Dalam Sunyi, Aku Menunggumu
Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku adalah angin yang berbisik di antara daun,
menggumamkan namamu pada senja yang perlahan tenggelam.
Kau adalah cahaya yang berlari dalam sunyi,
menari di pelupuk mataku, namun tak pernah kujamah.
Di hamparan takdir yang ditulis sejak azali,
aku duduk bersimpuh di beranda waktu,
menanti hadirmu seperti sebatang lilin,
menjaga cahayanya di tengah badai yang berhembus lirih.
Kekasih, aku menunggumu di jantung kerinduan,
di antara guguran embun dan doa yang tak lelah kupanjatkan.
Seperti tanah menanti hujan pertama,
seperti malam menunggu kecupan fajar.
Aku adalah sabar yang menua dalam kidung doa,
setiap denting waktu adalah manik-manik tasbih,
kususun dalam sujud panjang,
agar rindu ini tersampaikan pada-Nya, yang Maha Cinta.
Kau mungkin jauh,
seperti bulan yang bercermin di samudra,
tapi aku tetap merasakan sinarmu,
menyelimuti kalbuku dalam damai yang tak terucap.
Jika kau bertanya, sampai kapan aku menunggu?
Sampai seluruh angin berhenti bernyanyi,
sampai bintang-bintang redup dalam dekapan malam,
sampai takdir merangkai kita dalam satu sujud terakhir.
Karena aku mencintaimu bukan sekadar di dunia,
namun dalam keabadian,
di mana rindu tak lagi berjarak,
dan kita hanya sebutir debu yang kembali kepada-Nya.
Dan di sana, aku akan tetap menunggumu.
2025