Segelas Kopi, Cemilan dan Kebahagiaan
Oleh Paulus Laratmase
–
Segelas kopi di meja sederhana sering lebih berharga daripada pesta megah di ruangan luas. Uapnya yang hangat seolah membawa cerita, menghidupkan kenangan, dan menyalakan kembali semangat yang sempat redup. Di setiap tegukannya, ada jeda bagi jiwa untuk beristirahat, sejenak berhenti dari hiruk pikuk dunia yang terus berlari tanpa menoleh.
Cemilan kecil di samping cangkir menambah rasa syukur sederhana. Entah itu pisang goreng, kue kering, atau kacang rebus, semuanya hadir tanpa pretensi. Mereka tak pernah berteriak untuk dianggap penting, namun selalu berhasil mengisi ruang kosong di hati. Di sela rasa gurih atau manisnya, ada bahasa sunyi tentang kesederhanaan hidup yang penuh arti.
Kebahagiaan, ternyata, bukanlah perkara besar yang harus dicari jauh. Ia sering kali hadir lewat hal remeh: percakapan hangat, tawa kecil, atau duduk sendiri ditemani kopi dan cemilan. Kebahagiaan bukanlah soal jumlah, melainkan keikhlasan hati dalam merayakan momen kecil yang singkat, namun abadi dalam ingatan.
Maka, jangan pernah meremehkan segelas kopi dan cemilan sederhana. Di dalamnya, hidup mengajarkan bahwa rasa cukup jauh lebih mewah daripada keinginan yang tak pernah habis. Dari situlah, kebahagiaan perlahan tumbuh—tenang, lembut, dan sederhana, namun justru itulah yang membuat hidup terasa lengkap.