April 17, 2026

Asah Ketajaman Ilmu : Dosen STAI Sepakat Segenep, Arsad Dahri Kutacane Aceh Tenggara Presentasikan Karya Tulis di UIS Malaysia

Malaysia, 26 September 2025 –

Langkah seorang akademisi dari perbatasan Tanah Rencong menorehkan jejak ilmu di kancah internasional. Dr.(C) Arsad Dahri,S.Pd,M.Pd.,dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sepakat Segenep Kutacane, Aceh Tenggara, tampil penuh wibawa membawakan karya tulisnya yang berjudul “Pendidikan Multikultural Aceh” dalam seminar internasional di Universitas Islam Selangor (UIS), Malaysia.

Karya tulis yang ia presentasikan bukan semata-mata hasil penelitian, melainkan sebuah jendela yang memancarkan wajah Aceh dengan segala warna keberagamannya. Arsad mengurai bagaimana pendidikan multikultural dapat menjadi wadah penyatu, merajut harmoni antara tradisi, syariat, dan kebinekaan sosial. “Aceh adalah tanah di mana adat, suku, dan budaya berpadu. Dari sinilah lahir pelajaran besar: bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekuatan yang mendewasakan,” tutur Arsad dalam presentasinya yang disambut tepuk tangan peserta.

Seminar internasional tersebut dihadiri oleh para tokoh akademisi dari dua negara. Turut hadir Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, Prof. Mahyudin Ritonga; Dekan Fakultas Agama Islam UM Sumbar, Dr. Syaflin Halim; serta Ketua Program Doktoral Studi Islam S3, Dr. Julhadi. Dari pihak tuan rumah, hadir pula Rektor UIS, para dekan, dosen, serta mahasiswa yang memenuhi ruang seminar dengan semangat intelektual.

Dalam sambutannya, Prof. Mahyudin Ritonga menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah Arsad. “Hari ini kita menyaksikan bahwa ilmu adalah jembatan. Dari Aceh ke Malaysia, dari kelas sederhana ke ruang-ruang internasional, gagasan tetaplah cahaya yang menembus batas. Arsad telah membuktikan bahwa suara dari daerah mampu menggema di pentas dunia,” ujarnya penuh kebanggaan.

Suasana akademik yang tercipta begitu hangat. Dialog lintas negara itu tidak hanya menyajikan ilmu, tetapi juga menumbuhkan rasa persaudaraan serumpun antara Indonesia dan Malaysia. Rektor UIS dalam sambutannya menyatakan, “Kerja sama semacam ini memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh subur saat ditukar, dibagikan, dan diperkaya oleh budaya yang beragam.”

Arsad sendiri mengaku bahwa kesempatan ini adalah momentum berharga dalam perjalanan intelektualnya. Dengan mata berbinar ia berkata, “Saya datang membawa cerita Aceh, tapi saya pulang dengan hikmah dari Malaysia. Semoga ini bukan akhir, melainkan awal dari jejaring ilmu yang lebih luas untuk generasi mendatang.

Momentum ilmiah ini menjadi bukti nyata bahwa ketajaman pena seorang akademisi dari pelosok negeri mampu menorehkan guratan yang indah di kanvas ilmu pengetahuan dunia. STAI Sepakat Segenep Kutacane patut berbangga, karena dosennya kini telah meninggalkan jejak yang tak hanya tercatat dalam seminar, tetapi juga dalam sejarah kolaborasi akademik antara dua bangsa serumpun.