April 17, 2026

Era Nurza

Di ranah diwarisi dari doa dan adat
tempat pepatah lebih tua dari ingatan manusia
seorang ayah berdiri di bawah teduh surau
sementara anaknya menatap jauh
ke arah kota yang sibuk dengan spanduk dan janji

Mereka berdua lahir dari tanah yang sama
menyebut Tuhan dengan nama yang sama
namun kini menulis harapan di peta politik yang berbeda

Ayah, dengan langkah lembut dan suara tenang
mengajarkan arti istiqamah
tentang menjaga arah di tengah badai zaman
Anak, dengan mata yang menyala oleh masa depan
berbicara tentang ruang baru
tentang dunia yang ingin lebih adil bagi semua warna pikiran

Mereka tidak bertengkar
hanya berdiri di dua ujung mata angin yang sama-sama mencintai negeri ini
Kadang malam datang membawa rindu yang tak sempat diucapkan
dan doa-doa berpapasan di langit
yang satu memohon keteguhan
yang satu memohon kebebasan

Orang-orang berbisik menilai menimbang
tapi siapa yang benar-benar tahu
bagaimana cinta ayah bisa tetap hangat
meski perahu anaknya berlayar ke laut yang lain

Di meja makan mungkin masih ada tawa kecil tersisa
di sela kabar dan tafsir yang berbeda arah
Sebab cinta darah tak mengenal dikotomi partai
dan kasih sayang tak butuh manifesto

Mereka hanya manusia
yang berani tetap saling menghormati
ketika dunia sibuk memilih sisi

Dan mungkin, justru di situlah hikmah tinggal
bahwa iman dan akal bisa berpelukan
bahwa perbedaan bukan kutukan
melainkan cara Tuhan menulis ulang kasih dalam rupa yang lebih luas

Padang, Oktober 2025