“Dari Sebuah Impian, STKIP Kartabridge Lahir di Hari Kemerdekaan”
Oleh : joko
“Kartabridge: Jejak Sunyi Perjuangan Menuju Cahaya Pendidikan Tanimbar, Pentagon, Pena, dan Cahaya: Makna Lambang Kartabridge di Jalan Panjang Pendidikan”
“Deklarasi Pendirian STKIP Kartabridge Bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, sebuah Institusi Lahir dari Kesunyian, Ditempa oleh Kegagalan dan Harapan”
http://suaraanaknegerinews.com | Minggu pagi, 17 Agustus 2025. Di sudut Saumlaki, suasana terasa berbeda. Langit Tanimbar seolah memantulkan gema sejarah, ketika bangsa ini pertama kali memproklamasikan kemerdekaan tepat 80 tahun silam.
Namun hari itu, bukan hanya peringatan nasional yang disambut dengan khidmat—ada pula sebuah babak baru yang lahir dalam dunia pendidikan: Deklarasi Pendirian STKIP Kartabridge.
Kartabridge sendiri bukan sekadar nama. Ia adalah akronim dari Karya Akademisi Rakyat Tanimbar Abadi Bagi Republik Indonesia Dalam Gelanggang Edukatif.
Sebuah nama panjang, sarat makna, dan mengandung harapan besar. Namun perjalanan menuju hari deklarasi ini bukanlah jalan mulus. Ia berawal dari tahun 2006, dari sebuah perjuangan sunyi yang ditempa kegagalan, keraguan, dan keyakinan yang tak pernah padam.
Filosofi dalam Lambang
Seperti sebuah puisi visual, lambang STKIP Kartabridge menyimpan cerita panjang.
- Pentagon berbentuk segi lima menegaskan dasar pijakan: Pancasila.
- Bola hitam adalah bumi, tempat manusia berpijak; sementara lingkaran merah melambangkan kasih Yesus yang mencurahkan darah-Nya demi keselamatan umat manusia.
- Empat pilar menjadi refleksi atas prinsip pendidikan UNESCO.
- Buku dan pena—simbol sederhana namun tak lekang oleh waktu—menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan lahir dari membaca dan menulis.
- Tiga bola lampu yang menyala menggambarkan Tridharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Cahaya itu diharapkan menerangi bumi, membawa terang ke Tanimbar, bahkan ke Indonesia.
Perjalanan yang Ditempa Gagal
“Kehebatan seseorang bukan terletak pada seberapa sering ia menang, tetapi pada keberaniannya untuk bangkit kembali setiap kali gagal,” tulis Konfusius, filsuf besar Tiongkok.
Falsafah itulah yang menjadi nafas pendiri Kartabridge. Seperti yang diyakini Aristoteles pula: “Kita tidak bisa belajar tanpa rasa sakit.” Dua kutipan dari dua peradaban berbeda itu, entah bagaimana, justru bertemu dalam perjalanan panjang berdirinya sebuah perguruan tinggi di tanah Tanimbar.
Kegagalan demi kegagalan pernah mewarnai langkah ini. Tetapi setiap jatuh, ada keberanian untuk bangkit kembali. Setiap sakit, ada pelajaran yang dipetik. Dari kesunyian itulah, Kartabridge ditempa: menjadi lembaga yang lahir bukan karena instan, melainkan melalui luka, doa, dan harapan.
Momen Deklarasi
Deklarasi pendirian STKIP Kartabridge ditetapkan tepat pada 17 Agustus 2025, bukan tanpa alasan. Tanggal itu dipilih agar nafas perjuangan bangsa yang merebut kemerdekaan bisa sekaligus mengalir dalam darah perjuangan perguruan tinggi ini.
Dukungan pun datang dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang dipimpin Bupati Ricky Jauwerissa dan Wakil Bupati dr. Juliana Ch. Ratuanak.
Dukungan ini seakan menjadi pengakuan bahwa Kartabridge bukan sekadar mimpi, melainkan bagian dari cita-cita bersama untuk memajukan pendidikan di wilayah kepulauan yang jauh dari hiruk pikuk pusat kota.
Penyerahan Kepemimpinan
Sejarah baru itu pun semakin nyata ketika Nofri Dasmasela, SE., M.Pd resmi dipercayakan menjadi Ketua STKIP Kartabridge-Saumlaki oleh Ketua Badan Pendiri Yayasan Pendidikan Dasa Sakti, Hendrik Refualu, SH., S.Pd.
Menariknya, penyerahan mandat ini berlangsung sederhana. Tanpa gemerlap panggung, tanpa gegap gempita. Hanya sebuah momen singkat di sela santap malam bersama Bupati Ricky Jauwerissa dan keluarganya, Senin malam, 11 Agustus 2025. Namun kesederhanaan itu justru mempertegas: perjuangan besar sering kali lahir dari ruang-ruang sederhana.
Sebuah Harapan
Kini, Kartabridge bukan lagi sekadar impian sunyi yang bergelut sejak 2006. Ia telah menjelma menjadi lembaga nyata, dengan simbol, filosofi, dan arah yang jelas.
Lebih dari sekadar institusi pendidikan, Kartabridge adalah monumen perjuangan yang lahir dari kegigihan, doa, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju pembebasan.
Di Hari Kemerdekaan Indonesia, sebuah perguruan tinggi baru lahir di Tanimbar. Dan seperti semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, lahirnya STKIP Kartabridge adalah sebuah deklarasi: bahwa kemerdekaan sejati adalah ketika setiap anak bangsa berhak atas pendidikan yang bermartabat.