Cinta yang Bertahan Dalam Ujian Waktu
Setiap manusia menjalani takdirnya dengan jalur yang berbeda-beda. Ada yang dimudahkan sejak awal, ada pula yang menapaki jalan berliku, penuh onak duri, sebelum akhirnya merasakan manisnya hasil perjuangan. Namun satu hal yang selalu sama: kuasa Tuhan tak pernah absen dalam tiap napas hidup manusia yang percaya dan berserah. Tulisan ini adalah kisah nyata seorang perempuan bernama Maria Sakka’ Tandiayu’, yang melalui perjalanan hidup, cinta, dan rumah tangganya, telah menapaki rintangan-rintangan besar dengan penuh keteguhan. Sebuah narasi kasih dan kesetiaan yang tak hanya menyentuh, tetapi juga menginspirasi
Menapaki Hidup “Sepasang Merpati” (1)
Perjalanan hidup anak manusia berbeda adanya. Tak semua anak manusia memiliki perjalanan yang manis, dan tak semua pulang memiliki perjalanan yang pahit. Keduanya memiliki perbedaan yang tentunya akan dialami oleh setiap insan di dunia ini.
Perjalanan hidup yang dialami oleh dua orang asing untuk dipertemukan dan disatukan oleh Tuhan tidaklah mudah. Mengalami banyak tantangan, tetapi Tuhan mengendalikan semuanya.
Saya dan suami terlahir di sebuah dusun di Tanah Toraja. Kami dididik, dibesarkan, dan disayangi oleh kedua orang tua kami masing-masing. Masa kecil menurutku sangat indah dan membahagiakan, karena semua yang saya alami adalah hal yang begitu indah. Saya memiliki orang tua yang sangat menjunjung tinggi pendidikan, dan saya memiliki lima kakak laki-laki yang sangat sayang kepada saya sebagai bungsu dari enam bersaudara. Rasanya, kehidupan masa kecil adalah kehidupan yang begitu memberi arti kebahagiaan yang sempurna, yang tak pernah terbayangkan dalam benak saya bahwa akan mengalami perubahan suatu hari kelak.
Berbeda dengan suami saya yang juga dilahirkan di desa yang sama di Tanah Toraja. Ia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara, dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang menyayanginya. Suami saya tumbuh besar dalam perjuangan membantu kedua orang tua. Pekerjaan yang harus dilakoni sepulang sekolah adalah menggembalakan kerbau, yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Sebagai anak lelaki tertua setelah kakaknya, otomatis dialah yang harus bertanggung jawab membantu orang tua bersama kakaknya. Perjalanan hidup yang memberinya banyak pelajaran dan mengantarnya kepada kehidupan yang lebih baik.
Tak pernah terbersit sedikitpun dalam pikirannya tentang Kota Palu, kota kaktus ini pada masa itu. Yang ia tahu setelah lulus SMA, ia akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi untuk mengubah kehidupan. Namun, Tuhan belum mengizinkan. Ia gagal mengikuti Sipenmaru di Universitas Hasanuddin dan saat itu ia kehilangan harapan. Orang tuanya menawarkan untuk melanjutkan pendidikan di universitas swasta, namun ia menolak karena memikirkan adik-adiknya yang juga sedang menempuh pendidikan. Ia berpikir bahwa kuliah memang bisa dipaksakan dengan biaya dari orang tua, tetapi ia tidak ingin bersikap egois.
Hari demi hari, suami menjalani kehidupannya di kampung halaman. Selain menggembalakan kerbau, ia juga sibuk bercocok tanam di kebun. Yang menarik saat itu adalah, di sela-sela panasnya terik matahari, ia duduk di bawah pohon sambil mengusap keringat, membayangkan seperti apa masa depannya. Apakah ia akan tetap menjadi petani dan penggembala kerbau selamanya? Sementara teman-teman sebayanya hampir semua melanjutkan pendidikan. Air matanya jatuh di pelupuk matanya, mengenang masa kecil dan cita-cita yang dahulu, termasuk keinginannya untuk melihat pesawat lebih dekat. Semua terasa sirna.
Beberapa bulan berlalu dan ia masih menjalani rutinitas yang sama. Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk merantau ke Kota Palu, kota yang akan mengubah hidupnya. Ia meminta izin kepada orang tua untuk merantau, dengan harapan suatu hari kehidupannya akan berubah.
Tuhan menolong dan menyertainya. Ia tinggal di rumah paman, adik dari mertuanya sekarang. Di sanalah ia merasakan hidup jauh dari orang tua. Ia menjalani hari-harinya dengan bekerja apa saja: menjadi kuli, menggali got, dan sebagainya. Namun, tak ada penyesalan, tak ada gengsi. Ia bekerja dengan harapan bisa mengubah hidupnya.
Beberapa bulan di Kota Palu, dengan kegigihan, kesabaran, kejujuran, dan semangat pantang menyerah, ia dilirik oleh iparnya, almarhum Bapak Djarot Subiantoro. Mungkin karena iba melihat perjuangannya, beliau menawarkan pekerjaan di Bandara Mutiara Palu.
Tidak lama kemudian, suami mulai bekerja sebagai tenaga honor pada tahun 1990, mengerjakan apa pun yang bisa ia kerjakan. Bersyukur, saat itu di bandara masih jarang yang mahir menggunakan komputer, sedangkan suami saya sudah pernah mengikuti kursus komputer di Makassar. Berkat keuletan, kesetiaan, kerja keras, dan disiplin tanpa pilih-pilih pekerjaan, akhirnya pada tahun 1997 suami saya diangkat menjadi PNS golongan 2A.
Perjalanan hidup yang tidak mudah, namun ketekunan, kejujuran, dan kedisiplinan membawanya mendapatkan pekerjaan tetap sebagai pegawai Bandara Mutiara Palu. Banyak tantangan yang ia hadapi, namun Tuhan terus menyertainya menjalani tugas dan tanggung jawab yang dianugerahkan kepadanya.
Tahun 1996, ada kisah di balik kulit udang, kisah cinta kami. Saat itu saya harus dirawat di Rumah Sakit Bala Keselamatan Palu karena keracunan kulit udang. Saya dirawat selama seminggu dan otomatis banyak tugas sekolah yang tertinggal. Setelah kembali ke sekolah, saya harus mengejar semua pelajaran. Sepulang sekolah, saya sering mengerjakan tugas di rumah teman dekat saya di Jalan Towua.
Di sana, dari arah depan rumah, saya berpapasan pandang dengan seorang pria. Dalam benak saya, “Om-nya teman saya tampan juga,” sambil tersenyum geli. Tidak terpikir sedikitpun bahwa pria itu masih bujang. Saya hanya mengira ia adalah kerabat atau suami seseorang. Namun, ternyata ia berdiri di depan pintu ruang tamu. Entah kenapa, jantung saya tiba-tiba berdebar kencang.
Aneh, tapi nyata. Saya pun tidak paham dengan debaran jantung itu. Dalam hati saya berkata, “Ya Tuhan, ampunilah saya. Jangan biarkan perasaan ini berujung dosa. Jangan sampai saya mencintai suami orang.” Padahal, saya belum tahu siapa dia sebenarnya.
https://suaraanaknegerinews.com/menapaki-hidup-sepasang-merpati/
“Cinta di Tengah Liku: Sebuah Perjalanan Iman, Pendidikan, dan Harapan” (2)
Debaran itu nyata, meski saat itu tak sepenuhnya saya mengerti. Namun, dari situlah kisah cinta kami bermula. Bukan cinta yang datang tiba-tiba, melainkan cinta yang kelak tumbuh dan dipelihara dalam kasih Tuhan, di tengah lika-liku hidup yang tidak selalu mudah.
Saya berasal dari sebuah dusun kecil, datang ke Kota Palu dengan tujuan mulia: melanjutkan pendidikan di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan). Cita-cita saya sederhana, tapi penuh makna—saya ingin menolong orang lain. Namun, Tuhan tampaknya punya rencana lain. Saya tidak diterima di SPK, dan akhirnya saya tetap tinggal di Palu untuk bersekolah di SMA Katolik di Jalan Danau Poso. Harapan saya, setelah lulus, saya bisa melanjutkan ke AKPER, karena banyak lulusan dari SMA tersebut diterima di sana.
Berpegang pada harapan itu, saya bertahan di Kota Palu. Di sinilah kisah kami bermula, menapaki langkah demi langkah yang pada akhirnya mengarah ke pernikahan.
Tahun 1997, saya pindah ke SMA BK Palu karena lokasinya lebih dekat dari tempat tinggal. Dua tahun kemudian, saya lulus dengan nilai cukup memuaskan. Saya bahkan bebas tes masuk Universitas Tadulako, jurusan Akuntansi. Namun, hati kecil saya menolak—itu bukan jalan yang saya dambakan. Ayah saya menelepon, meminta saya pulang ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di Farmasi. Tapi cinta… cinta membuat saya tetap di Kota Palu.
Saya beralasan bahwa saya diterima di Fakultas Ekonomi. Sebenarnya saya tak bahagia di sana, tapi saya mengikuti tes dan justru diterima di Fakultas Pertanian, jurusan Ilmu Tanah. Inilah alasan terbesar saya bertahan di kota ini: karena ada “dia” yang terasa terlalu sulit untuk ditinggalkan.
Hari-hari pun berjalan. Calon suami saya sibuk dengan pekerjaannya, sementara saya fokus pada perkuliahan. Dalam perjuangan akademik, dia selalu hadir memberi semangat, terlebih ketika nilai keluar—IPK saya selalu memuaskan. Angka 3,8 seolah menjadi angka langganan. Beasiswa pun datang bertubi-tubi. Banyak teman kagum pada pencapaian saya, tapi saya merasa belum puas. Saya ingin lebih dari itu.
Saya belajar dengan sungguh-sungguh. Tugas tak pernah terlewat, tidur nyenyak pun jarang. Saat praktikum, saya paling aktif bertanya, paling cepat mengerjakan tugas, bahkan ketika harus turun ke sawah atau kebun untuk mengambil sampel tanah. Saya tak pernah absen. Semangat saya semakin menyala, karena saya ingin membanggakan papa. Dan tentu saja, ada dia, yang selalu menjadi penyemangat.
Namun, hidup kadang tak bisa ditebak. Seorang senior, sekaligus asisten dosen, mulai mengganggu saya. Awalnya saya tak pedulikan. Suatu ketika, saat saya dirawat di rumah sakit, dia juga berada di sana menemani kekasihnya. Saya kira dia sudah melupakan saya, tapi ternyata tidak. Gangguan itu berlanjut.
Saat kegiatan himpunan fakultas, saya mengalami plonco yang cukup berat. Saya tetap tak menyangka bahwa senior itu bisa mencelakai saya. Waktu berlalu, saya masih semangat belajar, hingga suatu siang, dosen digantikan oleh senior tersebut. Ia memperlakukan saya secara tidak layak.
Beberapa waktu kemudian, nilai keluar. Saya kaget dan menangis saat melihat nilai T (tidak lulus) untuk salah satu mata kuliah. Saya memberanikan diri menghadap senior itu. Ia meminta saya datang ke rumahnya setelah kuliah. Bersyukur saya mengajak seorang teman, yang kini melayani di salah satu gereja di Surabaya, untuk menemani.
Di rumahnya, saya hampir dilecehkan. Untung ada teman yang menunggu di luar, sehingga saya bisa pulang dengan selamat. Namun, nilai itu tetap tak jelas nasibnya. Setelah kejadian itu, semangat saya mulai padam. Rasa takut menghantui. Saya kehilangan kepercayaan diri. Selama saya masih di kampus itu, saya tahu saya akan terus bertemu dia.
Saya sampaikan kepada calon suami bahwa saya ingin cuti kuliah. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya mengambil cuti demi menjaga kesehatan mental dan rasa aman saya.
Hidup terus berlanjut. Suami tetap bekerja, saya pun menyibukkan diri selama masa cuti satu semester. Di bulan Februari 2000, suatu malam ia datang ke rumah kakak saya, menyatakan maksud hatinya: melamar saya. Sebagai seseorang yang masih terikat studi, saya ragu. Bagaimana bila saya tak bisa melanjutkan kuliah setelah menikah?
Namun keraguan saya menghilang saat dia mengatakan: “Setelah menikah, kamu tetap kuliah.”
Hari-hari berlalu seperti biasa. Pada Maret 2000, kami memulai bimbingan pernikahan di Gereja KIBAID Jemaat Palu. Pdt. Yusuf Umma, MA dan Ibu Pdt. Maria Rukka, S.Th membimbing kami. Dari mereka, saya belajar makna mendalam tentang pernikahan Kristen—bahwa pernikahan bukan untuk sehari atau seminggu, melainkan sekali seumur hidup. Tak ada kata “bosan”, tak ada “bercerai”. Ini adalah komitmen seumur hidup.
Meski hati saya sempat bertanya, “Benarkah ini keputusan yang tepat?” Tapi pembelajaran rohani itu menguatkan saya. Meski begitu, tantangan belum berakhir.
Kedua pihak keluarga dari kampung menentang rencana kami. Dari pihaknya, karena saya dianggap masih anak-anak dan belum bekerja. Saat itu usia saya baru 20 tahun. Tapi dia menenangkan saya: “Yang akan menikah adalah kita, bukan keluarga kita.”
Sementara itu, dari pihak orang tua saya, penolakan lebih keras. Papa menentang karena saya harus pindah dari Gereja Katolik. Ia seorang tokoh Katolik, dan sangat berat melepas anaknya pindah keyakinan. Bahkan Papa berkata, “Adakah orang mati karena tidak menikah?”
Saya stres. Tapi bersama-sama, kami meyakinkan orang tua bahwa keputusan ini adalah tanggung jawab kami. Dan akhirnya, saya sangat terharu ketika Papa berkata:
“Jangan pernah tinggalkan keputusan yang sudah kamu ambil. Jalani iman barumu dengan penuh tanggung jawab.”
Saya terdiam. Dalam hati saya bertanya: bagaimana mungkin Papa bisa berubah pikiran? Siapa yang bisa melunakkan hatinya? Saya tahu jawabannya—hanya Tuhan yang sanggup membolak-balikkan hati manusia. Tuhan sungguh ajaib.
Tanggal 10 Juli, kami pulang ke kampung halaman dengan kapal Tidar, kelas ekonomi. Sepanjang malam kami berbincang: “Apakah kita akan benar-benar mendapat restu dari orang tua?” Ia menjawab, “Berdoa saja. Tuhan yang akan mengubah hati mereka.”
Sesampainya di kampung, kami berpisah. Ia kembali ke rumahnya, saya ke rumah saya. Besoknya, ia datang menemui orang tua saya. Syukur kepada Tuhan, mereka menyambut dengan penuh keramahan. Saya menangis dalam hati: Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa.
Tanggal 15 Juli, lamaran dilangsungkan. Dan pada tanggal 20 Juli 2000, kami resmi menikah di Gereja KIBAID Jemaat Sarfat Sandale, diberkati oleh Bapak Pendeta Mangngi.
“Bersama Dalam Luka dan Cinta: 25 Tahun Dalam Genggaman Kasih Tuhan” (3)
Tujuh tahun menjalani kehidupan pernikahan saat itu bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak hal kami lalui bersama, dalam suka dan duka. Namun satu hal yang kami pegang teguh: pengharapan bahwa Tuhan akan memampukan kami melewati setiap proses kehidupan. Kami terus berjuang dalam rumah tangga, menjadi orang tua yang tak mengenal lelah demi memenuhi kebutuhan anak kami satu-satunya saat itu.
Tahun 2006 menjadi titik awal perubahan besar dalam rumah kami. Vernal, putra kecil kami, memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, bahkan sejak dini. Sekalipun sering dibully karena tubuhnya yang gempal—dijuluki “Endut-Endut”—ia tetap cuek. Sejak bayi, dia tak pernah bangun kesiangan. Pukul setengah lima pagi adalah waktu wajib bangunnya, dan yang pertama ia cari adalah buku. Dulu, kebiasaan itu tampak biasa saja, namun kini kami sadar, itulah awal ia jatuh cinta pada ilmu pengetahuan.
Sebagai ibu, saya sangat tegas dalam urusan pendidikan. Saat mengajarinya membaca di TK, dan dia tidak bisa, sepotong kayu ada di depan, siap mendarat di jari-jarinya. Kakak saya sampai marah, “Didikanmu seperti Belanda!” Tapi saya bergeming. Bagi saya, anak saya harus bisa. Walau ketegasan itu sering membuat hati ini sedih, saya tahu apa yang saya perjuangkan.
Saat ia memasuki SD, saya mulai melonggarkan cara mendidik. Saya hanya mengarahkan dan terus memantau. Hasilnya? Vernal terus membanggakan kami. Dari kelas 1 hingga tamat SD, peringkat 1 selalu menjadi miliknya. Lulus dari Sekolah Bala Keselamatan Palu, ia berhasil masuk ke SMA Model Terpadu dengan peringkat dua dari seluruh peserta tes. Saya sempat khawatir jarak sekolah yang jauh, tapi dia bahagia dan yakin bisa melaluinya.
Tiga tahun di SMA ia lewati dengan prestasi membanggakan. Ia menyumbangkan piala ke sekolah, mewakili provinsi dalam ajang Nalaria Matematika di Bogor, dan tetap memegang teguh cita-citanya sejak kecil—menjadi seorang pilot. Ia pun lulus sebagai peringkat dua terbaik se-Sulawesi Tengah.
Mengikuti serangkaian tes masuk Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), dari awal sampai akhir, Vernal selalu menjadi pemuncak nilai. Tes SKD di Sulawesi Tengah, tes akademik, psikotest—semuanya ia lalui dengan nilai tertinggi. Tes kesehatan di Palu menjadi ujian terakhir di daerah. Setelah itu, ia melanjutkan serangkaian ujian di Tangerang dan Jakarta, hingga akhirnya sampai ke tahap akhir: tes Bakat Terbang. Sekali lagi, dia memimpin nilai teratas. Namun pengumuman akhir membuat kami kecewa—ia tidak diterima di jurusan penerbangan, melainkan di Keselamatan Penerbangan, meskipun dengan peringkat kelima tertinggi secara nasional. Dunia tak selalu adil, namun kami percaya rencana Tuhan selalu baik.
Vernal menimba ilmu di STPI Curug, Tangerang. Tahun 2022, ia lulus dengan predikat cumlaude dan mulai meniti karier di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda. Semua ini berkat doa, ketekunan, kedisiplinan, dan kasih yang menopang sejak awal. Para pendeta, jemaat, dan keluarga besar kami adalah penyokong yang tak henti mendoakan.
Perjalanan rumah tangga kami bukan hanya tentang tangis, tapi juga sukacita. Setiap proses kehidupan mengajarkan kami banyak hal—dan semua itu tidak mungkin kami lewati tanpa penyertaan Tuhan. Di bulan April 2011, Tuhan mempercayakan kembali kehamilan kedua kepada saya. Berat, tapi saya tetap berusaha menjalaninya. Namun tak kami duga, pada usia kandungan enam bulan, saya dinyatakan mengalami gawat janin. Dokter menyarankan agar kandungan segera diangkat demi keselamatan saya.
Rasanya dunia runtuh. Jika saya menyerah, berarti saya harus kehilangan empat anak—tiga keguguran sebelumnya dan satu yang sedang saya kandung. Tapi saya memilih percaya. Dokter adalah manusia. Saya teringat kisah iman Bunda Maria ketika Malaikat Gabriel menyampaikan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Dengan iman itu, saya, yang berlatar Katolik, mulai melakukan Doa Novena Rosario selama tiga malam penuh. Saya bernazar: anak ini akan saya beri nama Novena Rosario.
Tuhan mendengar. Pada 19 September, Novena Rosario Putri Kinanti lahir secara prematur di usia kandungan 6 bulan 9 hari, dengan berat hanya 900 gram. Nyaris mustahil secara medis, tapi Tuhan tidak pernah gagal. Ia tumbuh sehat, lincah, dan ceria. Tahun demi tahun berlalu, ia masuk TK Kristen Bala Keselamatan, lalu SD selama 6 tahun, dan kini menempuh pendidikan di SMP yang sama. Prestasi demi prestasi ia raih, dan kami percaya masa depannya akan gemilang.
Tahun 2013 kami mulai membangun rumah sendiri. Berkat Tuhan tidak pernah terlambat. Di tahun 2015, tepat pada ulang tahun Vernal tanggal 15 Januari, kami mensyukuri dan mendoakan rumah baru kami. Betapa besar anugerah itu—hidup bersama dua anak yang luar biasa, dengan restu kedua orang tua dari dua belah pihak. Kami hanya bisa berkata: terima kasih, Tuhan.
Namun, tahun 2014 menjadi awal perjuangan fisik bagi saya. Penyakit datang bertubi. Saya harus menjalani delapan kali operasi, keluar masuk rumah sakit menjadi bagian dari hidup saya. Ketakutan, kelelahan, bahkan keputusasaan sering datang, tapi saya tetap bertahan—demi keluarga saya tercinta. Suami saya tak kenal lelah, bahkan rela cuti kerja untuk merawat saya.
Anak-anak kami juga luar biasa. Vernal, yang sudah lebih dewasa, mulai memahami situasi kami. Kinanti, meskipun masih kecil, juga belajar menjadi kuat. Di saat anak-anak seusianya berlari mengejar prestasi, Kinanti memilih menemani kami. Namun Tuhan tetap memberkati—prestasi akademik mereka tetap gemilang, meski harus membagi waktu antara rumah sakit, belajar, dan pelayanan rumah.
Tahun 2023, badai datang kembali. Suami saya terkena serangan jantung. Belum pulih sepenuhnya, ia mengalami sariawan berkepanjangan selama 10 bulan dan harus dirujuk ke RS Wahidin Makassar. Kami berjuang kembali—kali ini bersama. Hingga April 2025, proses pengobatan masih berlangsung. Doa kami satu: Tuhan beri kekuatan untuk menjalani semuanya.
Dua puluh lima tahun kami bersama bukan dibangun dari janji-janji manis, tapi dari pengorbanan, air mata, tawa, dan doa. Ini bukan kisah sempurna, tapi kisah nyata tentang iman, harapan, dan kasih yang dibungkus dalam kasih karunia Tuhan. Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain. Berkat Tuhan hadir dalam banyak rupa—kadang bukan harta atau jabatan, melainkan kemampuan untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan.
Penutup
Dalam derasnya zaman yang penuh dengan gejolak, kisah nyata Maria Sakka’ Tandiayu’ dan keluarganya menjadi lentera yang menerangi nilai-nilai kesetiaan, iman, dan ketabahan. Tak semua perjalanan hidup bisa indah, namun setiap langkah yang dijalani dengan syukur dan percaya pada penyertaan Tuhan akan menjelma menjadi pelangi sesudah hujan.
25 tahun pernikahan mereka bukan sekadar angka. Ia adalah prasasti kasih Tuhan yang dibangun dengan air mata, doa, perjuangan tanpa henti, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Semoga kisah ini menginspirasi setiap pembaca untuk memaknai arti keluarga dan perjalanan hidup bukan hanya dari pencapaian, tetapi dari kesetiaan untuk terus melangkah bersama, dalam suka dan duka.
Salam hormat dan kasih,
Penulis: Maria Sakka’ Tandiayu’
Editor: Paulus Laratmase
Media Suara Anak Negeri News.com
Catatan: Kami bersaksi: berkat terbesar adalah ketika kita tetap memiliki cinta, meski hidup penuh luka. Tuhan memberkati kita semua.
The End!
https://suaraanaknegerinews.com/bersama-dalam-lu…an-kasih-tuhan-3