ATM yang Berbisik
Yusufachmad Bilintention
Mengingatkanku di sudut mesin itu,
cintaku tak sebanding sekeping rupiah.
Puisi menjadi saksi, diam berbisik lirih:
“Harta dan rupa hanyalah bayang wanita.”
Namun aku tak peduli,
hanya mengikuti suara hati.
Cintaku suci, sejak janji terpatri,
meski kutahu cintamu tak sebangun lagi.
Waktu memisah, janji pun rapuh,
kasih awal tetap kupegang erat.
Walau hatimu tak lagi merawat,
aku bertahan, meski luka berlabuh.
Hatimu pecah, kita terpisah,
penampilan berganti, wajah pun berubah.
Puisi berhenti, lirih mengingatkan,
namun dalam mimpi, kita masih berpadu.
Pertemuan hadir, meski hanya sekali,
dalam mimpi itu, gema tak pernah mati.
Ia abadi, menyalakan cahaya,
meski dunia nyata merenggut segalanya.
Surabaya, 16 Januari 2023
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly