April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di tengah dunia yang terus bergolak, puisi hadir bukan sekadar pelipur lara, melainkan juga sebagai penanda zaman dan penawar luka. Inilah yang ditawarkan oleh Leni Marlina dalam kumpulan puisinya bertajuk “Damai di Akar Waktu”, yang diterbitkan secara resmi pertama kali pada 2025 setelah 18 tahun tertidur dalam manuskrip bilingual.

Dari kanan ke kiri: Rizal Tanjung (Penyair, Seniman, Sastrawan & Budayawan), Buya M. Arief (Jurnalis, Tokoh Sipritual), Leni Marlina (Penyair, Penulis, Akademisi, Penggerak Literasi) pada Acara Mengenang Sang Legenda Sastrawan Abrar Yusra Tahun 2025. Sumber Gambar: PPIPM-Indonesia.

Sebagai seorang penyair, akademisi, dan pegiat literasi, Leni Marlina membawa suara yang lembut namun tajam. Puisinya bukan sekadar tumpukan kata indah—melainkan suara dari akar yang tidak pernah lelah menopang pohon kehidupan bangsa. Dalam pembacaan kritis ini, kita tidak hanya menemukan kedalaman emosi, tapi juga daya lenting spiritual, filosofis, dan kemanusiaan yang kuat.

“Damai di Akar Waktu”: Damai Sebagai Entitas Pra-Lahir

> “Sebelum senjata tahu cara bicara, / sebelum tanah mengenal rasa takut, / ada sehelai bayang yang melingkar di urat bumi: / itulah damai— / belum bernama, / belum dipuja, / belum diperdagangkan.”

Di puisi ini, Leni membawa kita pada sebuah kesadaran prasejarah: damai bukanlah hasil kompromi politik atau deklarasi negara, tapi kondisi alamiah manusia sebelum dunia mengenal kekerasan. Kata-katanya nyaris profetik. Damai digambarkan sebagai sesuatu yang tinggal di kening embun dan napas bayi—murni, belum ternoda oleh ambisi dan kebencian.

Puisi ini juga menjadi pernyataan ideologis: bahwa penyair menulis “bukan dari bahasa, melainkan dari luka yang menolak membenci.” Sebuah kritik tajam terhadap era di mana literasi seringkali hanya menjadi alat estetik, bukan etika.

“Damai Bukan di Suara”: Hening Sebagai Simbol Kekuatan

> “Damai bukan suara, / ia adalah hening / yang disayat waktu / dan masih memilih tidak berteriak.”

Puisi kedua ini mengeksplorasi konsep diam yang bukan pasif, melainkan sebuah kekuatan spiritual. Di tengah dunia yang ribut dengan propaganda dan tepuk tangan palsu, Leni memilih mempercayai suara yang justru datang dari bisu: batu, tanah, air mata yang tak jatuh.

Kutipan ini mengingatkan kita pada filosofi Jawa tentang “tepa selira” dan keheningan sebagai bentuk tertinggi dari kebijaksanaan. Damai di sini bukan dicari di panggung kekuasaan, tapi di “dinding yang menuliskan luka dengan debu.”

“Damai Bukan di Permukaan”: Air Sebagai Medium Pengingat

> “Aku minum air, / bukan untuk menghapus dahaga, / tapi untuk mengingat kembali / apa yang hilang dari diri yang sudah lama hilang.”

Air di puisi ini tidak hanya sebagai elemen alam, tapi metafora spiritual yang memuat memori kolektif manusia. Leni membongkar lapisan makna air—bukan sebagai penyejuk fisik, melainkan pengalir luka, pelindung rahasia, dan pemikul ingatan yang dilupakan.

> “Air, / kau menyembuhkan luka yang tak tampak / di dalam dada manusia.”

Leni menulis dengan pendekatan kontemplatif. Air bukan lagi benda; ia menjadi entitas yang memeluk, menyembuhkan, dan bahkan—jika dikhianati—menghilang. Ini pesan penting untuk generasi yang sibuk “menyimpan” daripada “mengalirkan.”

“Damai Bukan di Langit yang Tinggi”: Kosmologi Damai

> “Langit— / bukan sekadar biru yang terbentang, / tapi jendela bagi jiwa yang tak lagi mengenal batas.”

Leni Marlina membawa kita ke tataran metafisis. Di puisi keempat ini, damai bukan lagi fenomena bumi, tapi eksistensi universal. Ia menggambarkan langit bukan sebagai tempat tinggi secara fisik, tapi sebagai ruang keterbukaan tanpa batas, tanpa prasangka.

> “Damai bukan di antara awan yang mengambang, / tapi di ruang kosong di atasnya…”

Langit di sini bukan objek observasi, tetapi menjadi subjek yang “mengamati segalanya tanpa menghakimi.” Leni memosisikan langit sebagai pelindung cerita yang belum selesai. Ini menjadi pengingat bahwa harapan dan damai bisa hadir dalam bentuk yang tak kasat mata, tak bisa dipetakan, tapi bisa dirasakan.

“Damai Bukan Hadiah”: Kesadaran Bahwa Damai Adalah Usaha

> “Kami tahu: / perdamaian bukan hadiah, / tapi kerja keras hati yang mau memahami, / bukan menundukkan.”

Inilah klimaks etis dari seluruh narasi puisi-puisi Leni Marlina. Damai bukan sesuatu yang diberi, tapi ditumbuhkan, dipilih, diperjuangkan. Ia mengingatkan pembaca bahwa “kadang, ia hadir / sebagai sepasang tangan / yang memilih untuk tidak melepaskan.”

Leni menyentil narasi umum yang menganggap damai sebagai hasil akhir dari kesepakatan. Tidak. Damai adalah sebuah kesadaran, tindakan, dan bahkan pengorbanan. Dalam baitnya yang sederhana, terselip pelajaran diplomasi, pendidikan empati, dan pembangunan nilai dalam keluarga maupun masyarakat.

Puisi Leni Marlina sebagai Gerakan Kemanusiaan

Kumpulan “Damai di Akar Waktu” bukan sekadar karya sastra; ini adalah dokumen peradaban, pernyataan ideologis, dan gerakan sunyi yang menggema dari Sumatera Barat hingga komunitas internasional. Leni Marlina menulis bukan hanya untuk estetika, tapi untuk menyembuhkan bangsa yang sedang kehilangan akar damainya.

Ia tidak menawarkan solusi politik, melainkan solusi batin. Puisinya menyentuh dari anak-anak pengungsi yang menggambar matahari dengan arang, hingga ibu-ibu yang memilih menanam pohon ketimbang menanam dendam.

Sebagaimana ia tulis dalam larik paling menyayat:

> “Dan jika tak seorang pun mengingat, / biarlah batu yang mengingat. / Batu tak butuh alasan untuk setia.”

Dalam dunia yang gemar lupa, puisi Leni mengajak kita untuk tetap mengingat—dan menjaga—akar waktu tempat damai pernah tumbuh.

Tentang Penulis: Leni Marlina adalah akademisi, penyair, dan penggerak literasi dari Sumatera Barat. Ia aktif di berbagai komunitas internasional seperti Poetry-Pen IC, ACC SHILA, dan SATU PENA Sumbar. Selain menulis puisi, ia juga mengajar di Universitas Negeri Padang dan menjadi bagian dari redaksi Suara Anak Negeri.

Sumatera Barat, 20 April 2025.