April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di ruang megah berlapis sutra, Berdiri kursi dengan aura laksana surya. Dihias emas, diukir sejarah, Di sanalah mereka duduk penuh gelimang anugerah.

Dulu ia kursi kehormatan, Diduduki orang-orang terpandang. Dengan pidato berapi-api, Berjanji setia demi negeri.

Tangan di dada, bersumpah janji, Menyebut rakyat, menyebut nurani. Tapi di balik megahnya kursi, Ada kelicikan bersembunyi.

Malam-malam di ruang gelap, Angka-angka dirancang cepat. Proyek fiktif, anggaran lari, Ke rekening luar, tak pernah kembali.

Tangannya gemetar menandatangani, Berkas-berkas yang dulu suci. Sekarang jadi lahan subur, Untuk kantong sendiri penuh makmur.

Kursi itu kini berlumur dosa, Duduk di atasnya terasa biasa. Sampai ketukan palu berbunyi keras, Mengubah semua jadi nista dan cemas.

Kini kursi itu tak lagi sama, Dibawa ke ruang penuh stigma. Dari kursi kehormatan berlapis sutra, Berpindah ke kursi besi yang dingin terasa.

Dulu tepuk tangan menggema, Kini hanya tatapan hina. Dulu disanjung bagai raja, Kini tertunduk dalam nestapa.

Kursi pesakitan menunggu sabar, Menyambut sang tamu yang dulu besar. Tak ada lagi jas berkilau, Hanya rompi oranye sebagai pelindung galau.

Roda takdir berputar cepat, Kemegahan runtuh dalam sekejap. Dari kursi kehormatan yang diagungkan, Menuju kursi pesakitan yang ditakutkan.

Negeri ini tak butuh janji, Tak perlu pidato tinggi-tinggi. Cukuplah mereka yang duduk di kursi, Tak mengkhianati hati nurani.

Sebab kursi, meski tampak diam, Ia mendengar, ia merekam. Dan saat pengadilan tiba, Ia akan bicara dengan suara neraka.

2025.