Bukan Nisan, Bukan Gunung Murung
yusuf achmad
Mengapa diamku tak kaku membatu?
Bukan penunggu kubur yang setia meratap
Bukan pula prasasti dingin
yang menggigil menjaga jasad tak bernyawa—
Diamku mengalir, meski tak terlihat.
Ia mula-mula menyulam makna,
dibingkai hikmah, bermahkota sabar
menepi bukan karena kalah,
melainkan demi kasih yang lebih luas dari kata.
Kupendam bara demi saudara,
pelanjut warisan ilmu dan laku,
atas nama bakti, atas nama waktu
yang menua bersama rasa hormat.
Lalu diamku bangkit, menjelma gunung
yang sabar, tapi bukan tak sanggup meletup.
Siapa bilang puncak tak bisa bicara?
Kala tiba saatnya,
ia memecah langit dengan gelegar batinnya.
Dari reruntuhannya tumbuh kembali:
rumput kebaikan, pohon nilai,
bunga sikap hormat
bagi mereka yang mau membaca dengan hati.
Sebab diamku tak sekadar tak bersuara—
ia berguru pada langit dan hati pendidik:
menyinari, bukan menghardik.
Aku tahu buah yang tumbuh dari perih
kadang getir ditelan sendiri,
tapi biarlah itu jadi madu bagi esok,
bagi mereka yang belajar memahami diam
bukan sebagai nisan kesunyian,
dan bukan pula gunung
yang sekadar termenung di cakrawala.
Surabaya, 17 Juni 2025