Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Swary Utami Dewi (Penulis Satu Pena)

Oleh: Swary Utami Dewi

Ketika nama seorang penguasa yang tumbang karena kehendak rakyatnya sendiri ditetapkan menjadi “hero”, tak ada yang bisa saya katakan selain terbahak. Absurditas pun tak pelak terjadi.

Bagaimana tidak. Saat sosok — yang dulu dilawan karena tindakan sistematiknya banyak mengoyak kemanusiaan dan keadilan — itu mendadak jadi pahlawan, maka siapa pun yang dulu pernah punya sejarah melawan (dari angkatan 1966 hingga termuda angkatan 1998) “berubah status” menjadi “penjahat”. Dalam absurditas — yang memang tak bernalar ini — tak bisa dan tak mungkin dong pahlawan memiliki latar-latar “buruk” seperti itu. Saya menyeringai lucu ketika membayangkan jutaan orang “diharuskan” meminta maaf atau mengaku khilaf telah keliru menuduh sang pahlawan.

Sebutan “aktivis” pun bisa jadi tak lagi menjadi sebutan kebanggaan bagi mereka, yang “pernah” menyandangnya dengan penuh kebanggaan dan keberanian. Nah lho, yang dilawan dulu itu ternyata pahlawan. “Pembalikan fakta” jelas tak pernah hadir di otak dan hati para aktivitas pemberani ini. Bisa-bisa tinggal tunggu waktu, aktivis menjadi cap buruk bagi siapa pun yang “keliru tuduh” tadi.

Bagaimana halnya dengan orde yang sekarang sedang dijalani ini? Orde reformasi? Secara absurd, orde yang jadi puncak kemenangan perlawaran itu menjadi “sah” tidak ada. Bukankah ia lahir karena rezim sebelumnya tumbang? Apa yang mau direformasi jika ternyata tokoh pemicu reformasi itu ternyata “pahlawan”?

Demikian pula berbagai perbaikan, kebijakan, aturan, institusi, dan sebagainya yang lahir karena tuntutan reformasi. Berdasarkan prinsip absurditas tadi, kembalikan ke semua tatanan sebelum reformasi karena sang penata rezim adalah pahlawan. Nah makin bingungkan?

Sembari menelusuri beberapa nama pahlawan lain, saya makin nyengir melihat ada nama perempuan tokoh buruh, yang menjadi korban kekejaman rezim prareformasi, bisa satu “keranjang” dengan tokoh rezim yang ramai-ramai dilawan itu. Apakah semesta sedang bercanda? Ah Marsinah, berapa absurd riwayatmu.

Lalu, jika alasan menjadi pahlawan adalah “berjasa”, mari kita penuhi semua ruang pahlawan itu dengan para penjasa lain yang sudah bertungkus lumus. Para tenaga kerja Indonesia yang sudah menguatkan devisa negara, para guru honorer yang jarang berhitung dengan honor yang tak memadai, para petani yang terus memenuhi kebutuhan pangan Indonesia, dan sebagainya.

Ah, absurditas. Betapa dirimu memang absurd. Tak mampu lagi, saya menggerakkan jemari untuk memperpanjang tulisan ini. Selebihnya, hanya tersisa tawa getir—tawa atas logika yang menertawakan dirinya sendiri.

10 November 2025