May 10, 2026

Dengan Ketenangan, Kita Bisa Melihat Solusi dari Setiap Masalah

Maidawati Retnoningsih (hijab merah), Neny Suswati, Dian Evilia Kristanti, dan Arsiya Oganara. (10/2). (Foto: Istimewa)

Maidawati Retnoningsih (hijab merah), Neny Suswati, Dian Evilia Kristanti, dan Arsiya Oganara. (10/2). (Foto: Istimewa)

Bandar Lampung, suaraanaknegerinews.com – Maidawati Retnoningsih Bunda Litersi Provinsi Lampung mengatakan, dengan ketenangan, kita bisa melihat solusi dari setiap masalah. Pada umumnya orang terjebak, saya pun merasakan kecamuk perasaan takut, cemas, khawatir, tidak percaya diri, hampir frustasi, dan lain-lain. Hal ini ia katakana pada acara Diskusi Peluncuran Buku Terjebak di Puncak di Gedung Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. Senin, 10 Februari 2025.

Maidawati Retnoningsih melanjutkan, hal pertama yang menjadi penyebabnya adalah perasaan berpindah alam. Terjebak ketika saya agak ngak nyaman, biasa dipanggil Maida, terus jabi Bu. Kemudian ketika saya biasa foto bersama teman-teman, langsung saya bisa nyelesep, sekarang ibu di tengah, saya gak bisa lagi foto jongkok, ujarnya.

Tak hanya itu, Maida menambahkan, kalau bapak/ibu melihat foto di medsos saya, saya didepan dan jongkok. Tetapi Ketika saya menjadi Ibu Gubernur ngak boleh, padahal saya bilang ngak apa-apa.

“Pada suatu acara di hotel duduk di roundtable saya ingin menghemat waktu foto bersama saya, saya datangi dari meja ke meja.  Setiap saya sampai di meja, mereka semua berdiri, saya diminta duduk, padahal tidak begitu konsepnya. Kalau mereka berdiri waktunya lebih banyak”, papar Maida.

Setelah saya selesai dilantik, saya berkunjung ke ibu saya di Pringsewu. Saat saya berkunjung lagi, ibu saya menyampaikan, beliau ditegur oleh kepala desa, anaknya mau datang kok ngak lapor ke kepala desa, imbuh Maida.

“Semoga buku ini bisa menjadi tambahan wawasan bagi kita semua. Lakukan segala sesuatu semaksimal mungkin”, pungkas Maida.

Pada kesempatan ini, Neny Suswati menyatakan, menulis itu bukan cuma menggoreskan pena tetapi intinya menyampaikan gagasan. Teknisnya bagai mana kita, buku ini menyampaikan gagasan dari tiga kepala. Sebagus apapun buku kalau tidak sesuai dengan kemauan pembaca itu percuma.

“Kadang-kadang kita diberi kemampuan namun tidak disempatkan, Misi Bunda Literasi akan efektif ketika semua menjadi Bunda Literasi. Kalau di provinsi cuma satu maka daya inspirasinya terbatas. Tetapi jika setiap ibu menjadi Bunda Literasi bagi anak-anaknya akan besar selaki pengaruhnya”, tegas Neny.

Minat baca orang Indonesia berada di peringkat paling bawah dari 70 negara. Sebenarnya minat baca kita tinggi tapi bukan baca buku, baca HP”, tandas Neny.

Arsiya Heni Puspita dengan nama pena Arsiya Oganara memberikan apresiasi atas peluncuran buku ini. “Buku ini bagus, ini sebagai kenang-kenagan bagi kita semua serta kita mengetahui aktifitas Bunda Literasi Lampung”, ujar wanita pencinta dunia sastra.

Bisa jadi pemantik bagi yang lain untuk menulis, pungkas Juournalist dan penulis.

Dian Evilia Kristanti dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Lampung mengatur lalu lintas diskusi ini sebagai moderator.

Diketahui, Maidawati Retnoningsih kuliah di Universitas Lampung (Unila) sampai semester empat, kemudian menikah. Setelah memiliki lima putra/i kembali melanjutkan kuliah bidang sastra di Jakarta, saat ini gemar menulis puisi.

Terjebak di Puncak karya tiga orang penulis Maidawati Retnoningsih, Neny Suswati, dan Samsudin. Buku ini memaparkan catatan 244 hari menjadi istri PJ Gubernur Lampung mulai tanggal 19 Juni 2024. (Arsiya Oganara)