“Catatan Vera: Tentang Luka, Trauma, dan Keberanian untuk Hidup”
Oleh: Vera Nainggolan
–
Saya merahasiakan trauma karena malu dan takut. Tidak ada seorang pun yang aman untuk diceritakan. Sekarang, saya tidak tahu siapa yang dapat saya percaya. Jika saya terbuka, saya takut dihakimi atau dihukum. Itu adalah cara hidup yang sepi.
Trauma ini sangat menghancurkan, apa pun bentuknya. Trauma ini memengaruhi harga diri, kepercayaan, hubungan masa depan, dan rasa aman saya di dunia. Dan, apa pun yang saya lakukan untuk melupakannya, rahasia-rahasia itu menghantui saya setiap hari.
Jika trauma yg saya alami merupakan bentuk penyiksaan atau bahkan kehilangan, saya mungkin merasa itu adalah kesalahan saya.
Ini adalah hal yang buruk untuk dijalani. Hal ini membuat saya menutup diri dari orang lain. Saya tidak bisa menjadi diri sendiri secara terbuka karena saya benar-benar merasa ada yang harus disembunyikan. Atau tidak seorang pun akan menyukai diri saya apa adanya.
Takut, marah, dan sedih. Ketiga perasaan ini selalu menyelimuti saya tiap kali mengingatnya. Saya terlalu takut untuk menceritakannya kepada siapapun, terlalu marah saat membayangkan wajahnya, terlalu sedih bila menyadari bahwa sampai saat ini saya belum bisa mempercayai satu orang pun laki-laki. Bukan saya menganggap semua lelaki sama, tapi perasaan takut, trauma, dan hanya ingin mempermainkan itu selalu menghantuiku. Akibatnya saya selalu gagal setiap kali menjalin hubungan. Karena saya sendiri tak percaya pada cinta.
Seperti yang kita tahu, orang-orang di Indonesia menganggap usia matang adalah waktu yang cukup untuk melangsungkan pernikahan. Tapi tidak bagi saya. Saya masih belum bisa berdamai dengan masa laluku. Pertanyaan, “Sudah punya pasangan?” “Kapan menikah?” “Kenapa masih melajang?” dan pertanyaan serupa lainnya selalu kutanggapi dengan raut wajah tenang. Namun, hal itu pula lah yang membuat mereka semakin sering mencandaiku dan menganggap saya sebagai wanita pemilih. Bahkan ada di antara mereka berkata bahwa orang yang tidak mempunyai pasangan adalah orang-orang yang “tidak laku”, menyedihkan, dan malang. Tidak, dia tidak tahu apa yang saya alami.
Semua perasaan sakit ini hanya bisa saya tuangkan dalam buku diari yang selalu kukunci. Bisa ditebak, mungkin stelah dengan masa sulit yang seperti itu saya akan tumbuh menjadi wanita pemalu, selalu menarik diri dari keramaian, dan tidak mempunyai kepercayaan sama sekali dalam diri. Mungkin kalian juga bertanya-tanya, apakah keluargaku tidak tahu masalahku? Tidak. Saya tidak mau membuat mereka khawatir, saya juga tidak mau menyusahkan. Biarlah hanya saya yang menyimpan trauma ini. Saya hanya bisa berdoa kepada Yang Kuasa agar saya selalu dikuatkan dan diberi kedamaian dalam hati. Semoga kelak saya bisa memercayai seorang.
Stop tanya kapan menikah! Memutuskan untuk menikah tidak semudah memilih makanan pada menu. Seseorang mempunyai alasan atas sebuah keputusan dalam hidupnya. Bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dialaminya.
Ya. Sejak hari itu sekarang saya masih kesulitan untuk berinteraksi dengan laki laki. Kesulitan melakukan perbincangan, bahkan berkomunikasi lewat pesan atau bersisian saja rasanya tubuh saya sudah panas dingin duluan.
Selain itu, saya juga sulit percaya kepada mereka. saya selalu merasa, laki laki itu semuanya berengsek (yang tentu saja sebenarnya tidak demikan, pasti banyak juga yang baik). Alhasil, saya tidak percaya dengan konsep hubungan romantis seperti pacaran, atau bahkan ikatan pernikahan. Hingga sekarang.
Saya takut kehilangan. Trust issues. Rasa takut berlebihan kehilangan dan ditinggalkan. Gak mau hidup sendirian, kesepian, dan lain lain.
Dan saya berterimakasih untuk setiap orang yang sudah singgah salam perjalanan hidup saya selama ini. Baik itu yang memberi luka dan baik yang memberi cinta.
Semua membuat hidup saya berwarna.
Dan Disini saya akan berikan ayat alkitab yang menjadi kesukaan saya yang selalu memberi pengingat untuk saya:
Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” dan merupakan kutipan dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (Filipi 1:21).
Smoga kisah ku menginspirasi banyak orang.
Sperti Paulus tidak takut mati, karena ia yakin bahwa mati adalah pintu menuju ke hadirat Kristus. Bagi Paulus, mati bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan yang lebih sempurna dan penuh sukacita di surga bersama Kristus.