April 17, 2026

Oleh Paulus Laratmase

Hidup sering kali dimulai dengan omon-omon, kata-kata, janji, mimpi, atau cita-cita yang lahir dari bibir manusia. Ia terdengar sederhana, ringan, bahkan kadang dianggap sepele. Namun, justru dari kata-kata itulah manusia menanam benih perjalanan panjang. Omon-omon adalah doa yang diucapkan, harapan yang ditegaskan, dan tekad yang dipahat dalam ingatan. Tetapi, tidak ada omon-omon yang otomatis menjadi kenyataan tanpa perjuangan.

Analoginya seperti seorang petani yang menyebutkan niat menanam padi di sawah. Ucapan itu hanyalah omon-omon. Sawah tidak akan tiba-tiba dipenuhi padi emas hanya karena kata-kata. Petani harus mengolah tanah, menabur benih, menyirami, menjaga dari hama, hingga tiba masa panen. Begitu pula hidup: setiap janji, setiap cita, adalah benih yang menuntut kerja keras, ketekunan, dan kesetiaan dalam tindakan.

Perjuangan melaksanakan omon-omon tidak selalu mulus. Ada godaan untuk berhenti, ada rintangan yang menguji kesabaran. Namun, justru di situlah nilai hidup: manusia belajar bahwa kata-kata hanya memiliki arti bila disertai keberanian untuk menanggung konsekuensinya. Seseorang yang hanya pintar berjanji tanpa berjuang, ibarat kapal tanpa layar: ia bisa terapung, tetapi takkan pernah sampai ke tujuan.

Hidup juga mengajarkan bahwa omon-omon bisa menjadi cahaya penguat ketika jalan terasa gelap. Saat tubuh lelah dan hati hampir menyerah, ingatan akan janji dan tekad yang pernah diucapkan mampu menjadi bahan bakar baru. Seperti pendaki gunung yang terus melangkah karena terikat pada kalimat sederhana: “Aku akan sampai di puncak.” Kata-kata kecil itu berubah menjadi tenaga besar.

Namun, ada pula omon-omon yang menjadi beban bila tak dilaksanakan. Janji yang terabaikan bukan hanya mengikis kepercayaan orang lain, tetapi juga menggerogoti harga diri. Itulah sebabnya perjuangan hidup menuntut integritas: selaras antara yang terucap dan yang dilakukan. Hidup akan lebih bermakna bila manusia berani berdiri di atas ucapannya sendiri.

Akhirnya, hidup memang tidak lain adalah perjuangan melaksanakan omon-omon. Kata-kata hanyalah awal; perjuanganlah yang membuatnya nyata. Maka, berhati-hatilah dalam berucap, tetapi juga berteguhlah untuk menghidupkan setiap omon-omon yang telah keluar. Sebab, hanya mereka yang setia memperjuangkan kata-katanya yang akan sampai pada panen kehidupan: buah dari ucapan yang diwujudkan dalam kerja nyata.