April 17, 2026

Bimtek Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam di Madrasah Se-Sumatera Barat Memberikan Titik Terang Menuju Implementasi

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam S3 UM Sumbar

Langit pagi di ranah Minang masih berselimut kabut, ketika suara-suara perubahan mulai menggema dari ruang-ruang madrasah. Bukan sekadar wacana, melainkan semangat baru yang kini bergerak dari hati, berangkat dari kasih, dan menuju cakrawala pendidikan yang memanusiakan.

Dalam suasana penuh harap, Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Pembelajaran Mendalam” yang digelar untuk madrasah se-Sumatera Barat menjadi titik terang bagi para pendidik yang merindukan arah baru dalam dunia pendidikan Islam. Ini bukan hanya perubahan sistem, tetapi pembaruan paradigma: dari mengajar demi nilai, menuju mendidik dengan cinta.

Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat melalui sambutan hangat Kabid Pendidikan Madrasah, H. Hendri Pani Dias, yang didampingi oleh Ketua Tim Kurikulum, Afrizal. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus transformasi bagi para kepala madrasah dan guru. Bimtek ini terselenggara berkat sinergi kolektif antara KKMI (Ketua: M. Yusuf), KKMTs (Ketua: H. Ramli), dan KKMA (Ketua: Muhammad Asdi) yang menyulam cita-cita besar menuju pendidikan madrasah yang holistik, humanistik, dan transformatif.

Peserta Bimtek terdiri dari Kasi Penmad, Pengawas, dan Kepala Madrasah Negeri se-Sumatera Barat.

Kurikulum Berbasis Cinta: Sebuah Gerakan Spiritual Pendidikan

Dr. Abdul Basit, Kasubdit Kurikulum Direktorat KSKK Madrasah Kementerian Agama RI, hadir sebagai narasumber utama dan menjelaskan arah kebijakan terbaru terkait Kurikulum Berbasis Cinta. Menurutnya, KBC bukanlah sekadar metode atau pendekatan baru, melainkan fondasi ruhani yang melandasi seluruh proses pendidikan. Cinta menjadi inti dari setiap relasi pedagogis antara guru, murid, ilmu, dan Tuhan.

Regulasi terbaru yang menjadi dasar inisiatif ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3211 Tahun 2024, yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai, akhlak, dan pembentukan karakter spiritual dalam kerangka kurikulum madrasah. Kurikulum ini mengajak para pendidik untuk tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membimbing jiwa.

Pembelajaran Mendalam: Meretas Superfisialitas Menuju Makna

Sementara itu, Didin Hadiat, seorang praktisi pendidikan dan pelatih nasional dalam bidang pembelajaran transformatif, memberikan pemahaman tentang urgensi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning). Ia menekankan bahwa di era informasi saat ini, pembelajaran tidak boleh hanya berhenti pada hafalan, tetapi harus mampu menggali makna, membangun koneksi antardisiplin, serta menciptakan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan nyata.

Pembelajaran Mendalam berakar pada teori konstruktivisme dan filsafat eksistensial, di mana siswa diajak menjadi subjek aktif: berpikir kritis, berempati, dan mampu memecahkan masalah nyata melalui pendekatan yang reflektif dan kolaboratif.

Harmoni Ilmu dan Cinta: Integrasi Dua Sayap Pendidikan

Rifki, salah satu narasumber yang dikenal sebagai pegiat pendidikan berbasis nilai, turut memperkaya diskusi dengan menyelaraskan antara Kurikulum Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam. Ia mengibaratkan keduanya sebagai dua sayap burung pendidikan yang membawa manusia terbang menuju cakrawala kemanusiaan. Tanpa cinta, ilmu menjadi kering dan membatu; tanpa kedalaman, cinta hanya menjadi hampa dan emosional semata.

Melalui proses bimtek ini, para peserta tidak hanya menerima teori dan strategi implementasi, tetapi juga diajak menyelami dimensi spiritualitas pendidikan yang selama ini tersisih dalam arus industrialisasi pendidikan. Madrasah, sebagai institusi yang berbasis nilai keislaman, menjadi garda terdepan dalam mengintegrasikan dimensi hati dan akal dalam seluruh proses pembelajaran

Bimtek ini bukan hanya pelatihan teknis, tetapi telah menjadi sebuah gerakan kultural yang menandai lahirnya kesadaran baru: bahwa mendidik adalah kerja kasih, dan mengajar adalah ibadah yang berpijak pada cinta. Dari aula pelatihan hingga ruang-ruang kelas madrasah di pelosok Sumatera Barat, semangat baru telah menyala.

Semoga, dari Bimtek ini, madrasah-madrasah kita bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga taman-taman cinta, tempat jiwa tumbuh, akal berkembang, dan hati bersinar.

Profil Lulusan 8 Dimensi: Kerangka Kompetensi Holistik

Profil lulusan 8 dimensi adalah kerangka kerja dalam dunia pendidikan yang bertujuan mengembangkan kompetensi holistik pada peserta didik. Kerangka ini mencakup:

Keimanan

Kewargaan

Penalaran Kritis

Kreativitas

Kolaborasi

Kemandirian

Kesehatan

Komunikasi

Tujuannya adalah menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter kuat dan siap berkontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat/

“Panca Cinta” dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Panca Cinta dalam KBC merujuk pada lima aspek cinta yang menjadi landasan utama kurikulum ini:

Cinta kepada Tuhan dan Rasul-Nya, cinta kepada bangsa dan negara, cinta kepada lingkungan, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada ilmu pengetahuan.

Kurikulum ini bertujuan membentuk karakter siswa yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran sosial serta kepedulian terhadap lingkungan.

KBC diperkenalkan sebagai upaya untuk mengatasi kecenderungan pendidikan yang terlalu fokus pada aspek kognitif, dan mengurangi penekanan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. KBC diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan akhlak yang mulia.

Secara lebih rinci, Panca Cinta mencakup:

1. Cinta kepada Tuhan dan Rasul-Nya

Menjadi landasan spiritual dalam kurikulum, dengan menekankan pentingnya iman dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta meneladani ajaran Rasulullah SAW.

2. Cinta kepada Bangsa dan Negara

Menumbuhkan nasionalisme, rasa cinta tanah air, serta kesadaran akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

3. Cinta kepada Lingkungan

Menanamkan kesadaran ekologis, kepedulian terhadap alam, dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

4. Cinta kepada Sesama Manusia

Membangun sikap empati, toleransi, dan kepedulian terhadap orang lain, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

5. Cinta kepada Ilmu Pengetahuan

Menumbuhkan semangat belajar, rasa ingin tahu, serta menjadikan ilmu sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) diharapkan menjadi arah baru pendidikan Islam, yang tidak hanya mencetak generasi yang cerdas dan terampil, tetapi juga generasi yang berkarakter, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama serta lingkungan.