BULAN
Oleh: Rizal Tanjung
–
di malam yang sunyi, di batas cakrawala, aku berdiri di padang, menjelma bayang luka dan doa. dalam genggaman tanganku, sebuah bingkai tua, menjadi jendela bagi mimpi-mimpi yang kupelihara.
bulan pun menggantung dalam diam, bagai lentera yang kusemat dalam kenangan, kukaitkan harapan pada sinarnya yang temaram, kusulam rindu pada cahayanya yang perlahan.
kekasih, lihatlah, aku telah membingkai bulan untukmu, agar malam tak lagi sunyi, agar cahayanya selalu menyentuhmu.
setiap malam, kuangkat bingkai ini, menata bulan dalam batas jemari, seolah memilikinya, meski kutahu, ia tetap jauh, tetap tak tergapai.
namun harapan tak pernah pupus, seperti bulan yang setia menemani langit, maka cintaku padamu takkan luruh, ia akan bersinar meski malam begitu gigil.
andai bisa, akan kubingkai waktu, agar kau dan aku tak lagi berjarak, agar malam tak hanya sekadar menunggu, namun menjadi temu dalam dekap.
bulan, saksikanlah rinduku, sampaikan pada semesta tentang cintaku, bahwa meski kau tak bisa kugenggam seutuhnya, aku tetap menjagamu dalam bingkai hatiku.
dan bila suatu hari takdir mengizinkan, kan kubawa bulan itu dalam genggaman, tak lagi sekadar pantulan dalam bingkai harapan, tapi nyata, di sampingku, selamanya bertahan.
2025