BERFILSAFAT BERSAMA BUDHY MUNAWAR RACHMAN, dengan tema: BERAGAMA DAN BERFILAAFAT DI ERA AI
Paramadina Center For Religion and Philosophy (PCRP), Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), dan Universitas Ciputra, mengundang Anda mengikuti kajian:
Online by Zoom. Setiap Jumat, pukul 19.00 – 21.00 WIB. Waktu Pelaksanaan: 11, 18, & 25 Juli 2025, selama 3 kali pertemuan.
Narasumber:
DR. BUDHY MUNAWAR RACHMAN (Direktur PCRP/Dosen STF Driyarkara)
đź”–Biaya Kontribusi: Rp. 100K
đź”–LINK PENDAFTARAN: https://bit.ly/FILSAFAT_AI
Sinopsi Kajian
BERAGAMA DAN BERFILSAFAT DI ERA AI
Dosen: Dr. Budhy Munawar-Rachman
Tanggal 11, 18 & 25 JULI 2025
Pertemuan 1: “Kesadaran, Spiritualitas, dan Kecerdasan Buatan: Apa yang Membuat Kita Manusia?”
Pertemuan 2: “Etika dan Tanggung Jawab Moral dalam Dunia yang Digerakkan AI”
Pertemuan 3: “Transendensi, Post-Humanisme, dan Masa Depan Spiritualitas di Era AI”
Pertemuan 1: “Kesadaran, Spiritualitas, dan Kecerdasan Buatan: Apa yang Membuat Kita Manusia?”
Pertemuan pertama membahas dasar-dasar ontologis dan antropologis: apa yang membuat manusia menjadi manusia dalam konteks spiritual dan filosofis, dan bagaimana hal itu ditantang oleh kehadiran AI. Dalam banyak tradisi agama, manusia dipandang sebagai makhluk spiritual yang memiliki kesadaran, kehendak bebas, dan hubungan dengan yang transenden. Namun, AI kini menunjukkan kemampuan menyerupai manusia dalam berpikir, belajar, dan bahkan berinteraksi secara emosional. Maka muncullah pertanyaan: apakah kesadaran bisa direplikasi? Apakah AI bisa memiliki “jiwa”?
Dari sisi filsafat, diskusi akan menyinggung pemikiran dari Descartes, Heidegger, dan filsuf kontemporer seperti David Chalmers atau Thomas Metzinger yang membahas kesadaran dan identitas. Peserta akan diajak melihat perbedaan antara “inteligensi” dan “kesadaran”, serta perdebatan tentang apakah AI yang sangat canggih bisa memiliki pengalaman subjektif atau hanya meniru perilaku sadar. Pandangan materialis dan dualis akan dibandingkan untuk melihat akar perbedaan dalam memahami manusia dan mesin.
Akhirnya, peserta akan merefleksikan implikasi spiritual dan eksistensial: bagaimana kehadiran AI mengubah cara kita memandang diri, jiwa, dan hubungan kita dengan Tuhan? Apakah AI hanya alat, atau akan menjadi rekan moral dan spiritual? Diskusi akan membuka ruang untuk melihat AI sebagai cermin dari pencarian manusia akan makna, sekaligus sebagai tantangan baru dalam memahami kemanusiaan dari perspektif religius.
Pertemuan 2: “Etika dan Tanggung Jawab Moral dalam Dunia yang Digerakkan AI”
Pertemuan kedua fokus pada dimensi etika dan moralitas. Bagaimana AI mengubah cara kita membuat keputusan moral? Dalam agama-agama, etika sering kali bersumber dari wahyu atau tradisi, sementara AI mengambil keputusan berdasarkan data, algoritma, dan probabilitas. Apakah keputusan yang dibuat oleh AI—misalnya dalam perawatan kesehatan, hukum, atau keamanan—bisa dianggap etis? Siapa yang bertanggung jawab atas keputusan tersebut?
Diskusi akan menyinggung filsafat moral seperti utilitarianisme (Bentham, Mill), deontologi (Kant), serta etika kebajikan (Aristoteles) untuk mengevaluasi bagaimana pendekatan ini cocok atau bertentangan dengan logika algoritmik AI. Peserta juga akan diajak melihat contoh nyata: misalnya dilema mobil otonom, sistem rekomendasi yang bias, atau chatbot spiritual yang menggantikan pemuka agama. Apakah AI dapat atau seharusnya memiliki “moral compass”?
Di akhir sesi, peserta akan diajak merenungkan peran manusia sebagai pengembang, pengguna, dan pengontrol AI. Apakah kita sedang menyerahkan tanggung jawab moral kepada sistem yang tidak memahami nilai-nilai dengan cara manusiawi? Bagaimana agama dapat membantu manusia tetap berpegang pada nilai-nilai luhur ketika dunia digital mulai mengambil alih banyak ruang pengambilan keputusan?
Pertemuan 3: “Transendensi, Post-Humanisme, dan Masa Depan Spiritualitas di Era AI”
Pertemuan terakhir menyelami masa depan: bagaimana perkembangan AI dan teknologi memperluas (atau membatasi) pemahaman kita tentang transendensi, keselamatan, dan kehidupan setelah mati. Dalam tradisi agama, harapan akan hidup kekal dan transformasi spiritual adalah hal sentral. Namun gerakan seperti transhumanisme menawarkan narasi baru tentang “keabadian” melalui teknologi: hidup lebih lama, ingatan diunggah ke cloud, atau kesadaran digital yang bisa diwariskan.
Kita akan mengeksplorasi filosofi post-humanisme yang melihat manusia bukan lagi pusat, tetapi bagian dari ekosistem cerdas yang lebih luas, di mana AI, bioteknologi, dan mesin-mesin canggih memiliki peran kognitif dan eksistensial. Apakah ini membebaskan atau justru mengancam spiritualitas tradisional? Apakah Tuhan masih diperlukan dalam dunia di mana teknologi menjadi “penyelamat”?
Sesi akan ditutup dengan refleksi kritis dan spiritual tentang bagaimana kita membayangkan masa depan: apakah AI menjadi mitra untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam tentang ketuhanan dan kemanusiaan, atau sebaliknya, menjerumuskan kita dalam ilusi kontrol dan kesombongan intelektual? Peserta didorong untuk merumuskan pandangan pribadi mereka tentang bagaimana beragama dan berfilsafat dapat tetap relevan, bahkan membimbing, di tengah revolusi AI.