April 18, 2026
Rizal tanjung cinta dan penantian

Oleh: Rizal Tanjung

bila kelak ternyata kita hidup dalam rumah yang berbeda,
kunjungi aku sebagai teman baik,
yang pernah memimpikan sebuah atap bersamamu,
namun tak pernah cukup takdir untuk membuatnya nyata.

datanglah saat senja,
saat cahaya lembut menari di antara daun-daun,
agar bayangmu jatuh tepat di sampingku,
seperti dulu kau selalu ada,
sebelum takdir menghapus namaku dari alamatmu.

aku akan menyambutmu dengan senyum paling tenang,
bukan karena aku sudah lupa,
tapi karena aku belajar menyimpan rindu di tempat yang tak bisa kau lihat.
kita akan bicara tentang hal-hal kecil,
tentang bunga yang mekar di halaman,
tentang hujan yang turun kemarin,
tentang hidup yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

namun di sela-sela kata,
akan ada hening yang menggantung di udara,
hening yang mengenang,
hening yang mengingat,
bahwa kita pernah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar dua orang yang saling sapa.

dan saat kau pamit,
aku tidak akan menahan mu,
meski hatiku ingin sekali berkata,
“jangan pergi. jangan buat aku kehilanganmu untuk kedua kali.”
tapi aku tahu,
cinta tidak selalu tentang memiliki,
kadang ia hanya tentang merelakan,
meski dalam hati yang paling dalam,
namamu tetap tinggal di sana,
menjadi cerita yang tak pernah selesai.

maka, jika suatu hari kau datang lagi,
jangan cari aku di tempat yang sama.
aku sudah pergi, bukan ke rumah lain,
tapi ke kehidupan yang tak lagi mengharapkan kau mengetuk pintu.

namun jika angin membisikkan rindumu padaku,
aku akan tersenyum dari jauh,
mendoakan mu bahagia,
meski bukan denganku.

22 Maret 2025