April 18, 2026
era6

Era Nurza| Pendidik, Sastrawan

Neneng berdiri di tepi malam
ketakutan menempel di kulitnya
Tubuhnya diminta, martabatnya ditawar paksa
kata tidak yang ia ucapkan berubah jadi ancaman maut
“Aku hanya ingin pulang,”
bisiknya pada langkah yang gemetar
Namun pisau niat jahat telah terhunus
dan maut mengintip dari mata yang tak mengenal belas

Di detik ketika hidup ditimbang
antara napas atau liang kubur
Neneng memilih bertahan
bukan untuk membunuh
melainkan agar esok masih bernama hidup

Tangan itu bergerak bukan oleh dendam
melainkan oleh naluri paling purba
menyelamatkan diri
Ketika tubuh penjahat rebah
jerit Neneng justru terkurung di jeruji

Kini ia duduk di balik tembok sunyi
dicap sebagai pembunuh oleh pasal-pasal kaku
padahal yang ia jaga hanyalah nyawanya sendiri
harga diri yang nyaris direnggut paksa

Wahai Pak Hakim dan Pak Jaksa yang terhormat
dengarkanlah denyut yang tak tertulis di berkas perkara
Jika ia tak melawan
barangkali nama Neneng telah tinggal doa

Ia terpaksa
di antara hidup dan mati yang tak memberi pilihan
Maka adilkah menghukumnya
atas keberanian mempertahankan hidup?
Neneng bukan penjahat
ia hanya perempuan yang menolak direnggut
dan memilih bernapas
ketimbang menjadi nama
di batu nisan yang sunyi

Padang, Awal Januari 2026