May 26, 2026
lina3

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina "Apalagi yang Kau Cari, Kawan?". Sumber Gambar: Starcom Indonesia Artworks No. 925.3 Assisted by AI.

Puisi: Leni Marlina

Apalagi yang kau cari, kawan?
Bukan sekadar bayang-bayang waktu
yang mengajarkan kita cara melipat malam,
tapi detak rahasia
di dalam rongga jagat—
di mana bintang jatuh bukanlah keindahan,
melainkan retakan kecil
yang menelanjangi ketiadaan.

Langkahmu adalah paradoks:
kau menapak di tanah tanpa batas
sambil membangun labirin.
Lorong hidupmu terlihat sebagai teka-teki
yang tak butuh jawaban.
Kata-katamu bukanlah aksara biasa,
melainkan fosil yang menyimpan
kereta api waktu,
mengantar kita ke masa lalu
di mana kita lahir dan mengenal dunia.

Sejarahmu, kawan, bukan pahatan batu,
melainkan arus liar
yang mengalir di bawah kota seribu nama.
Kadang kau bagaikan debu yang terbang
tanpa tujuan,
tapi dari tiap butirnya,
tumbuhlah semesta kecil
di hati yang hampir kehilangan bentuknya.

Kawan, mereka sering bertanya,
Apa itu kebaikan, kasih, cinta?
Mungkin hanya gema
di koridor ruang hampa,
atau mungkin bara
yang tak pernah padam
meski terbenam dalam ribuan malam.
Hanya mereka yang pernah memeluk gelap,
yang tahu caramu mencium terang.

Kawan, kau bukanlah pengejar fajar—
kau adalah kejut yang menyobek malam,
mencipta celah
bagi matahari untuk bertanya:
Apakah aku sudah siap untuk terbit?

Kau tidak menulis dunia,
kau membakarnya hingga jadi abu.
Lalu dari abu itu,
kau tempa sayap-sayap baru,
dengan warna yang tak bisa dikenali
oleh mata manusia biasa.

Karyamu bagaikan teka-teki berlapis,
labirin di dalam labirin.
Karyamu tak lagi membutuhkan pembaca,
karena ia sudah bertransfomasi menjadi cermin,
memantulkan siapa pun yang berani
melihatnya terlalu dalam.

Apalagi yang kau cari, kawan?
Kepuasan yang tak bersuara,
seperti gelombang
yang diam-diam merajut pantai,
atau mungkin hanya hening,
hening yang memakan dunia
hingga tak ada yang tersisa
selain puisi?

Dan begitulah caramu, kawan,
melukis kehidupan.
Bukan dengan warna,
tapi dengan ruang kosong,
di mana siapa pun dapat menuliskan dirinya
dan hilang di dalamnya, serta kembali terlahir dengan semangat baru.
Aku bangga dan terharu padamu, kawan.

Canberra, Australia, 2012

/2/

Tak Ada yang Abadi di Dunia

Puisi: Leni Marlina

Hujan turun dengan bahasa rahasia,
mengetuk jendela waktu yang hampir usang.
Kau berdiri di ambang pintu,
meraba udara yang penuh kenangan.
Namun, kawan, tak ada yang abadi di dunia—
bahkan pelangi memudar sebelum malam tiba.

Lihatlah daun-daun jatuh di jalan setapak,
mereka berbisik tentang waktu yang tergelincir.
Angin membawanya pergi,
ke tempat di mana segala yang dicintai
menjadi debu dan cerita.

Kita menggenggam hari seperti pasir,
tergelincir di sela jari,
namun tetap mencoba,
menciptakan keabadian dari jejak yang rapuh.
Apa yang kita tinggalkan, kawan,
jika segala hal hanyalah bayang-bayang
yang menari di dinding senja?

Gunung pun akhirnya runtuh,
lautan kehilangan batas,
bintang jatuh ke dalam gelap
tanpa janji untuk kembali.
Namun di antara kehancuran,
ada sesuatu yang tidak terucapkan,
seperti nyala lilin di malam panjang.

Kita hidup bukan untuk abadi,
melainkan untuk menjadi.
Menjadi cahaya kecil di samudra gelap,
menjadi suara lembut di badai yang mengaum,
menjadi jembatan
di antara jurang-jurang kehilangan.

Tak ada yang abadi di dunia,
tapi langkahmu bisa menggetarkan bumi.
Tak ada yang kekal,
tapi cintamu dapat mengukir bintang
di langit jiwa mereka yang terluka.

Dan ketika angin terakhir berbisik,
menghapus jejakmu dari pasir,
maka biarlah mereka tahu,
kau pernah ada,
seperti hujan yang menyentuh bumi
dan meninggalkan wangi kehidupan.

Canberra, Australia, 2012

/3/

Jejak Tanpa Nama

Puisi: Leni Marlina

Apa yang kau titipkan pada angin, kawan?
Kisah-kisah yang tak selesai,
atau pesan yang enggan kau ucapkan?
Langkahmu mengguratkan peta baru,
jalan yang tak direncanakan oleh tangan fana.

Kau bukan sekadar pelintas,
kau seperti pengrajin bayangan,
mencetak makna dari serpihan cahaya,
menyulam waktu dengan keheningan
yang hanya dimengerti oleh jiwa yang pernah tersesat.

Di bawah langit yang berganti warna,
kau membangun istana tanpa pilar,
menggantungkan mimpi di atap dunia,
tempat malam menunduk hormat,
menghargai keberanian yang tak terucapkan.

Karya-karyamu bukan nyanyian biasa,
melainkan riak kecil yang menjelma ombak,
menghantam pantai-pantai tak bernama.
Dalam setiap getar, ada cerita yang tak terkatakan,
dunia-dunia yang hanya bisa kau rengkuh.

Kawan, apa yang kau tunggu di tikungan waktu?
Angin tak menunggu perintah,
ia hanya tahu cara membawa suara jauh,
ke tempat di mana kenangan terjaga,
di mana laut menyimpan rahasia terdalammu.

Jangan kau tanyakan siapa yang mendengar,
karena langkahmu adalah jawaban.
Jejak tanpa nama itu adalah milikmu,
menyusuri ruang kosong yang kau ciptakan,
membangun jembatan antara yang ada
dan yang belum terbayangkan.

Setiap kali kau pergi, dunia kami terasa lengang,
namun jejakmu tetap berdetak
di bawah cahaya yang tak pernah padam.
Kau bukan sekadar penutur,
kau adalah kehidupan yang terus mengalir,
tanpa garis akhir.

Maka, kami biarkan kau berjalan lagi,
menyisir sunyi yang penuh arti,
menemukan fajar yang menunggu,
di sudut langit yang tak pernah kau sebutkan.

Canberra, Australia, 2012

/4/

Mata yang Tak Terpejam

Puisi: Leni Marlina

Kau, penunggu sunyi,
apa yang kau lihat di seberang cahaya?
Bukan bayangan, bukan bentuk,
melainkan gema—
suara yang melintasi lembah waktu,
menyampaikan rahasia yang tak ingin didengar.

Di malam yang memeluk bumi dengan selimut gelap,
matamu tak terpejam.
Kau menenun bintang dari air mata,
menyulam luka menjadi kanvas,
di mana setiap garis adalah jejak
dari hati yang tak henti bergetar.

Langit tidak pernah bertanya,
mengapa kau tetap di sana,
menggenggam gelap seolah itu lilin,
membentuk dunia yang tak terbayangkan.
Namun kau tahu,
ada cahaya yang lahir dari kesunyian,
ada arti di balik kehampaan.

Kawan, adakah dunia yang kau cari?
Atau kau adalah dunia itu sendiri,
mengalir tanpa batas,
mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan waktu?

Langkahmu bagaikan nada yang melintasi zaman,
menggetarkan jiwa-jiwa yang kehilangan arah.
Kau tidak pernah mengejar fajar,
karena kau adalah sinar
yang menerangi mereka yang buta dalam keraguan.

Angin membawa namamu,
namun tak pernah menyebutnya.
Karena kau bukan nama,
kau adalah cerita,
yang bersembunyi di antara daun-daun jatuh,
di dalam tanah yang terus berdenyut.

Kau adalah mata yang tak terpejam,
penjaga malam yang melahirkan hari,
tanpa meminta tepuk tangan.
Dunia mengenalmu dalam hening,
di mana kehadiranmu adalah bahasa
yang tidak memerlukan kata.

Maka berjalanlah, penenun cahaya,
di lorong-lorong gelap yang kau jadikan kanvas.
Karena hanya kau yang tahu,
bagaimana mengubah luka menjadi pelangi,
dan keheningan menjadi kekuatan hati.

Canberra, Australia, 2012

/5/

Kawanku, Sang Pengelana

Puisi: Leni Marlina

Kawanku, aku melihatmu di antara bayang,
mengusung rindu pada sesuatu yang tak bernama.
Langkahmu seperti daun gugur,
menari tanpa arah,
namun selalu jatuh di tempat yang benar.

Kau bukan sekadar pengembara,
kau adalah angin yang membawa aroma tanah jauh.
Di matamu, ada cerita yang tak pernah selesai,
penuh teka-teki, penuh sunyi.
Apa lagi yang musti kau temukan, kawanku?
Mungkin bukan jawaban,
tapi cermin yang memantulkan dirimu sendiri.

Kau berkata, “Hidup ini bukan perhentian.”
Lalu aku mengerti:
kau adalah sungai,
mengalir tanpa menunggu,
melupakan tepi,
memeluk laut dengan cinta tanpa syarat.

Kawanku, pengelana tanpa peta,
jejakmu adalah doa
yang dititipkan kepada tanah.
Langkahmu menggambar lingkaran takdir,
yang tak semua mata mampu membaca.

Namun lihatlah, dunia mendengarkanmu.
Dalam hening malam,
bintang-bintang berkerumun di atas kepalamu,
seolah ingin menjadi saksi
bagi keberanianmu melawan kesementaraan.

Jangan takut pada waktu, kawanku.
Kau bukan miliknya.
Kau adalah lagu,
yang tetap berdenting
meski senar-senar kehilangan suaranya.

Teruslah berjalan,
karena kau bukan hanya mencari,
kau sedang mencipta jalan baru
untuk mereka yang kehilangan arah.
Dan meski kau sendiri tersesat,
jejakmu adalah lentera
bagi jiwa-jiwa yang menunggu terang.

Canberra, Australia, 2012

————————

Biografi Singkat

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani program master of Writing and Literature di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital bulan Januari 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni Marlina telah mendirikan sekaligus mengetuai sejumlah kecil komunitas sosial, bahasa, sastra, literasi dengan platform digital meliputi:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)