April 20, 2026
tanya roi suryo

Nyubit Tanpa Terasa Sakit

Oleh: Pepih Nugraha| Penulis

Bagi mereka yang kalah, gaya bicara Gibran adalah “ketidaksopanan”. Namun bagi mereka yang jernih melihat realita, ini adalah bentuk efisiensi komunikasi.

Gibran tidak butuh validasi dari para pembencinya. Ia tahu bahwa dalam politik modern, menjawab serangan serius dengan nada santai adalah bentuk dominasi mental yang paling tinggi.

Ia tidak membalas makian dengan makian. Ia membalas dendam politik dengan humas satir.

Ironinya, semakin ia ditekan dengan isu ijazah, isu etik, hingga isu akun fiktif, jawaban-jawabannya justru semakin “makjleb”. Gibran sedang mempraktikkan stoikisme versi milenial: jangan biarkan emosi lawan mengendalikan mulutmu!

Ketika ia diserang secara akademis, ia menjawab secara praktis. Ketika ia diserang secara hukum, ia menjawab secara politis. Dan ketika ia diserang secara personal, ia menjawab secara komedi. Masih ingat ‘kan saat Gibran diolok-olok “ngantukan” oleh Pandji?

Mungkin benar apa yang dikatakan Rocky Gerung tentang kepalsuan. Namun di panggung IKN yang dituduh AI itu, kita melihat sebuah fakta yang tak bisa dibantah, bahwa kritik para pembencinya seringkali lebih “palsu” dan penuh “halusinasi” dibanding kemajuan fisik bangunannya.

Gibran tetaplah Gibran. Sosok yang mungkin tidak akan pernah memberikan pidato yang menggetarkan jiwa layaknya Sukarno, tapi ia adalah sosok yang sanggup meruntuhkan harga diri lawan politiknya hanya dengan satu kalimat pendek sembari tetap memasukkan tangan ke saku celana, “Coba tanya, Roy Suryo!”

Jelaslah sudah bahwa kemenangan telak bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tapi tentang siapa yang bicaranya paling sedikit namun membuat lawan tidak bisa tidur nyenyak.

Gibran melakukan itu semua dengan mata ngantuk.

Kali ini memang dia mau tidur.