April 18, 2026

Yusuf Achmad

Belia menjelma rajawali gagah perkasa,
Membelah cakrawala dengan kepakan megah,
Atau singa yang mengaum lantang,
Menaklukkan rimba tanpa bimbang.

Kanakku bersemayam dalam kelembutan panda,
Tenang bersandar pada pelukan hijau dedaunan,
Dan burung cendrawasih berdandan,
Mahkota warna-warni surga,
Menghiasi semesta harmoni membahana.

Dewasa, aku digandeng mimpi-mimpi,
Berayun lembut dalam sayap kupu-kupu jelita,
Hinggap di mawar putih suci, nan cerah,
Meski mawar hitam pernah menyapa,

Ku menjelma unta berpunuk kesetiaan,
Menapaki gurun luas tanpa batas, tak berbatas oleh waktu.
Meneguk setetes air sebagai pembasuh dahaga,
Sementara mata berat, tertutup oleh lelah perjalanan.

Langkahku, meski perlahan, tak pernah berhenti bergulir,
Rajawali muda dan singa perkasa kini tersimpan sebagai kenangan.
Cendrawasih dan panda riang telah menjelma bayangan.
Namun aku tak bersedih, aku tak kehilangan.

Mensyukuri tiap langkah sebagai unta sang pemikul beban,
Karena setiap derap, meski berat menekan,
Menggendong luka, duka, dan bahagia yang berkelindan,
Tetap aku jalani demi tujuan luhur yang menjulang.