“DERMAGA TERAKHIR”: Duet Kumpulan Puisi Spiritual dan Eksistensial Karya Penyair Indonesia: Leni Marlina dan Ramli Djafar – Terinspirasi Dari Lukisan Penyair Anna Keiko (China)
/1/
TITIK AWAL YANG TAK TERLIHAT

(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Segalanya bermula
bukan dari kata, bukan dari suara,
melainkan dari diam—
yang diciptakan lebih dahulu
dari segala langit dan air.
Di sanalah,
puisi belum menjadi puisi,
tapi telah menjadi doa
yang menyelinap dalam tulang
dan bergetar sebagai rindu
kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Tinta belum ditumpahkan,
namun kalimat telah ditulis
di lembaran-lembaran tak kasat
yang kita sebut sebagai takdir.
Maka berjalanlah,
kau yang membaca
—bukan dengan kaki,
tetapi dengan jiwamu
yang terbit dari dermaga kesadaran.
Karena tiap kata di halaman ini
adalah tiang layar,
tiap bait adalah ombak,
dan tiap jeda adalah panggilan-Nya.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/2/
KAPAL-KAPAL DIAM

(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Ramli Djafar (Xie Zhongli)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Angin tak pernah benar-benar datang,
hanya melintas seperti janji
yang dilupa langit pada laut.
Di dermaga ini,
sunyi tumbuh dari akar cahaya.
Kapal-kapal diam,
membawa rahasia yang tak jadi berangkat.
Setiap gelombang
adalah kata yang ditelan waktu.
Dermaga bukan hanya tempat,
ia adalah dada
tempat manusia bersandar pada yang tak terlihat—
sebuah jeda antara pulang
dan pasrah.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/3/
DERMAGA

(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Ramli Djafar (Xie Zhongli)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Awan biru melukis angkasa
Berpadu dengan warna putih
Menari-nari penuh rasa riang
Seiring angin yang berhembus perlahan
Sinar mentari pancarkan cahayanya
Penuhi ditiap ruang yang ada
Keheningan begitu terasa
Rasa sunyi warnai permukaan bumi
Alam berdiam dalam sepi
Bagaikan sedang bersemedi
Larut diantara waktu yang berlalu
Kapal besar bersandar di dermaga
Diam tak bergerak
Sesekali terdengar bunyi air
Bagaikan nyanyian rindu sang nelayan
Menanti waktu untuk melaut
Mencari nafkah penyambung kehidupan
Dermaga masih sepi
Jauh dari hiruk pikuk
Alam semakin tebarkan pesonanya
Perpaduan nan asri
Air laut begitu tenang
Bagaikan kanvas lukisan
Tampilkan bayangan kapal yang sandar di dermaga
Pantulan segala cahaya
Aneka warna
Keindahan yang sempurna
Dermaga berdiri kokoh
Tahan dari segala terjangan alam
Mampu bertahan dari segala beban
Dermaga
Pelabuhan terakhir kapal sebelum berlayar
Menyimpan segala cerita anak manusia
Padang, Sumatera Barat,
5 April 2025
——————————————–
Ramli Djafar merupakan anggota aktif PPIPM-Indonesia dan penulis aktif Satu Pena Sumbar, anggota Kreator Era AI Sumbar, juga merupakan anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; dan Poetry-Pen International Community. Sejumlah puisinya sudah dibukukan dan juga sudah ada diterbitkan dalam bahasa Cina di jurnal puisi ACC Shanghai International Literary Association (ACC SHILA).
/4/
ANAK YANG DITINGGAL OMBAK

Sumber Gambar: Koleksi Lukisan Anna Keiko
(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dermaga itu tumbuh dari tubuh
yang tak sempat dilahirkan ibu—
ia seperti doa yang tertahan di langit
tak sempat jatuh
karena bumi sibuk dengan takdirnya sendiri.
Aku duduk di atas karang
menyulam rahasia dari kabut,
bercakap dengan ombak
yang mencuri nama ayahku
dari kitab kehidupan.
Bayang kapal itu—
tak lain bayangku sendiri,
mencari laut di dalam dada
dan langit di sehelai sajadah
yang terhempas waktu.
Tuhan,
mengapa Engkau titipkan sunyi
pada anak-anak yang tak tahu arah?
Mengapa ombak Engkau jadikan pesan
yang tak pernah sampai?
Namun aku tahu,
bahwa gelombang laut ini
adalah huruf dari kalam-Mu
yang sedang mengajariku membaca
arti kehilangan.
Di balik pasang dan surut,
Engkau sembunyikan hikmah
seperti mutiara
di dasar laut yang dalam.
Dan aku,
anak yang ditinggal ombak,
masih menunggu
takdir-Mu datang
dalam bentuk pelukan.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/5/
KAPAL TERAKHIR MENUJU CAHAYA
(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tuhan,
ada sebuah kapal dalam dadaku
yang tak pernah benar-benar berangkat—
ia menunggu angin dari nafas-Mu,
ia rindu suara-Mu
dalam tiap desir gelombang.
Laut ini luas,
namun tak lebih luas dari rahmat-Mu.
Langit ini tinggi,
namun tak setinggi cinta yang Kau tanam
dalam debu seorang hamba.
Aku telah menukar seluruh duniaku
demi satu cahaya
yang memanggil dari kejauhan,
seperti suara ibu
yang membisikkan surga
di antara tidur dan bangunku.
Dermaga tak lagi penting,
bukan tempat aku berakhir—
melainkan tempat aku kembali
sebagai ruh yang bersyahadat,
sebagai cahaya yang Engkau pulangkan
ke asal-muasalnya.
Biar dunia gemuruh
dengan kapal-kapal yang karam,
kapalku kecil,
namun hatiku penuh nama-Mu.
Aku tahu,
ini bukan perjalanan ke seberang,
tapi pulang ke dalam—
menuju Diri-Mu
yang tak pernah jauh
sekalipun aku tersesat di segala arah.
Panjang, Sumatera Barat, 2025
/6/
DERMAGA TERAKHIR
(Terinspirasi Dari Lukisan Pelukis dan Penyair Anna Keiko, China)
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita telah menulis lautan,
kita telah menorehkan perahu
dari luka dan zikir,
menemani angin
dari sabar dan air mata.
Namun akhirnya,
bukan laut yang membawa kita pulang,
bukan kapal yang menyelamatkan,
melainkan tangan-Nya—
yang tak terlihat,
namun selalu menggenggam
di balik segala kehilangan.
Tuhan,
jika seluruh dermaga runtuh,
jika semua arah tak lagi terbaca,
biarlah Engkau menjadi
satu-satunya peta
dalam dada kami.
Karena sejauh-jauhnya pelayaran
yang kami tempuh dalam puisi,
Engkau-lah dermaga terakhir
yang tak pernah karam.
Dan kepada-Mu,
kami titipkan
segala kata
yang tak sempat kami ucap
sepanjang hidup.
Panjang, Sumatera Barat, 2025
——————————————
Kumpulan puisi ini yang berjudul “DERMAGA TERKAHIR” (puisi no. 1, 2, 4, dan 5) ditulis oleh Leni Marlina dalam bentuk bilingual (Inggris-Indonesia).
Leni Marlina merupakan seorang penulis, penyair, akademisi kelahiran Baso, Kabupaten Agam, berdomisili di Padang, Sumatera Barat. Ia merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan Leni di luar kampus adalah sebagai Tim Redaktur Media Suaraanaknegeri.com dan aktif menulis di beberapa media online lainnya.
Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
Silahkan baca versi bahasa Inggris koleksi puisi ini dengan meng-klik link official berikut di bawah ini:
“THE FINAL HARBOUR”: A Duet Collection of Spiritual and Existential Poems by Indonesian Poets: Leni Marlina and Ramli Djafar – Inspired by the Paintings of Poet Anna Keiko (China)