April 18, 2026
mila3

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi ini dibuat untuk memperingati Hari Kartini, 21 April & Hari Puisi Nasional, 28 April)
***

Tercipta dari sepotong tulang rusuk Adam, katanya.
Tubuhnya lemah,
mentalnya rapuh,
dapur, sumur, kasur, adalah kehidupannya. Katanya.

Tapi, hei,
itu hanya katanya.
Sekarang tahun 2025,
pemerintah mencatat:
14,37 persen perempuan bekerja sebagai Breadwinners.

Ketika fajar muncul di ufuk timur,
perempuan itu sibuk menata rumah,
menyiapkan anak dan bekal sekolahnya,
menghidangkan sarapan di meja.

Rambutnya setengah acak-acakan,
wajahnya dirias sekenanya,
nafasnya ngos-ngosan
mengejar kereta di Stasiun Tanah Abang.

Ketika senja menggantikan fajar,
perempuan itu berkelahi dengan waktu,
berlari, melesat sekencang angin malam,
mengejar kereta yang penuh sesak oleh para breadwinner.

Seragam kerja belum sempat ia lepas,
jemarinya telah menari di atas dapur,
makan malam terhidang secepat kilat,
keluarga duduk manis menyantap kasih yang tersaji.

Di atas sana,
rembulan malam menyaksikan,
tampak heran:
mengapa perempuan itu tak henti bergerak?
Apakah ia terbuat dari baja dan beton?

Rembulan itu tak tahu:
sejak kehidupan bermula,
perempuan telah menjadi tiang dunia,
menjadi pondasi dan cahaya kehidupan.

Dalam sunyi dan keterbatasan,
mereka berdiri teguh,
namun memilih diam
sebab dunia belum siap mendengar ceritanya.

Kini dunia lebih berani membuka mata.
Kepada perempuan, mereka meminta gagasan dan karya;
ketangguhannya diakui,
ceritanya didengar,
bukan lagi dihakimi.

Sejak dulu, perempuan itu kuat,
jauh sebelum dunia mengenal istilah breadwinner.
Sejak dulu, perempuan adalah tulang punggung,
bukan tulang rusuk.

Link video

29 April 2025