DUA HATI | TWO HEARTS
Rizal Tanjung| Sastrawan dan Budayawan Sumatera Barat
—
I.
Senja di Ujung Napas | Twilight at the Edge of Breath
Indonesia
Aku mencintaimu seperti senja mencintai laut—
selalu datang dengan warna paling indah,
namun pulang sebagai kehilangan.
Di dadamu, kutitipkan napas
yang tak sempat kusebut sebagai doa.
Kau menjelma bisikan
yang tak pernah lahir sebagai kata.
Dalam mataku, kau menanam musim gugur
yang daunnya jatuh satu per satu
seperti waktu yang kehilangan arah.
Kita bertemu di persimpangan sunyi,
di antara detik yang ragu
dan waktu yang cemburu.
Namamu kusebut lirih,
seperti memanggil hujan agar jatuh tanpa suara—
hanya getar di udara,
hanya desir di jiwa.
English
I love you the way twilight loves the sea—
always arriving in its most beautiful colors,
yet returning home as loss.
Upon your chest, I entrust a breath
I never managed to call a prayer.
You become a whisper
never born into words.
In my eyes, you plant autumn—
leaves falling one by one
like time that has lost its direction.
We meet at a silent crossroads,
between hesitant seconds
and jealous time.
I speak your name softly,
like calling rain to fall without sound—
only a tremor in the air,
only a quiver in the soul.
—
II.
Peta yang Ditulis Angin | A Map Written by the Wind
Indonesia
Cinta kita adalah peta
yang digambar angin di atas pasir:
sekali ombak datang,
segala arah menjadi kabur.
Kita tak pernah tahu
ke mana harus pulang.
Langit menjadi jarak,
laut menjadi batas
yang tak pernah bisa diseberangi.
Aku berjalan padamu dengan kaki telanjang,
menyusuri kenangan yang tajam dan hangat,
seperti menapaki serpihan kaca
di atas api.
Setiap langkah adalah luka kecil
yang kupeluk sebagai bukti
bahwa aku pernah berharap.
Kau tersenyum seperti pagi
yang menjanjikan cahaya,
namun matamu menyimpan malam
yang tak pernah mau pergi.
Di balik senyum itu,
aku melihat kepergian
yang menunggu.
English
Our love is a map
drawn by the wind upon sand:
once the waves arrive,
all directions blur.
We never know
where home might be.
The sky becomes distance,
the sea a boundary
never meant to be crossed.
I walk toward you barefoot,
tracing memories both sharp and warm,
like stepping on shards of glass
upon fire.
Every step is a small wound
I cradle as proof
that I once hoped.
You smile like a morning
promising light,
yet your eyes keep a night
that never wants to leave.
Behind that smile,
I see a departure
already waiting.
—
III.
Beranda Cinta yang Tak Berpintu | A Doorless Veranda of Love
Indonesia
Jika cinta adalah rumah,
maka kita hanya tinggal
di berandanya saja—
menikmati angin,
tanpa pernah memiliki kunci.
Aku belajar mencintaimu
tanpa meminta pulang.
Aku belajar merindukan
tanpa menuntut temu.
Dan kau belajar pergi
tanpa menoleh,
seolah hatiku hanya jejak air
di kaca jendela
yang hilang ketika matahari datang.
Kita duduk di kursi waktu,
memandang senja
yang tak pernah habis,
menyadari bahwa kebersamaan kita
adalah sebuah penundaan
dari kehilangan.
English
If love were a house,
we would live only
on its veranda—
enjoying the wind,
never owning the key.
I learn to love you
without asking to return.
I learn to long
without demanding reunion.
And you learn to leave
without turning back,
as if my heart were only
a trace of water
on a windowpane
vanishing when the sun arrives.
We sit on the chair of time,
watching a twilight
that never ends,
realizing that our togetherness
is merely a postponement
of loss.
—
IV.
Malam yang Tak Pernah Usai | The Night That Never Ends
Indonesia
Malam-malam memanjang
seperti kalimat yang tak selesai.
Aku menulis namamu
di antara denyut jam,
namun huruf-huruf itu
meleleh menjadi air mata.
Setiap huruf berubah
menjadi kenangan,
setiap kenangan berubah
menjadi pedih yang diam.
Bulan menggantungkan wajahnya
di langit yang pucat.
Ia tahu rahasia kita:
bahwa cinta paling setia
sering kali tak punya tempat
untuk berdiam.
Ia menatap kita dari jauh,
seperti ibu yang tahu
anaknya takkan kembali.
Aku mendengar desir angin
di sela dedaunan—
ia membawa suara langkahmu
yang kian memudar,
namun aromanya
tetap tinggal
di jantungku.
English
Nights stretch
like unfinished sentences.
I write your name
between the pulse of clocks,
but the letters
melt into tears.
Each letter becomes
a memory,
each memory becomes
a silent ache.
The moon hangs its face
in the pale sky.
It knows our secret:
that the most faithful love
often has no place
to dwell.
It watches us from afar,
like a mother who knows
her child will never return.
I hear the rustle of wind
among the leaves—
it carries the sound
of your fading footsteps,
yet your scent
remains
in the center of my heart.
—
V.
Bahasa yang Diciptakan dari Luka | A Language Born of Wounds
Indonesia
Aku mencintaimu
dengan bahasa
yang tak dipahami dunia.
Bahasa yang hanya dimengerti
oleh luka
dan kesabaran.
Bahasa yang tak diucapkan
oleh bibir,
melainkan oleh dada yang sunyi
dan harapan
yang berlutut.
Kita adalah dua sungai
yang saling memantulkan cahaya,
namun mengalir
ke laut yang berbeda.
Kau biru,
aku kelabu;
kita bersisian,
namun tak pernah
menjadi satu.
Dan ketika matahari tenggelam,
aku tahu:
sungai pun bisa menangis,
tanpa air mata.
English
I love you
in a language
the world does not understand.
A language known only
to wounds
and patience.
A language not spoken
by lips,
but by a silent chest
and kneeling hope.
We are two rivers
reflecting the same light,
yet flowing
toward different seas.
You are blue,
I am ash-gray;
we run side by side,
yet never
become one.
And when the sun sinks,
I know:
even rivers can weep,
without tears.
—
VI.
Waktu dan Hujan | Time and Rain
Indonesia
Kau berkata,
“Waktu akan menyembuhkan.”
Aku tersenyum—
sebab aku tahu,
waktu hanya mengajarkan
cara hidup
bersama kehilangan.
Cintamu bukan pisau,
ia hujan.
Tak membunuh seketika,
namun perlahan
membanjiri segala ruang
hingga napasku
belajar tenggelam.
Aku terdiam
di jendela,
menatap hujan
yang tak mau reda,
dan menyadari
bahwa setiap tetes air
adalah bentuk lain
dari rinduku
yang jatuh ke bumi.
English
You say,
“Time will heal.”
I smile—
for I know
time merely teaches
how to live
alongside loss.
Your love is not a knife;
it is rain.
It does not kill at once,
but slowly
floods every space
until my breath
learns how to drown.
I stand silent
at the window,
watching the rain
that refuses to stop,
and realize
that every falling drop
is another form
of my longing
touching the earth.
—
VII.
Keadaan | Circumstance
Indonesia
Di antara kita
ada jarak
yang tak bisa dijembatani:
bukan oleh kata,
bukan oleh janji.
Ia bernama keadaan,
dan ia tak pernah peduli
pada seberapa dalam
kita saling mencintai.
Kau memeluk takdirmu
seperti langit
memeluk fajar,
sementara aku
hanya bayangan
yang tertinggal
di sore hari.
Aku memeluk bayangmu
di dinding ingatan,
sementara tubuhmu
menjadi milik
hari lain.
Cinta kita
bukan salah waktu,
melainkan korban
dari realitas
yang tak berbelas kasih.
English
Between us
lies a distance
no bridge can cross:
not words,
not promises.
Its name is circumstance,
and it has never cared
how deeply
we love.
You embrace your fate
the way the sky
embraces dawn,
while I am
only a shadow
left behind
in the afternoon.
I hold your silhouette
on the wall of memory,
while your body
belongs
to another day.
Our love
is not wrong in timing,
but a casualty
of a reality
without mercy.
—
VIII.
Pilihan yang Sudah Ditakdirkan | A Choice Already Written
Indonesia
Seandainya cinta
bisa dipilih,
aku tetap memilihmu—
bahkan jika akhir
sudah tertulis
sebagai perpisahan.
Sebab mencintaimu
adalah satu-satunya cara
aku mengenal diriku
sebagai manusia yang utuh:
rapuh, namun berani;
hancur, namun masih
ingin hidup.
Kau adalah kesedihan
paling indah
yang pernah kupeluk
tanpa rasa takut.
Dari tangismu,
aku belajar
apa arti keberanian.
Dari kepergianmu,
aku belajar
arti kesetiaan.
English
If love
could be chosen,
I would still choose you—
even if the ending
were already written
as farewell.
For loving you
is the only way
I know myself
as a whole human being:
fragile, yet brave;
broken, yet still
wanting to live.
You are the most beautiful sorrow
I have ever embraced
without fear.
From your tears,
I learned courage.
From your leaving,
I learned fidelity.
—
IX.
Angin yang Menyebut Namamu | The Wind That Speaks Your Name
Indonesia
Aku akan pergi
tanpa benar-benar
meninggalkan.
Sebab cinta
yang paling setia
adalah yang tahu
kapan harus diam.
Aku tidak lagi
mengejarmu,
namun aku tetap berjalan
ke arahmu
di dalam doa-doa
yang tak bersuara.
Jika suatu hari
kau mendengar angin
menyebut namamu
dengan suara gemetar,
itu aku—
yang masih belajar
mencintaimu
tanpa memilikinmu.
Aku adalah gema
dari langkahmu
yang jauh.
Aku adalah senja
yang masih menunggu laut
meski tahu
ombak tak akan kembali.
English
I will leave
without truly
departing.
For the most faithful love
knows
when to remain silent.
I no longer
chase you,
yet I keep walking
toward you
inside prayers
without sound.
If one day
you hear the wind
trembling
as it speaks your name,
that is me—
still learning
how to love you
without possessing you.
I am the echo
of your distant steps.
I am a twilight
still waiting for the sea,
even knowing
the waves will not return.
—
X.
Doa yang Tak Meminta Balasan | A Prayer That Asks for Nothing
Indonesia
Dan bila kesedihan ini
akhirnya menjadi tenang,
biarlah ia berubah
menjadi doa
yang tak meminta balasan.
Aku mencintaimu
seperti puisi
mencintai makna:
tak selalu dimengerti,
namun selalu jujur.
Cinta kita
tak pernah selesai—
ia hanya berhenti
di tempat paling sunyi
di dalam hati,
tempat kenangan
tak lagi menangis,
namun juga
tak pernah benar-benar sembuh.
Biarlah cinta ini
menjadi batu kecil
di dasar sungai waktu—
tetap ada,
meski tak terlihat.
Biarlah aku
menjadi bayangan
yang selalu menemanimu,
meski kau tak lagi sadar
bahwa aku
masih di sana.
Sebab ada cinta
yang ditakdirkan
bukan untuk dimiliki,
melainkan untuk membuat kita
mengerti
betapa dalamnya
manusia bisa merasakan.
Dan di sanalah aku—
berdiri di antara
senja dan hujan,
antara kenangan dan doa,
antara mencintai
dan melepaskan,
menyadari bahwa
segala yang indah
selalu berakhir
dalam diam.
English
And when this sorrow
finally grows calm,
let it become a prayer
that asks
for nothing in return.
I love you
the way a poem
loves meaning:
not always understood,
yet always honest.
Our love
never truly ends—
it only stops
in the quietest place
within the heart,
where memories
no longer cry,
yet never
completely heal.
Let this love
be a small stone
at the riverbed of time—
still there,
though unseen.
Let me
be a shadow
that always accompanies you,
even when you no longer realize
that I remain.
For there is a love
destined
not to be possessed,
but to teach us
how deeply
a human heart can feel.
And there I stand—
between twilight and rain,
between memory and prayer,
between loving
and letting go,
understanding that
all beautiful things
eventually end
in silence.
—
Sumatera Barat, 2025