Biarkan Puisi Mengingatkan Kita: Kenangan, Kesetiaan, dan Keberanian Tak Pernah Mati
Esai oleh Diana
[PPIPM-Indonesia & Poetry-Pen International Community, Poetry-BLaD & IOSoP 2025]
————-‐—————————-

Mengapa kita terkadang merasa bahwa kehilangan dan jarak harus menghapus ikatan yang telah kita bangun? Pada kenyataannya, kekuatan kesetiaan, keberanian untuk tetap teguh, dan daya ingat dapat bertahan bahkan dalam perpisahan yang paling dalam. Puisi mengingatkan kita bahwa meskipun seseorang tak lagi hadir, semangat, suara, dan kenangannya tetap hidup dalam diri kita. Melalui citra sederhana namun mendalam, puisi mengajak kita untuk mempertahankan hubungan yang tak terlihat namun penuh makna ini. Dalam esai ini, saya ingin menjelaskan bahwa puisi mengajarkan kita tentang kesetiaan, keberanian, dan kenangan, sebagaimana tercermin dalam tiga puisi karya Leni Marlina: “Kesetiaan Batu Kepadamu, Sahabatku” (2012), “Suara-suara yang Tak Bisa Dihapus” (2012), dan “Namamu Masih Hidup” (2018). Puisi-puisi ini diterbitkan secara digital di platform suaraanaknegerinews.com pada tahun 2024.
Puisi pertama “Kesetiaan Batu Kepadamu, Sahabatku” (2012) mengingatkan kita bahwa kesetiaan tetap hidup meski ada perpisahan. Penulis menggunakan citra batu yang retak namun tetap diam sebagai simbol bahwa kenangan dan kesetiaan tetap ada bahkan setelah sahabat pergi. Baris “batu itu, meski retak, masih mengukir namamu” menunjukkan bahwa kesetiaan sejati meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus oleh waktu dan jarak. Di dunia yang sering melupakan dengan cepat, puisi ini mengajak kita untuk menghargai dan menjaga hubungan yang pernah membentuk diri kita. Kesetiaan tidak selalu terlihat, namun hidup tenang di dalam hati, dalam kenangan yang terus berdetak dalam diri kita. Puisi ini mengajarkan bahwa meski seseorang tak lagi berada di sisi kita, dampaknya tetap utuh.
Puisi kedua, “Suara-suara yang Tak Bisa Dihapus” (2012), berbicara tentang keberanian untuk terus bertahan meski usaha kita dibungkam. Penyair menulis tentang suara-suara perlawanan yang tampaknya tersembunyi, namun sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Baris seperti “mereka bersembunyi di bawah tanah yang terluka, menunggu untuk bangkit kembali” menginspirasi kita untuk percaya bahwa kebenaran dan keadilan akan menemukan jalannya, tak peduli seberapa sering dibungkam. Semangat keteguhan digambarkan seperti benih yang tetap tumbuh dalam kondisi tergelap. Puisi ini mengingatkan bahwa setiap tindakan keberanian memiliki makna, bahkan jika tidak langsung terlihat. Ia mengajak kita untuk terus menyuarakan kebenaran dan memperjuangkan keadilan karena suara kita memiliki kekuatan untuk menciptakan perubahan.
Terakhir, puisi “Namamu Masih Hidup” (2018) menyampaikan nuansa kenangan yang menyentuh. Penyair menunjukkan bagaimana kenangan akan seorang saudara yang telah tiada tetap hidup melalui doa dan momen-momen suci seperti Ramadan. Baris “aku bisikkan namamu di antara bintang-bintang dan azan” menggambarkan keindahan mengingat seseorang melalui tindakan cinta dan keimanan. Meskipun orang tersebut sudah tiada secara fisik, semangatnya tetap hidup melalui kenangan yang kita jaga dan doa yang kita panjatkan. Puisi ini mengajarkan bahwa mengingat adalah bentuk cinta, dan selama kita terus menyebut nama mereka, mereka yang telah pergi tidak pernah benar-benar hilang.
Sebagai penutup, dengan kata-kata yang sederhana namun kuat, ketiga puisi ini mengingatkan kita bahwa kesetiaan mampu bertahan dalam jarak, keberanian mampu bertahan dalam keheningan, dan cinta mampu bertahan dalam kehilangan. Puisi menguatkan hati kita, memberitahu bahwa perpisahan bukanlah melupakan, dan diam bukanlah kekalahan. Sebagai manusia, kita terhubung satu sama lain melalui kenangan, perjuangan, dan cinta yang tak pernah pudar. Biarlah puisi-puisi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghargai mereka yang telah menyentuh hidup kita, untuk tetap kuat meskipun dibungkam, dan untuk terus percaya bahwa hubungan sejati tidak akan pernah mati.
Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 2025
Referensi:
Marlina, Leni (2012). “Kesetiaan Batu Kepadamu, Sahabatku.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 14 Februari 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://suaraanaknegerinews.com/scrolls-of-longing-for-you-my-friend-the-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesia-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-acc-shila/
Marlina, Leni (2012). “Suara-suara yang Tak Bisa Dihapus.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 2 April 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://suaraanaknegerinews.com/voices-that-cannot-be-erased-the-special-poetry-collection-by-leni-marlina-ppipm-indonesia-poetry-pen-ic-indonesian-writer-of-satu-pena-indonesian-creator-of-ai-era-fsm-indonesian-literacy/
Marlina, Leni (2018). “Namamu Masih Hidup.” Koleksi Puisi Pilihan di Media suaraanaknegerinews.com. Publikasi digital pertama: 23 Maret 2025. [Diakses April 2025].
Tautan: https://bonuasastra.kim.id/berita/read/your-name-is-still-alive-the-poems-25728-720104103102/0
Tentang Diana:
Diana merupakan mahasiswi Sastra Inggris di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Lahir di Pariaman pada tahun 2004, saat ini ia tinggal di Padang. Ia lulus dari SMAN 1 2×11 Enam Lingkung, Sumbar, pada tahun 2023.
Selain itu, ia aktif dalam berbagai komunitas, termasuk PPIPM-Indonesia (Komunitas Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Littalk-C (Komunitas Diskusi Sastra), dan EL4C (Komunitas Pembelajaran Bahasa Inggris, Sastra, dan Literasi).
Tulisan Diana di atas dipresentasikan secara virtual dalam acara Peluncuran dan Diskusi Buku Puisi (Poetry-BLaD) serta Seminar Internasional Daring tentang Puisi (IOSoP) yang diadakan pada 31 Mei 2025 di Auditorium Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, diselenggarakan oleh Media Suaraanaknegerinews.com bekerja sama dengan Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Video presentasi Diana dalam acara tersebut dapat diakses publik melalui tautan resmi berikut:
The English version of the essay above can be read by public by accessing the following official link:
https://lenimarlinafbsunp.blogspot.com/2025/06/let-poetry-remind-us-memories-loyalty.html