menunggu, tapi mungkin bukan dirimu — mungkin hanya diriku yang lain, yang dulu bahagia di sisimu.
—
26 — Musim yang Tak Mau Pulang
Angin musim utara datang lebih cepat tahun ini. Ia membawa aroma asin dan berita buruk dari jauh. Aku tahu, laut sedang berubah: gelombangnya tinggi, warnanya kelabu, seperti hatiku yang kehilangan arah.
Aku berdiri di bibir pantai sambil menatap cakrawala yang tak lagi ramah. Di sana dulu kau pernah berjanji: “Aku akan kembali sebelum angin pertama datang.” Tapi kini angin telah datang, dan hanya kesunyian yang menepati janjinya.
—
27 — Di Tubuh Waktu yang Patah
Aku belajar hidup tanpa kau. Tapi hidupku seperti jam yang kehilangan jarum. Waktu berjalan, tapi aku tidak ikut bersamanya. Aku hanya menjadi penonton yang duduk di tepi laut, menunggu peristiwa yang sudah berlalu.
Kadang aku berpikir, mungkin cinta ini memang tak diciptakan untuk bahagia — hanya untuk mengajarkan bagaimana rasanya kehilangan dengan cara yang paling indah.
—
28 — Laut yang Tak Menjawab
Aku berbicara pada laut setiap malam, seolah ia bisa mengerti bahasa manusia. Aku ceritakan semua — dari senyum pertamamu hingga malam terakhir yang tak sempat kita akhiri. Tapi laut hanya diam. Ia mendengarkan tanpa menjawab, seperti Tuhan yang terlalu jauh untuk ditanya.
Namun aku tetap datang, karena aku tahu — diam juga bentuk kasih, seperti laut yang selalu memeluk pantai tanpa suara.
—
29 — Lentera di Batu Karang
Aku menyalakan lentera di atas batu karang. Cahayanya kecil, tapi cukup untuk menandai bahwa masih ada seseorang di sini — seseorang yang belum lelah menunggu.
Setiap malam lentera itu bergetar diterpa angin, dan aku takut ia padam sebelum kau sempat melihatnya dari kejauhan. Tapi mungkin, justru dengan padamnya cahaya itu aku akan belajar: bahwa menunggu tak selalu berarti berharap, kadang hanya cara untuk tetap hidup.
—
30 — Doa yang Tenggelam
Pagi ini laut terlalu tenang. Tidak ada burung, tidak ada suara ombak. Aku berjalan perlahan ke arah air, membiarkan dingin menembus kulitku. Di tanganku, bunga putih yang dulu kau tanam — kini layu dan rapuh.
Aku melepaskannya ke laut. Bunga itu terapung sejenak, lalu tenggelam pelan, seperti doa yang tak sampai ke langit.
Dan saat air menyentuh dadaku, aku tersenyum — karena akhirnya aku mengerti:
Cinta yang sejati bukan yang menunggu untuk kembali,
tapi yang berani tenggelam tanpa menyesal.
—
31 — Nama yang Terlupakan di Angin
Aku mendengar seseorang memanggil namaku dari arah laut. Suara itu lembut, nyaris seperti nyanyian yang dilupakan masa kecil. Aku menoleh, tapi tak ada siapa pun. Hanya debur ombak yang terus mengulang satu nama — namamu.
Malam itu aku sadar, yang kupanggil selama ini bukan kau, melainkan bayangan diriku yang dulu hidup bersamamu. Dan kini, yang tersisa hanyalah gema yang menua di dada angin.
—
32 — Jalan Menuju Diri yang Hilang
Aku berjalan mengikuti jejak kaki yang tak kukenal. Setiap langkah terasa asing, tapi entah mengapa aku tahu ke mana ia menuju. Hujan tipis turun, membasahi pasir, menghapus arah.
Mungkin hidup memang bukan tentang menemukan seseorang, melainkan kehilangan diri sendiri perlahan, agar cinta punya ruang untuk tumbuh di antara kehampaan.
—
33 — Di Bawah Langit yang Tak Berbintang
Malam tanpa bintang seperti hati tanpa doa. Aku berbaring di pasir yang dingin, menatap gelap yang tak menjawab.
Dulu aku percaya bintang adalah mata para kekasih yang menunggu. Tapi kini aku tahu — beberapa bintang mati tanpa sempat berpamitan, seperti cinta yang padam sebelum sempat dijelaskan.
Aku berdoa tanpa suara, agar setidaknya laut tahu: aku masih mencintaimu, meski tak lagi berharap.
—
34 — Kapal Tanpa Nama
Suatu malam, dari jauh aku melihat kapal melintas. Tak ada lampu, tak ada bendera. Hanya bayangan hitam di atas air yang tenang.
Aku berpikir: mungkin di sanalah kau berada — di kapal yang menolak disebut, agar kenangan tetap hidup tanpa tujuan.
Kapal itu menghilang di balik kabut. Tapi suara dayungnya masih terdengar di telingaku, seperti denyut yang tak mau berhenti.
—
35 — Hening yang Mengubur Doa
Aku mencoba berdoa lagi pagi ini, tapi kata-kata terasa berat. Setiap kalimat berhenti di tenggorokan, seperti ombak yang tak sempat pecah di batu.
Mungkin Tuhan sudah muak mendengar doa yang sama dari mulut yang sama, tentang cinta yang sama. Maka aku diam saja. Karena diam, pada akhirnya, juga bentuk pengakuan.
—
36 — Perempuan dari Kabut
Suatu pagi, kabut turun tebal di pantai. Dari kejauhan aku melihat sosok berjalan perlahan. Rambutnya panjang, pakaiannya basah oleh embun. Aku terpaku.
Ketika kabut terbelah, aku melihat wajahmu — muda, tenang, seolah tak pernah mengenal luka. Aku melangkah, tapi kabut menutup lagi, menelannya seperti laut menelan rahasia.
Mungkin kau memang datang, tapi bukan untuk tinggal. Hanya untuk memastikan bahwa aku masih di sini, masih hidup, masih menunggu.
—
37 — Pasir yang Menyimpan Denyut
Aku duduk di pasir dan menempelkan telingaku ke tanah. Ada bunyi samar di bawah sana, seperti detak jantung yang jauh.
Mungkin itu suara bumi, atau mungkin laut berbicara melalui akar-akar sunyi. Aku mendengarkan lama, hingga aku tahu — bahkan tanah pun masih mengingat langkahmu.
—
38 — Surat Kedua untuk Laut
Laut yang kucintai,
Jika suatu hari aku tak lagi datang, jangan bersedih. Aku tak pergi — aku hanya berubah bentuk: menjadi angin, menjadi cahaya, menjadi debu di tepi air.
Aku titipkan namanya padamu. Simpanlah di kedalamanmu, di tempat ikan-ikan lupa bernapas dan waktu berhenti berjalan.
Karena cinta bukan untuk diingat, tapi untuk ditenggelamkan agar abadi.
—
39 — Doa yang Terbalik
Aku memanjatkan doa hari ini dengan cara yang salah — bukan ke langit, tapi ke laut.
Aku berkata: “Kembalikan dia.”
Laut menjawab dengan ombak besar yang hampir menyeretku. Aku terjatuh, dan untuk pertama kali, aku tak melawan. Aku membiarkan air menutup wajahku, membiarkan asin menggantikan udara.
Di antara arus, aku melihat sesuatu: sepasang mata yang tersenyum padaku.
Dan aku tahu, laut telah menjawab doaku dengan cara yang paling jujur — dengan keheningan.
—
40 — Cahaya di Bawah Air
Aku tak tahu berapa lama aku di bawah air. Tapi aku melihat cahaya, lembut, bergerak perlahan seperti tangan yang mengundangku mendekat.
Cahaya itu berubah menjadi bentuk tubuhmu — berkilau, damai, tak lagi berwajah manusia.
Kau mendekat, memelukku. Laut menjadi tenang. Semua bunyi hilang.
Aku tidak takut. Karena di pelukanmu, bahkan kematian pun terasa seperti rumah.
—
41 — Tidur di Dalam Laut
Kini aku tidur di dalam laut. Tak ada siang, tak ada malam. Hanya riak halus yang menggantikan detak jantung.
Ikan-ikan lewat di antara rambutku, dan bunga laut tumbuh di dadaku. Mungkin beginilah caranya alam menulis ulang kisah cinta: bukan di kertas, tapi di tubuh yang kembali ke asalnya.
—
42 — Laut Menjadi Makam
Orang-orang datang ke pantai, menabur bunga, berdoa dalam diam. Mereka tak tahu, aku di sini, di bawah kaki mereka. Aku mendengarkan doa-doa itu — sebagian untukku, sebagian untuk diri mereka sendiri.
Aku ingin menjawab, tapi suaraku kini milik laut.
Dan laut, seperti cinta, tak pernah benar-benar menjawab.
—
43 — Surat Terakhir dari Dasar Air
Jika seseorang membaca ini suatu hari nanti, ketahuilah: aku tidak menyesal.
Cinta yang membuatku tenggelam adalah cinta yang mengajarkanku hidup.
Aku tidak mati — aku hanya berpindah tempat, dari dadaku ke arus, dari kata ke bisu.
Dan bila kau menatap laut saat senja, mungkin kau akan melihat sekilas wajahku, tersenyum, di antara buih yang memantulkan cahaya.
—
44 — Ombak Membacakan Nama
Laut mulai berbisik lagi setiap subuh.
“Rizal… Rizal…”
Begitulah katanya.
Mungkin itu bukan aku — mungkin laut hanya belajar meniru lidah manusia yang pernah berjanji.
Tapi bila ombak bisa berbicara, aku tahu: ia akan mengucapkan namamu dulu sebelum namaku sendiri.
—
45 — Pantai yang Tak Dikenal
Bertahun-tahun kemudian, seseorang berjalan di pantai ini. Ia tidak mengenalku, tidak mengenal kisah ini. Tapi saat angin bertiup, ia berhenti sejenak, memejamkan mata.
Mungkin ia mendengar sesuatu — bisikan halus dari laut, suara cinta yang tak sempat selesai.
Ia menatap cakrawala, dan tanpa sadar meneteskan air mata.
Begitulah laut bekerja: ia membuat orang asing merasakan luka yang bukan miliknya.
—
46 — Rindu yang Menjadi Burung
Seekor burung putih terbang rendah di atas ombak. Orang-orang bilang, itu pertanda arwah yang belum tenang. Tapi aku tahu — itu rinduku yang mencari arah, mencoba menemukanmu sekali lagi.
Setiap kali burung itu hinggap di batu, aku melihat bayanganmu menoleh, lalu lenyap bersama cahaya.
—
47 — Waktu yang Tersisa di Pasir
Pasir terus berganti, menelan jejak, menulis ulang sejarah.
Tapi ada satu bagian yang tak berubah — titik di mana aku dulu menulis namamu.
Entah bagaimana, setiap kali aku menatap ke sana dari kedalaman laut, aku masih bisa melihatnya samar, seperti waktu yang menolak padam.
—
48 — Malam Tanpa Gelombang
Malam itu laut diam. Bahkan angin pun tak berani lewat.
Seolah seluruh alam sedang berduka — bukan untukku, tapi untuk cinta yang gagal pulang.
Di permukaan, bulan berdiri sendiri. Di dasar laut, aku menatap ke atas dan berkata:
“Terima kasih, karena pernah mencintaiku.”
Itu kalimat terakhir yang masih tersisa.
—
49 — Ziarah Rindu di Pantai Sunyi
Setiap tahun, seseorang datang membawa bunga putih. Ia menatap laut lama, seolah berbicara dengan arus. Orang-orang tak mengenalnya. Tapi aku tahu — itu kau.
Kau duduk di pasir, memejamkan mata, dan angin memelukmu lembut.
Di antara bisikan ombak, aku berusaha menyentuhmu sekali lagi.
Tapi setiap kali kau menangis, aku menghilang bersama buih.
Karena cinta, pada akhirnya, hanya bisa menyapa — tak pernah benar-benar kembali.
—
50 — Laut yang Tak Selesai
Laut tetap bergemuruh, meski kisah ini telah usai.
Setiap ombak yang datang membawa sebagian dari kita — sedikit tawa, sedikit luka, sedikit doa.
Tak ada akhir yang sebenarnya, hanya jeda di antara dua sunyi.
Jika suatu hari seseorang bertanya, “Ke mana perginya cinta yang tak sampai?”
Katakan saja:
> Ia berziarah di pantai sunyi,
menunggu waktu tenggelam sekali lagi,
lalu hidup selamanya sebagai laut.
Sumatera Barat, Indonesia,2025.