April 17, 2026
sby

Oleh Anto Adnan

Matahari Bandung sudah condong ke barat, sinarnya yang lembut menaburkan keemasan di sepanjang Jalan Braga. Lalu lintas sore itu mengalun, ditingkahi bis Bandros dengan penumpang turis penuh gaya dari berbagai kota di nusantara. Seperti simfoni kota yang tidak pernah betul-betul tenang, tetapi juga tidak sepenuhnya gaduh.

Di ujung jalan, sepasang kekasih tua tampak bergandengan tangan, langkah mereka pelan, seirama alunan music jazz yang samar-samar terdengar dari kafe kecil di dekat situ.

“Masih ingat waktu pertama kali kita ke sini, Cin?” pria tua itu berkata dengan suara yang serak, sedikit terbawa angin. Angin yang membuat rambut gondrong putihnya berkibar tipis.

Si wanita tersenyum kecil, matanya tertuju pada trotoar yang kini dipenuhi batu-batu paving yang rapi dengan aneka tanaman hias di tepi jalannya. “Tentu saja. Kau waktu itu membelikanku es krim yang langsung tumpah karena aku terlalu gugup…,” dengan kerling mata menggoda.

Mereka tertawa kecil. Tawa yang tidak hanya berasal dari humor sederhana, tapi dari kenangan yang tak terhitung jumlahnya—kenangan yang mereka bawa seperti beban ringan dalam kantong tak kasat mata.

Braga telah banyak berubah, tetapi cinta mereka tidak.

Tak jauh dari mereka, sebuah keluarga turis Belanda berhenti di depan sebuah gedung tua bercat putih yang kini menjadi butik mahal. Seorang pria paruh baya dari keluarga itu menggenggam sebuah foto sepia.

“Hier,” katanya dalam bahasa Belanda sambil menunjuk sudut bangunan. “Kakek buyut kita dulu tinggal di sini. Ini fotonya.” Di balik foto tertulis tangan “Bandoeng is een flinke dessa !” (Bandung itu desa yang maju) disertai tanda tangannya.

Seorang anak muda dari keluarga itu mendekat, memandangi foto dengan penuh rasa ingin tahu. Ia membayangkan seorang pria berwajah keras berdiri di balkon, menghisap cerutu, memandangi kota kolonial yang penuh gairah. Tapi hari ini, balkon itu dihiasi lampu-lampu bohemian dan deretan gaun manekin yang tak mungkin dimiliki oleh mereka yang hanya sekadar singgah.

“Lucu ya,” kata si anak muda dalam bahasa Inggris, “kakek buyut kita dulu jadi penguasa di tempat ini, tapi sekarang kita, cucu-cicitnya hanya menjadi turis,” sambil terkekeh.

Sang ayah mengangguk, tak berkata apa-apa, namun matanya memancarkan nostalgia yang rumit—campuran kebanggaan dan entah, sedikit rasa bersalah?

Di seberang jalan, tiga juru parkir duduk di atas kursi plastik, bersandar pada dinding toko suvenir. Sebatang kretek berpindah-pindah dari satu tangan ke tangan lainnya, seperti ritual persahabatan mereka yang tak berubah meskipun Braga terus bersolek menjadi lebih modern dan berkelas.

“Eh, nanti malam ada yang mau minum kopi?” tanya salah satu dari mereka dengan Bahasa Sunda yang kental.

“Kopi sih boleh, tapi uangnya mana?” sahut yang lain, lalu mereka tertawa.

Getir hidup mereka larut dalam candaan. Jalan Braga mungkin terus berganti warna, tetapi bagi mereka, tak ada yang benar-benar berubah. Setoran parkir, rokok yang kian mahal, dan angan-angan tentang penghasilan yang cukup adalah igauan konstan yang terus menemani.

Sementara itu, di depan mural besar bergambar perempuan Sunda, seorang remaja putri berswafoto. Ia menggerakkan ponselnya, mencoba mencari sudut terbaik, tetapi raut wajahnya tetap masam.

“Kenapa sih Kang Emil nggak maju jadi Presiden?” gumamnya.

Temannya, yang sedang menggulung rambutnya ke dalam sanggul modern, menjawab setengah hati, “Mungkin waktunya belum tepat.”

“Tapi yang maju malah dia lagi, dia lagi.” Suaranya menahan gejolak. “Kalau bapakku pejabat juga, aku bisa kayak mereka,” katanya sungut.

Ia melipat tangannya, wajahnya melontarkan kekecewaan yang tidak hanya ditujukan kepada politik, tetapi juga kepada dunia yang terasa tidak adil.

Langit Braga semakin jingga. Sepasang kekasih tua itu berhenti di depan sebuah toko kecil yang dulu adalah bioskop tempat mereka pertama kali berkencan. Mereka tidak berkata apa-apa, hanya berdiri bersebelahan, mengenang, sementara aroma crepes dari kafe sebelah menguar di udara.

Keluarga Belanda itu melangkah pergi, meninggalkan gedung yang kini hanya menyimpan bayangan masa lalu mereka. Di belakang mereka, tiga juru parkir menyaksikan turis-turis berlalu-lalang dengan pandangan kosong.

Dan remaja putri itu? Ia akhirnya tersenyum tipis di depan kameranya, meskipun senyuman itu tidak sampai ke matanya.

Di Braga, semuanya terus berjalan. Kenangan, seperti lampu-lampu jalanan yang menyala satu per satu, adalah bagian dari kehidupan kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Depok – Klapanunggal, 16 November 2024.

#KisahNovember