Menjadi Cukup di Dunia yang Selalu Kurang: Panggilan Sunyi Seorang Fransiskan Awam
Oleh : Vera Sylvia Nainggolan OFS
–
Menjadi seorang Fransiskan Sekuler (OFS) adalah Sebuah menyeimbangkan kaki. Satu kaki saya berdiri kokoh dalam urusan duniawi mencari nafkah, ikut kegiatan kategorial dan peran saya sebagai anak dalam keluarga, dan bersosialisasi. Sementara kaki lainnya berpijak pada janji profesi untuk hidup seturut semangat Injil.
Dulu, saya mengira kekudusan hanya milik biarawan di balik tembok biara. Namun, melalui OFS, saya menyadari bahwa meja makan saya, meja tempat saya kerja sebagai seorang guru private, dan interaksi saya dengan tetangga adalah “altar” tempat saya mempersembahkan hidup. Pengalaman yang paling menyentuh adalah saat saya belajar melihat Kristus pada rekan orang2 yang menyebalkan atau pada kesulitan ekonomi yang menimpa dan banyak nya pergumulan hidup .Di sana, saya tidak lagi mengeluh, tetapi bertanya: “Tuhan, bagaimana Fransiskus akan mengasihi dalam situasi ini?”
Saya bukan lagi pemilik atas hidup saya, melainkan penatalayan dari segala kebaikan yang Tuhan titipkan. Hidup sederhana bukan berarti saya tidak punya apa-apa, tetapi artinya harta saya tidak lagi memiliki hati saya.
Berdasarkan Konstitusi dan Regular OFS, berikut adalah hal utama yang bisa saya teladani dan praktikkan:
1.”Dari Injil ke Hidup, dan Hidup ke Injil”
Ini adalah inti dari spiritualitas sekuler. Fransiskus tidak hanya membaca Injil, ia menjadi Injil yang hidup.
Keteladanan: saya menjadikan Firman Tuhan sebagai kompas dalam mengambil keputusan praktis setiap hari, seperti jujur dalam berelasi dengan siapapun dan belajar menjadi orang yg rendah hati setiap harinya.
2.Semangat Kedinaan,
Sebagai awam, Fransiskus mengajarkan saya untuk tidak mencari kuasa, tetapi mencari pelayanan.
Keteladanan: Menjadi pemimpin yang melayani dan terus belajar menjadi baik meski saya sering jatuh.
3.Hidup Sederhana di Tengah Konsumerisme,
Dunia menuntut saya untuk memiliki segalanya,sebagai pengikut Fransiskus, saya dipanggil untuk membedakan antara “kebutuhan” dan “keinginan”.
Keteladanan: Bergaya hidup bersahaja.
4. Penghormatan terhadap Ciptaan (Ekologi Integral)
Fransiskus melihat alam sebagai saudara. Sebagai awam, saya memiliki tanggung jawab menjaga bumi.
Keteladanan: Memulai kebiasaan kecil seperti mengurangi sampah plastik, hemat energi, dan tidak boros dalam konsumsi makanan.
5.Ketaatan pada Gereja dan Persekutuan Persaudaraan.
Fransiskus sangat hormat pada hierarki Gereja meskipun ia melihat kekurangan di dalamnya.
Keteladanan: Aktif dalam kegiatan paroki dan setia hadir dalam pertemuan persaudaraan (berkumpul bersama saudara-saudari OFS) untuk saling menguatkan.
Sebagai awam,pengalaman mengikuti Fransiskus sering kali dimulai dengan pergulatan batin: Bagaimana saya bisa suci di tengah tumpukan pekerjaan, persoalan hidup dengan dan relasi dengan sesama dan drama sosial? Lambat laun, saya menyadari bahwa Fransiskus tidak memanggil saya untuk lari ke gua, melainkan untuk membawa “gua batin” itu ke mana pun saya pergi. Pengalaman saya menjadi bermakna saat saya memilih untuk jujur dalam urusan uang ketika orang lain menganggap curang itu biasa. Saya tetap tersenyum melayani keluarga yang sedang sulit, melihat mereka bukan sebagai beban, melainkan sebagai “Saudara” dan “Saudari” yang dititipkan Tuhan. Saya belajar untuk merasa cukup di tengah dunia yang selalu berteriak “kurang”.
Sampai saat ini Keteladanan yang Menguatkan saya yang saya ketika mengingat pesan Santo Fransiskus: “Aku telah melakukan apa yang menjadi bagianku; semoga Kristus mengajarkan kepadamu apa yang menjadi bagianmu.” Tantangan saya adalah bagian unik dari panggilan saya. Saya tidak perlu menjadi “fotokopi” Fransiskus, tetapi menjadi “versi Fransiskan” dari diri saya sendiri di zaman ini. Menjadi Fransiskan awam adalah panggilan untuk menjadi “Oase yang Tersembunyi”. Saya tidak perlu tampil di panggung besar untuk mengubah jiwa-jiwa; cukup dengan menjadi pribadi yang membawa Pax et Bonum (Damai dan Kebaikan) dalam setiap perjumpaan sederhana.
Pace e Bene
🤎🤎