May 3, 2026

πŸ›‘ Jangan Jadikan Bencana Daerah Kami sebagai Objek Wisata

eka8

Oleh : Eka Teresia

Sungguh miris dan hati ini teriris. Di tengah kepungan duka, di bawah langit yang masih menyisakan tangis, kita menyaksikan sebuah ironi yang begitu menyakitkan. Kepada para pendatang, para penonton yang berkerumun di reruntuhan: Jangan jadikan bencana daerah kami sebagai objek wisata atau arena selfie agar FYP (For Your Page).

Kami paham, rasa ingin tahu itu naluriah. Kami mengerti, liputan dan dokumentasi bisa menyebarkan kesadaran. Namun, ada batas tipis nan sakral antara empati tulus dan eksploitasi yang merusak. Daerah kami, Sumatra Barat, kini berduka. Setiap bongkah tanah yang longsor, setiap rumah yang ambruk, menyimpan sejarah dan air mata. Ini bukan pemandangan yang pantas diabadikan dengan senyum di depan kamera, bukan latar belakang dramatis untuk konten yang mengejar likes sesaat.

Terkadang, kami benar-benar miris melihat orang-orang yang berkeliling di sekitar lokasi bencana. Mereka datang, bukan dengan karung bantuan, melainkan dengan tripod dan smartphone yang siap siaga. Mereka berputar-putar, persis seperti turis yang sedang menjelajahi destinasi baru, hanya sekadar berfoto dan siaran langsung tanpa memberikan bantuan apapun. Bahkan, yang lebih menyakitkan, mereka kemudian bertanya kepada penduduk dengan nada interogatif, layaknya seorang reporter TV yang mengejar scoop eksklusif.

“Bagaimana perasaan Bapak/Ibu?” “Apa yang hilang dari Anda?” “Ceritakan momen saat kejadian itu!”

Pertanyaan-pertanyaan itu, sungguh, kini terasa hambar, bahkan menyakitkan. Para korban yang wajahnya telah pucat pasi karena trauma, yang tangannya gemetar karena kedinginan, yang pikirannya berkecamuk memikirkan masa depan yang telah roboh, mereka tak butuh lagi pertanyaan. Mereka sudah terlalu lelah menceritakan duka mereka. Setiap kata yang keluar adalah pengulangan trauma yang membuat luka kembali menganga.

Padahal, kedatangan Anda semua, para pendatang yang memiliki tenaga dan akses, adalah segenggam harap bagi korban. Mereka tidak mengharapkan wawancara eksklusif yang akan disiarkan di media sosial Anda. Mereka membutuhkan uluran tangan yang nyata.

Uluran tangan itu bisa berupa sepiring nasi hangat, sehelai selimut tebal, air bersih, popok untuk balita, atau sekadar tenol untuk membantu menyingkirkan puing. Jika Anda datang ke sini, pastikan beban yang Anda bawa adalah bantuan, bukan hanya kamera. Jadikan kunjungan Anda sebagai misi kemanusiaan, bukan perjalanan konten.

Jika Anda tidak bisa membantu, setidaknya jangan menambah beban kami dengan menghalangi akses bantuan, mengotori lokasi dengan sampah, atau melukai harga diri korban dengan menjadikan penderitaan mereka sebagai tontonan. Simpan kamera Anda. Matikan live Anda. Keluarkan hati nurani Anda. Beraksilah sebagai manusia yang berempati, bukan sebagai pemburu views yang haus sensasi.

Padang,5 Desember 2025